Esensi
dari Menulis
Sebagian
orang menganggap remeh pekerjaan kuli tinta sebagai kegiatan sia-sia tak
menghasilkan materi. Sebagian lagi menganggap menulis adalah hal yang sering
dikerjakan para perempuan. Dunia kepengarangan, dunia sunyi yang banyak dijauhi—jauh
dari ingar-bingar suara gelak tawa manusia. Bagai seorang pertapa yang menunggu
datangnya ilham. Filosof yang mencoba memahami kehidupan dari kejauhan,
memandangi alam semesta yang fana penuh ilusi. Pemikir ulung yang merangkai
suatu konsep untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Itulah gambaran penulis
yang mencuat di dalam tempurung kepala saya. Lalu, apakah tujuan dari menulis
sendiri? Sastrawan kondang Seno Gumira Ajidarma pernah berkoar: “Ketika
jurnalisme dibungkam sastra harus bicara.” Itu adalah salah satu dari sekian
banyak maksud dalam menulis. Para kiai menulis sebuah kitab bagi muridnya agar
senantiasa dapat dinikmati. Kitab tersebut mengajarkan ilmu yang bermanfaat,
mengalirkan pahala menerus pada si empunya ilmu hingga liang lahat. Menulis
juga dapat memberikan informasi bagi orang lain, entah itu berita baik atau
buruk. Terakhir, menulis cerita atau sastra untuk dibaca banyak orang. Kalau
dikaji lebih jauh tujuan dari menulis ada berbagai macam, namun kali ini saya
menekankan pembahasan pada esensi dari menulis. Dalam hal ini bagaimana membuat
cerita yang menarik. Cerita dalam bahas Jawa, Crita, memiliki kepanjangan Sacrit
tapi nyata. Yang artinya sedikit tapi nyata. Tidak menutup kemungkinan
suatu cerita berdasarkan kejadian yang pernah terjadi atau akan berlangsung di
masa mendatang. Apa yang membuat sebuah cerita menjadi menarik? Judul yang
membuat pembaca penasaran dan kalimat pembuka yang dapat menggiring sampai
akhir cerita. Sementara faktor lain
dapat dipelajari sendiri secara mendalam. Ada dua gaya menulis yang cukup
dikenal: surealis dan realis. Surealis menekankan pada keindahan kalimat atau
kata puitis bermakna ambigu dan imajinasi tanpa batas. Sedangkan realis
berkebalikan dengan surealis, berfokus pada kata atau kalimat jelas dan mudah
dimengerti. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Surealis lebih banyak dipuji dan dikritik
kritikus sastra sebagai karya yang bermutu dan berkualitas. Contoh: prosa yang
memakai judul surealis; Dongeng Hitam karya
Yetii a.ka dll. Karya realis lebih mudah dimengerti pembaca dan melekat dalam
ingatan contoh prosa karangan Seno Gumira Ajidarma berjudul Pelajaran Mengarang. Menceritakan
seorang anak kecil diminta gurunya menulis karangan tentang ibunya yang
berprofesi sebagai pelacur. Selain novel ada karya sastra yang memiliki
peminatnya sendiri, cerpen. Kalau boleh saya katakan sastra koran, cerpen
biasanya muncul di surat kabar saban hari minggu. Banyak penulis pemula juga
kawakan berlomba-lomba mengirim karya untuk dimuat dan mendapat honor.
Persaingannya ketat apalagi untuk surat kabar nasional dan sudah mempunyai nama
mentereng. Sebagian yang menyerah karena tulisan tak kunjung dimuat memilih
koran lokal. Dan, jika sudeah dimuat dan namanya muncul di koran dapat
berbangga diri dengan pencapaian. Sebagian penulis pemula berkeyakinan bahwa
kalau tulisan sering dimuat di koran boleh dikata hebat. Bisa membuat atologi
cerpen nantinya. Apakah mereka tidak sadar atau terlena? Karya mereka seperti
barang kodian atau saking banyaknya bisa diloakkan. Penulis pemula sering
berfokus pada kuantitas bukan kualitas. Saya juga tergolong penulis pemula,
tulisan jauh dari kata bagus—masih terus belajar dan mengasah diri. Bila
penulis pemula menghadapi masalah kuantitas dan kualitas. Penulis senior
mengalami hal yang lebih sukar lagi, dirasa atau tidak kualitas seseorang akan
menurun dari waktu ke waktu. Para penulis harus tentu membaca agar menambah
amunisi untuk menulis. Berusaha untuk mempertahankan kualitas atau
meningkatkannya. Singkatnya, menulis itu tentang cara pola pikir sesorang.
Semakin tulisan sederhana dan mudah dipahami begitulah representasi penulisnya.
Jeruk Macan, 17 Januari 2016
Radar Mojokerto, 13 Maret 2017