Tuesday, October 31, 2017

Cerpen


Amukan Badai
Kami menyingkirkan batang pohon dari jalan, usai menimpa sepasang kekasih yang tengah berteduh. Pohon Trembesi itu harusnya ditebang sejak dulu, karena rawan tumbang juga ranting keropos. Namun, beberapa warga percaya khususnya sesepuh desa, terdapat keluarga lelembut bermukim di sana. Yang sama halnya dengan manusia, enggan atau bakal marah bila diganggu. Hanya golongan muda tak peduli tahayul, tapi tetap saja manut pada orang tua. Terlepas dari keras kepala juga minta dituruti. Kakekku berkata kualat jika membantah. Saat dua orang kurang beruntung itu ditemukan Hansip, nafas mereka berhenti. Polisi lekas memberi garis kuning di sekitar TKP. Peristiwa tersebut jadi tontonan warga dan membuat lalu lintas macet. Ambulan datang tak berselang, salah satu anggota keluarga korban keluar dari kerumunan. Wanita itu histeris, jeritannya mirip suara burung pemakan bangkai. Suaminya terbujur kaku, pria tambun dengan rambut jarang—nyaris botak. Disampingnya seorang wanita muda tak mengenakan apa-apa selain ditutupi kain putih.
“Kenapa kau mesti mati bersama wanita sialan ini!” umpatnya. “Apa kubilang, dari awal sekretarismu jalang.”
Si mati tetap bisu meski istri merintih sembari mengeluarkan kekesalan dengan memukul badannya. Orang-orang pergi setelah bosan menyimak drama keluarga juga reporter sexy dengan rambut cokelat. Roknya terlalu pendek, tak cocok untuk musim penghujan. Wajah Elma begitu kaku dan serius ketika membawakan laporan berita. Umurnya mungkin masih tiga puluhan, tapi tampak lebih dari itu. Para pedagang kaki lima tak bergairah, pengunjung mulai sepi kembali. Berita tersebut muncul usai salat Maghrib, di luar hujan mengguyur deras dusun. Tak seorangpun mau melawan badai juga petir yang menyambar. Jika kondisi demikian terus berlanjut, tanaman padi bakal terendam, terancam gagal panen. Itu masih mujur, tahun lalu semua orang mengungsi, air sungai meluap sampai dada orang dewasa. Sampah-sampah hanyut bersama batang pohon juga bangkai binatang. Sejak penambang batu kapur datang dengan truk, musim hujan tak lagi bersahabat. Dari dapur, ia membawa nasi goreng juga segelas teh hangat. Lalu, duduk di kursi meraih remot dan mengganti saluran. Mulai pagi hingga kini, kami tak bicara. Sari tengah Mens, itu artinya rumah dalam kondisi tidak stabil. Aku lebih banyak diam, menghindari cek-cok atau membuatnya gondok. Istriku mirip singa dengan surai berantakan, rambut jerami, entah ada perkara apa. Aku butuh memahami suasana hatinya ketika ingin bertanya, sebab jika tidak hanya gerutuan kudapat. 
“Kenapa diam, masakanku tidak enak?”  aku menggeleng. “Aku memang tidak pintar masak, tapi aku mau belajar demi kamu dan anak-anak.”
Dalam hati kurapal doa agar situasi ini lekas berakhir.
“Kamu lagi mikir apa, mantanmu?” ucapnya dengan tatapan tajam.
“Enggak.”
“Beneran?” kali ini bulir bening hendak menetes di sana. Kudekatkan tubuhnya ke pelukan, namun Sari menolak.
“Kamu tahu, aku sudah ketemu banyak wanita, termasuk dirimu.”
“Jadi kamu punya simpanan?”
“Bukan begitu. Makanya dengerin dulu, orang ngomong jangan dipotong.” Ia pun kembali duduk, sambil memalingkan wajah.
“Aku bukan orang kaya, punya pangkat apalagi prestasi membanggakan. Motor butut, rumah saja warisan orang tua. Mustahil ada gadis mau mendekat.”
“Berarti aku bodoh mau sama kamu?”
Aku menepuk jidat sambil mengacak-acak rambut.
Tiba-tiba listrik padam lekas kucari lilin juga korek api. Sari masih bungkam, seolah suaminya pesakitan siap menunggu eksekusi esok hari. Badai masih berhembus tak kunjung tenang malah kian lebat. Dalam kegelapan jemari mencari pegangan, hingga menyentuh permukaan halus nan lembut. Napas wanita itu menghangatkan kuping, kalimat juga kata mengalir lancar.  Ia menuntunku persis pengembala membawa pulang kerbau ke kandang. Tiada yang bisa dilihat, gelap gulita, hanya ada suara rintik hujan menghantam atap.
Hujan seperti kata orang, membawa kenangan lampau hadir kembali. Entah itu suka maupun duka. Kota ini terlalu tenteram kataku pada suatu masa. Kau pun mengamini. Meski begitu tak pernah kusesali hidup juga tumbuh di sana. Kita pernah menghabiskan waktu seharian, berziarah ke makam raja-raja juga petilasan. Seorang model tengah berpose dalam balutan kebaya modern juga riasan tebal. Sementara si laki-laki membawa payung guna menghalangi sinar matahari. Fotografer mengarahkan wanita itu dengan terampil dan tak makan waktu. Ia seperti sudah mafhum watak bonekanya sendiri. Senyuman hanya akan nampak di kertas berukuran 3x4 atau lebih lebar dari itu. Setelahnya berubah masam juga gerutuan terus-menerus. Di bawah pohon Maja yang kau kira sebagai Jeruk Bali, kuistirahatkan kaki juga tangan yang pegal usai berkendara. Aku memang bodoh, tak pernah berpikiran panjang, sejujurnya badan masih dalam kondisi kurang baik. Tapi tetap saja memaksakan diri untuk berangkat. Kau pun akhirnya mau tak mau, mengoleskan balsam di sekitar leher yang kaku bagai batu. Saat itulah kulihat sesuatu yang beda di dua bola matamu, seakan aku tersedot ke dalam gelap malam. Kuajak untuk berswafoto namun kau menolak. Seketika diri jadi malas  melakukan apa-apa.
“Aku tak ingin membuat kenangan. Kenangan yang mungkin nanti membuatku sakit atau menangis sendiri di pagi hari.” belamu.
“Aku tahu.”
“Semuanya tidak menjadi sederhana, malah kian rumit.”
“Kau mau aku melakukan apa? Mengajakmu kawin lari?” tantangku.
Jawaban itu ternyata memancing butiran bening luruh dari ceruk matamu, lekas kuhapus dengan sapu tangan.
“Jangan mengatakan itu lagi. Hanya membuatku makin sedih.”
“Kau pantas bahagia. Kau punya pilihan, jangan diam saja menerima keadaan.”
“Jika tak kulakukan, muka kedua orang tuaku mau ditaruh di mana?” ucapmu sambil menahan tangis. Kuembuskan napas panjang, tak ingin memperpanjang perdebatan.
***
Dalam gedung menunggu hujan reda. Beberapa pasang muda-mudi beradu bibir juga berdekapan depan umum. Satpol PP siap meringkus kapan saja. Bioskop tampak ramai, ada film baru tengah rilis. Antrian mengular sampai keluar. Kau memandangi deretan poster serta judul, film barat tak membuat dirimu ingin membeli tiket. Menurutmu, Koko Bruce Lee atau Jackie Chan lebih keren ketika mengeluarkan jurus Kungfu. Mereka memang hebat, tak mau menggunakan pemeran pengganti di tiap cerita yang dimainkan. Hal itu membuat pihak asuransi ogah menjamin bila ada kecelakaan, meski dibayar premi tinggi. Ibu pertiwi tak lupa melahirkan Iko Uwais juga Yayan Ruhiyan yang tangkas bersilat sampai mendapat sambutan dunia. Namun, sungguh malang nasibku, kau ajak menyaksikan film horor. Bukan pengecut, tapi sungguh, kenapa manusia harus membayar untuk ditakut-takuti? Kau tersenyum manis. 
“Aku tak tanggung jawab bila kau mimpi buruk.”
“Bilang saja kamu penakut.”
“Aku sudah memperingatkan, jangan salahkan aku.”
Sepanjang cerita, aku lebih banyak menerka di mana mahluk tak kasat mata itu muncul. Musik yang serba mengagetkan juga kadang terdengar kencang setelah lirih—membuat jantung rasanya ingin copot saja. Depan kursi, ada seorang lelaki tua berkemeja, gendut tengah mendengkur. Tidurnya nyenyak meski penonton berulang kali menjerit juga berteriak. Suara bayi menangis sesekali mengganggu keasyikan. Terkadang ada yang turun ke toilet hingga menutupi layar sejenak. Aku sama sekali tak menikmati pertunjukan, lebih banyak menutup mata. Pulang dari sana, kucoba memejamkan mata barang beberapa kejap. Namun, gagal karena kau menelpon. Dalam otak berbagai kemungkinan muncul.
“Apa kubilang, dinasehati ngenyel sih.”
“Aku gak mimpi, Ham.”
“Terus?”
“Ada sesosok bayangan dengan mata merah menatapku dari kolong tempat tidur.” terdengar suara di seberang putus-putus.
“Yasudah, nyalakan lampu baca doa.”
Daratan diselimuti butiran putih tebal, air menjadi padat dan semua orang sibuk mencari cokelat hangat. Suhu turun sedemikian rupa, hingga asap keluar dari mulut mirip seekor naga. Listrik padam, pasokan air pun terhenti. Sinyal telepon tak bisa digunakan. Awalnya, kupikir hujan semalam takkan menjadi bencana global. Nyatanya kehidupan kembali seperti jaman es. Orang-orang memakai jaket tebal dari kulit binatang. Mulai belajar mengasah tombak dan melubangi dinding es guna menangkap ikan. Bersaing dengan beruang kutub yang jauh lebih besar dan ganas ketika kelaparan. Saat keluar dari rumah, pemadangan timbunan salju menjadi lumrah, dunia mungkin sudah kiamat. Tak seorang pun selamat. Matahari kian dekat. Saatnya untuk menghakimi para penjahat. Tanpa sadar kau lenyap dari sampingku. Orang-orang sibuk memikirkan diri sendiri. Aku pun berjalan di permukaan es yang dulunya sebuah danau luas nan dalam. Kakiku tak sengaja berpijak pada lapisan tipis, sekejap tubuh ini kuyup juga disengat hawa dingin. Teriakan minta tolong menjadi tidak berguna. Dan, pemandangan pun beralih muka Sari tengah marah.
“Kalau tidur TV itu dimatikan, kebiasan memang!” keluhnya.
Jeruk Macan, 9 Agustus 2017

No comments:

Post a Comment