Wednesday, March 21, 2018

Cerpen


Kawanan Sapi
Saya melihat hewan bertanduk itu memamah rumput di bawah pohon apel. Ia makan lahap buah. Saya sudah mengklakson sampai kesal, namun sapi tak bergerak malah anteng menikmati makanan. Saya tak tahu pemilik mereka siapa, ia musti disalahkan atas keterlambatan menjemput Mae. Kotoran bertebaran, membuat jijik juga mual pengguna jalan. Dulu, saya pikir warna di badan mereka ulah si pemilik berbekal kuas juga cat kaleng. Pendapat lain, punggung itu dibakar agar timbul warna gosong mirip jelaga pantat panci. Saat teman-teman mendengar pendapat saya, mereka tertawa terpingkal-pingkal, seolah sedang mendengar lelucon. Saya merasa sebagai orang paling bodoh di dunia, tak mengerti apa yang sudah terjadi. Sapi itu menyingkir dari aspal sambil mengais sampah, memasukannya ke mulut lalu memuntahkannya kembali untuk ditelan. Saya menginjak gas lebih dalam, kabur dari kemacetan. Taman sudah dijangkiti pasangan kekasih juga para pedangang menawarkan panganan. Bianglala raksasa berputar, di sana saya menghabiskan malam bersama Mae. Ia mencium saya dan hidup jadi lebih membingungkan. Pasar malam memang membawa hal-hal ajaib. Sampai kantor, wanita itu masih belum muncul dari pintu. Mendung mulai merayap, langit berubah gelap. Mobil parkir dekat musola kecil tersembunyi juga toilet. Baunya tak karuan, kalau bukan karena terpaksa orang takkan masuk. Saya pikir semua wc mencerminkan manusia itu sendiri. Tempat ibadah itu memiliki rak kecil untuk menaruh kitab, sarung juga mukenah. Jam sudah masuk waktu magrib, tak seorang pun membangunkan saya yang ketiduran. Kami, saya dan Mae sudah menjalin hubungan selama enam tahun. Orang tua telah saling kenal juga bertemu. Mereka mendesak untuk  menikah. Menikah adalah perkara gampang-gampang susah. Menjalani hidup bersama satu orang sampai mati. Ibarat kata punya satu kue besar dan jatah tinggal separuh, separuhnya untuk orang lain. Satu kue itu akan terus berkurang bila ada penghuni lain. Mae sependapat, ia belum siap terutama karena karirnya masih cemerlang. Ia wanita yang keras kepala juga mandiri dalam waktu bersamaan. Kaca matanya tebal, seperti ugly betty dengan kawat gigi, saya sudah menyuruhnya memakai kontak lensa terutama agar lebih enak dipandang. Seorang sekretaris tentu jauh lebih menarik ketika pandai bersolek. Mae keluar dari lift dengan wajah lelah dan tak bergairah. Saya membukakan pintu layaknya pria dalam drama negeri Gingseng. Mae senang menontonnya sampai larut malam. Sampai lupa mematikan lampu, sampai lupa pacarnya adalah saya. Sepanjang jalan ia bercerita banyak tentang harinya yang buruk. Rapat yang kacau, klien tak puas dengan kesepakatan dan ditambah direktur menyuntingnya sebagai istri simpanan. Yang terakhir membuatnya pusing dan ingin keluar dari tempat kerja. Saya selalu mendukung apa yang terbaik baginya, meski tak semua bisa diterima akal sehat. 
Kemarin, tiba-tiba Mae ingin operai plastik, mungkin terinspirasi aktris Korea. Sebagai pacar saya tak langsung memberi tuduhan macam-macam juga berlebihan.
“Kenapa kamu ingin operasi? Aku tak pernah mengeluhkan wajahmu. Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?” tanya saya, Mae menggeleng cepat.
“Bukan buat wajah.”                                                                                       
“Operasi kelamin.” Goda saya. Dibalas dengan tinjuan kecil di lengan.
“Aku ingin memerbesar ini.” telunjuknya menunjuk perkakas yang ia bawa ke mana-mana. Saya tertawa bercampur bingung mendengar alasan Mae.
“Malah ketawa, aku serius.” Ujarnya ketus.
“Maaf. Kenapa memang?”
“Di keluargaku semua wanita kebanyakan punya dada kecil.”
Saya menghela napas, sambil menutup jendela dan memasang sabuk pengaman.
“Kemarin ada sebuah berita di internet. Seorang wanita membunuh pacarnya ketika asyik bercinta. Kamu tahu dengan apa? Dengan payudara untuk membekap lelaki itu. Terang saja ia tak bisa bernapas dan polisi datang esok hari.”
Mae diam, seolah tak percaya dengan cerita saya barusan, tampaknya ia mengurungkan niatnya.
“Kalau kamu berani selingkuh, aku akan memerlakukanmu begitu.” Ucapnya singkat dengan senyum sinis.
Mobil melewati kampus, di sana saya pertama kali bertemu Mae. Ia masih lugu dengan dandanan cupu. Mahasiswa baru pulang kuliah, siap memenuhi warung kopi sepanjang jalan. Hewan itu masih betah melintasi jalan yang mulai lengang. Cahaya lampu redup, beberapa warung semi permanen berdiri, para pekerja tengah menjual diri. Kawanan sapi berjalan dengan langkah pelan sesekali memamah apa yang tercecer. Tak ada pengembala hendak menggeret tunggangan Dewa Siwa itu. Saya curiga orang-orang tak peduli. Mae kelihatan gopoh, mendapati mobil mandek. Ia menekan klakson guna mengusir hewan pemalas itu.
“Ayolah, cuk. Tidak jalan lain apa!” umpatnya.
Senja habis ditelan malam, tidak dicuri untuk alasan apapun, bahkan untuk pacar. Kami sampai  kosan Mae, penghuninya seolah punya mata tajam siap untuk menusuk kapan saja. Kos campuran itu didominasi mahasiswa juga keluarga kecil tanpa masa depan. Selain tiap hari ribut hanya untuk perkara sepele. Mae sendiri mengaku mendengar cek-cok dan bunyi perkakas rumah tangga dibanting. Tangisan anak kecil jadi ending dari itu semua. Saya duduk di kursi sambil menunggu Mae mandi. Saya keluarkan buku dari dalam tas cangklong, sebuah kumpulan cerpen dari penulis produktif. Ia seorang laki-laki cerewet—mungkin terlalu lama sendiri, memutuskan jadi pacar dari kesunyian. Penulis itu memiliki nama samaran untuk semua bukunya. Saya tak punya dendam tertentu padanya, selain penulis X memberikan bacaan menggerikan bagi otak. Jika diumpamakan, kalian takkan mau membaca untuk kedua kalinya. Tulisannya mirip iklan dalam televisi, penonton ingin itu berlalu tanpa pernah ingat sama sekali. Saya membeli bukunya di toko buku dengan potongan harga 99%. Diobral. Tak laku barang kali. Saking bagusnya stok masih lengkap, debu tebal hinggap pada sampulnya. Ada beberapa sudah diperkosa—plastiknya dibuka dengan paksa. Saya membaca buku itu bukan karena terinspirasi atau memuja sampah hasil pikirannya. Saya bahkan tak ingat judul cerpen penulis X yang membuat terkesan. Hambar, tawar, itu yang diperoleh setelah membaca. Saya rasa akan membakar buku itu setibanya di rumah. Selagi memedam kesal pada penulis X, Mae keluar dengan handuk membalut kepala. Bau Mae wangi, habis keramas sepertinya. Aroma melati menguar dari tubuh langsing nan semampai tersebut. Aku beranjak dari kursi, melompat ke kasur. Sambil menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Mae tersenyuum sembari memencet tombol lampu. Saya tak bisa melihat apa-apa. Gelap gulita. Lenguh wanita itu laksana lembu betina ingin kawin.
***
Sungai mengering, hanya tersisa kubangan air dan beberapa ikan melompat. Dari sana muncul tujuh sapi gemuk juga sapi kurus. Mereka berjalan beriringan sebelum akhirnya tanpa diduga sama sekali. Kawanan sapi kurus menyerang sapi-sapi gemuk, mereka bergelut diantara padang berdebu. Kawanan sapi krus berhasil menelan sapi gemuk diakhir pertarungan. Saya bangun, menceritakan mimpi buruk itu pada Mae. Ia tak peduli dan menarik selimut. Rambutnya terurai, mirip surai singa. Acak-acakan tak terurus. Saya tak bisa tidur dan terus terjaga sampai pagi hari. Mae bangun melihat saya seperti seekor panda dengan lingkaran hitam di mata.
“Itu hanya mimpi, tak usah dipikir serius, Ham.” Hiburnya, ia menyerahkan segelas susu cokelat. Susu sapi asli, bukan seperti semalam, ia menyodorkan miliknya.
“Andai aku bisa menganggapnya seperti itu.”
“Kau sudah gila apa?”
Saya diam tak menjawab, Mae geleng-geleng kepala. “Apa ini ada sangkut-pautnya dengan keputusanmu menjadi vegetarian?”
“Aku bukan tokoh bikinan Han Kang! Aku suka makan ayam goreng sesekali dan steak.”
“Lalu?”
“Mungkin di masa lalu, aku seekor sapi yang disembah dan dipuja karena berhasil memecah satu masalah. Bisa juga, aku tunggangan dewa di kahyangan!” cetus saya.
Saya tak pernah berpikir hanya makan sayuran atau rumput layaknya herbivora. Gaya hidup masa kini menuntut seperti itu, dulu perut tak semakmur ini.  Olahraga di pagi hari, seperti berkeliling komplek dengan sepeda atau lari tak cocok. Banyak anjing berkeliaran juga susah bangun pagi. Pergi ke tempat kebugaran tubuh beresiko, banyak laki-laki kekar berteriak seolah akan mengamuk. Dan, saya curiga mereka terlibat cinta lokasi. Akhirnya saya menjalankan diet, makan dua kali sehari memerbanyak sayuran juga buah. Awalnya memang berat, tapi hasilnya bisa dirasakan walau kawan di kantor sangsi. Matahari di barat akan tenggelam digantikan malam, gerombolan sapi berjalan beriringan memenuhi jalan. Pemandangan seperti ini membuat kesal para mahasiswa yang baru pulang. Saya ingin mengusir hewan keparat itu tapi secara tiba-tiba mereka memandang heran. Ajaibnya saya paham perkataan mereka.
“Siapa itu?”
“Entah. Dia bukan dari kelompok kita. Mungkin sapi yang terpisah dari kawanannya.”
“Biarkan saja jangan cari masalah!” Ucap sapi yang lebih besar.
Pohon-pohon apel berbuah dengan lebat, beberapa buahnya jatuh diseruduk sapi. Dari ujung jalan sebuah sedan menghalangi jalan, klaksonnya berbunyi berkali-kali. Si pengemudi memaki dan keluar sambil membawa sebatang kayu. Ia kemudian masuk mobil. bercakap dengan temannya. Mae bahagia, melempar senyum pada bosnya, sebuah cincin berlian melingkar manis di jemari. Saya ingin menanduk lelaki gendut itu, tapi apalah daya, saya memilih mengikuti kawanan yang jauh di depan.  


Jeruk Macan, 11 Januari 2018

Cerpen

Melayang
Entah sudah berapa lama keberangkatan ditunda. Calon penumpang sudah kehilangan kesabaran, berdiri depan loket sambil menuntut uang dikembalikan. Yang punya rejeki lebih tampak santai memegang gawai, menelpon bahwa rapat diundur, mereka kebanyakan memakai setelan jas. Aku mungkin terlalu sok tahu dengan menceritakan ihwal itu, sesungguhnya aku juga bagian dari pelanggan yang kecewa. Aku selalu menggunakan maskapai ini, karena terkenal murah dan selalu memberi kepuasan. Sebelum ada kejadian pesawat jatuh lalu tidak diketemukan. Penjual tiket meyakinkan ada masalah teknis sehingga jadwal kocar-kacir. Ia terlihat berkeringat juga cemas, takut sewaktu-waktu massa berubah pikiran dan membakar seisi bandara. Bosnya tentu tenang di pucuk kepemimpinan, tanpa takut dipukuli penumpang, tinggal terbang ke luar negeri. Meninggalkan segala masalah juga pesangon yang belum dibayar. Sementara orang-orang menggelar tikar, menyantap makan siang atau tidur dengan  keluarga. Aku duduk sambil mendengarkan lagu dan membaca buku. Buku dari penulis X sungguh luar biasa membosankan. Ditulis dengan terburu-buru juga diburu waktu. Editornya begitu kejam, demi meraup untung menerbitkan naskah mentah menjadi buku dan terpampang di etalase. Beberapa kata juga informasi di dalamnya simpang siur, mungkin penulisnya lebih suka menggunakan Google ketimbang pergi ke perpustakaan kota. Perpustakaan yang selalu sepi pengunjung karena keberadaan mall dekat stasiun. Penulis X aktif di sosial media membagikan pendapatnya dalam bentuk tulisan, kebanyakan hanya pendapat pribadi yang menyudutkan dan tak ingin dibantah. Pengikutnya ratusan, tak satupun dari mereka menolak pendapat penulis X bagai semua kata-katanya adalah firman Tuhan. Aku terkadang heran, masih banyak orang percaya bualan juga ucapannya. Aku hampir tidak bisa membedakan beda antara penulis X dengan motivator selain dia menulis cerita sedangkan motivator tidak. Waktu   sudah beranjak sore, orang-orang beberapa memilih pulang ketimbang jadi gelandangan. Mereka akan kembali esok hari menuntut hak juga ganti rugi. Terdengar umpatan dari kerumunan itu sebelum keluar dari pintu bandara. Beberapa yang tak punya uang untuk menyewa hotel tetap beratahan di lobi. Satpam sepertinya segan mengusir mereka, apalagi pemimpinnya sudah memberi perintah hanya mengawasi bukan mengusir. Wartawan sudah pergi sedari tadi setelah berhasil meliput warta. Tulisan itu masuk meja editor lalu redaktur penanggung jawab sebelum naik cetak malam nanti. Koran-koran akan penuh dengan sindiran terhadap pemerintah dan maskapai penerbangan. Aku yang mengantuk terbangun, mendengar bunyi pengumuman dari pengeras suara yang menyatakan bahwa penerbangan menuju Jakarta segera berangkat. Sontak aku lekas meraih tas dan mencari pintu keberangkatan. Namun, orang-orang sudah berkerumun, tak ingin ketinggalan pesawat. Sementara aku menarik napas dalam-dalam juga mengumpulkan tenaga. Dari dalam pesawat kupandangi langit malam yang gelap, gumpalan kapas tebal menyelimuti angkasa. Aku pikir bintang sudah teramat dekat dengan penglihatan tapi itu hanya ilusi saja. Bunyi mesin pesawat terdengar bising, seperti mixer untuk mengocok kue, namun ukurannya raksasa. Pramugari cantik jelita menyuruh kami memasang sabuk pengaman, ia memberi intruksi jelas. Mata laki-laki sibuk menelanjangi tubuh sintal nan jenjang itu, berharap saat mendarat di tanah, bisa membawa ke diskotek atau hotel melati. Berada di udara membuat perasaan was-was, terutama tak satu pun yang bisa menolong bila ada kerusakan mesin. Dan, seluruh penumpang jatuh menubruk gunung atau tenggelam di laut. Tim sar yang mencari puing bangkai pesawat beserta Black Box, belum mesti ketemu dengan jasad penumpang yang tak jelas nasibnya, dimakan hiu atau membusuk dipatuki gagak. Meski namanya kotak hitam, kotak itu bukan berwarna hitam, malahan jingga. Aku tak tahu siapa penemu teknologi tersebut, kurasa ia menderita buta warna. Oleh sebab itu Ayah-Ibu sedikit khawatir terutama berita akhir-akhir ini mengenai kecelakaan terbang. Mereka membujuk untuk ganti tranportasi lain saja. Sebenarnya pesawat bukan pilihan utamaku untuk bepergian, ia jadi opsi terakhir ditilik dari biaya juga keterdesakan. Aku sudah memesan tiket kereta jauh-jauh hari, berkaca dari perjalanan jogja untuk menghadiri acara kepenulisan. Kereta cukup nyaman untuk jarak jauh, bebas macet dan jarang terlambat jadwalnya. Tapi panitia menghubungi bahwa acara dimajukan, aku jadi kalang kabut hendak menukar tiket sayang tak ada jadwal yang sesuai. Kuputuskan naik bis dari terminal Bungurasih. Memang merepotkan, harus oper bus, setidaknya biayanya lumayan murah ketimbang naik pesawat. Belum keluar dari terminal, kendaraan berhenti karena beberapa supir bus menyetop. Ada demo menuntut kelayakan gaji dan tunjangan kesehatan bagi karyawan bus. Penumpang diturunkan paksa, aku merutuki kesialan yang datang beruntun. Begitulah hingga aku di sini melayang di atas awan, berharap selamat sampai tujuan. Di keluargaku yang pernah menaiki burung besi adalah paman dari Ayah, ia laki-laki jenius sampai perusahaan mengirimnya ke negeri Sakura. Paman bertugas mengelas bagian-bagian kapal untuk disatukan utuh. Gajinya memang cukup besar, namun hawa panas juga bau asap las membuat sesak napas dan badan terasa dipanggang dalam oven. Terakhir, Kakek-Nenek demi mengunjungi tanah nabi. Mereka sudah mengumpulkan uang juga waktu, menunggu keberangkatan yang semakin lama. Kami sampai khawatir keduanya tak punya umur panjang dan batal menjalankan ibadah haji. Aku pun sempat kagok ketika pertama kali terbang, seperti malam pertama saja. Meski faktanya aku belum menikah. Lepas landas tubuh seolah tertarik ke belakang karena dorongan pesawat. Peristiwa itu membuatku menderita jetlag beberapa saat. Mata rasanya tak ingin terbuka, tubuh seolah ditumpuki karung berkilo-kilo.
***
Nampaknya, satu-satunya keberuntunganku hari ini adalah bertemu Sinta. Ia salah satu tumpuan maskapai dalam pelayanan penumpang. Wanita itu ramah, senyumnya memikat dengan alis tajam mirip semut berbaris. Dari beberapa pramugari pesawat Sinta yang paling muda, masih kalah jam terbang dibanding Dona, pramugari dengan wajah ditekuk dan pandangan menusuk. Mungkin ia belum pernah pacaran atau tak ada seorang pria yang mau. Kalaupun ada laki-laki itu berkeluarga dan tak segarang waktu muda. Aku duduk di kursi sebelum toilet, Sinta datang membawa troli berisi beberapa hidangan juga minuman. Sayangnya aku makan sedikit sedari tadi. Perut mual, mungkin tak cocok dengan kondisi di atas. Kursi di sebelahku kosong, ia duduk mengembuskan napas panjang. Sinta terlihat tak nyaman dengan pekerjaannya. Bagaimana aku bisa menikmati jika dipelototi om-om mata keranjang? Ungkapnya. Aku hanya tertawa kecil melihatnya mengeluh, ia mengganti topik pembicaraan, bertanya ada urusan apa aku ke Jakarta. Kujawab saja, aku seorang penulis, penerbit memanggil untuk urusan kontrak buku juga ada sebuah festival sastra yang ingin kuhadiri. Sinta mengangguk pelan, demi kesopanan meski terlihat tidak mengerti. Ia pun kembali bertanya, kalau penulis sudah pasti digilai banyak wanita apalagi penyair. Aku tersenyum kecut, kukatakan terus terang ke padanya, bahwa aku masih melajang dan belum punya pasangan. Ia tak percaya sambil tertawa mengejek peryataanku. Aku tiba-tiba ingin ke kamar kecil. Di sana kulihat Dona masuk ke dalam, sayangnya itu toilet laki-laki. Aku tak percaya dia mahluk jadi-jadian. Karena penasaran kudekatkan telinga ke pintu. Ada suara laki-laki dan perempuan tengah mendesah. Sepertinya pertarungan seru terjadi di dalam. Kuputuskan kembali ke tempat duduk, ketimbang mengurusi urusan orang. Sinta yang melihatku seolah paham apa yang terjadi. Ia duduk sambil memainkan pemutar musik di ponsel. Dona sering melakukannya ketika tak punya uang, celetuknya. Hal serupa juga muncul di pikiranku, apa Sinta juga melakukan hal yang sama? Aku bangun dengan kepala pusing, tampak dunia beputar di mataku. Aku seperti bayi yang baru lahir ke dunia tanpa sehelai kain. Kulit rasanya sejuk, juga tubuh lemah tanpa memiliki daya. Di sampingku, Sinta masih terlelap dengan mulut terbuka. Perempuan cantik juga bisa begitu ternyata. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Seusai landing di bandara, mataku berkunang dan Sinta menawarkan bantuan. Kami sampai di hotel, memesan kamar lumayan murah. Dan, mungkin ini pengaruh minuman semalam. Aku tak pernah minum anggur sebelumnya, kebanyakan makan anggur. Awalnya kami masih waras dan bicara normal. Namun, pada akhirnya terjadi hal itu. Nasi sudah jadi nasi goreng, tidak bisa menjadi beras atau bubur. Aku mungkin harus membuka tabungan di ATM. Sinta bangun dengan gelagat malas, ia berdiri membiarkan tubuh itu disinari matahari pagi. Kemudian menuju kamar mandi, suara wanita itu seolah membangkitkan sesuatu di balik selimut. Sinta keluar dengan handuk melilit lalu memakai seragam pramugari. Aku melihat pemandangan itu dengan mata tak berkedip. Ia menatapku dengan kepala geleng-geleng juga senyuman mengejek. Aku pergi dulu, katanya. Aku segera sadar berusaha mencegah. Kalau kamu mau bertanggung jawab. Ada dua pilihan : mendatangi orang tuaku atau membayarku dengan uang layaknya Dona? Tapi satu yang kamu harus tahu wanita tak bisa menyerahkan sesuatu tanpa adanya cinta. Cinta terhadap materi misalnya. Sinta melenggang pergi dan menutup pintu.
Jeruk Macan, 14 Februari 2018 

Monday, March 12, 2018

Cerpen

Api Berwarna Hitam
Segalanya musnah, menyisakan asap hitam jua jelaga menempel puing-puing bangunan. Kerangka manusia telungkup, bau anyir darah di tanah. Sepertinya kemarin malam dewa kematian hadir. Tempat semua hal buruk bermuara. Bisa ditemui beberapa wanita berpakaian ketat berdiri depan pintu, menegur para tamu. Mereka tak sungkan terutama jika hari sudah gelap dan para lelaki berbadan tegap duduk di mulut gang. Orang-orang itu bermain kartu ditemani arak Jawa, gambar yang dirajah pada kulit bagai suatu imbauan untuk tidak cari mati. Kadang jika anak kampung lain berbuat onar, semua pemuda kompak membawa apa saja untuk membela kehormatan. Meski tak satupun dari gerombolan itu pernah ikut berperang. Tak jauh dari sana, sebuah tempat ibadah tegak berdiri di ujung kampung, ada guru ngaji juga anak kecil belajar kitab suci. Semua warga tahu bahwa perekonomian masih bergantung dari ramainya warung juga hiburan malam. Penjual makanan, usaha laundry sampai unit paling kecil tukang parkir mengais rezeki. Tiada niatan untuk mengusik, semua saling melengkapi bagai yin dan yang. Memang ada kalanya petugas berwajib datang, tapi di dunia ini tidak ada yang bisa dicegah kalau tahu caranya. Sebelum razia dilakukan, oknum memberi kabar untuk tak beroperasi sementara waktu. Selama itu para kupu-kupu beristirahat sambil merawat tubuh yang mulai rapuh. Sedang Mami mereka berusaha memerkecil kerugian ketika mereka tidak melayani pelanggan. Aku melihat ada yang berbeda dari pria itu, meski sering aku hanya berbasa-basi pada setiap tamu yang datang. Kadang bila beruntung informasi mengenai keburukan pejabat bisa kudapat dengan gratis dari mulut si ajudan. Pria itu tidak banyak bicara ketika pertama kali datang. Matanya memandang sekeliling ruangan seolah menelanjangi setiap sisi juga kolong rumah. Ia mengenakan jaket kulit hitam legam dengan sepatu boot berwarna serupa. Dari caranya berpakaian mengingatkanku akan anggota klub motor jalanan, ditambah kaca mata hitam. Ah, bukan. Pria itu lebih mirip Arnold Schweisneger dalam Franchise film Terminator. Ia berbicara singkat juga padat seolah sedang menghemat tenaga.
“Siapa namamu?” Tanyaku sambil meraih batang tembakau sebelum akhirnya dirampas olehnya.
“Aku memiliki banyak nama Nona, bergantung di mana aku singgah.” Ia membuang sigaret ke lantai lantas meratakannya dengan sepatu. Aku sempat sebal.
“Kamu benci rokok?”
Ia menggeleng.
“Aku tidak suka dengan asap, karena di sanalah tempat api hidup.”
“Baiklah, aku mengerti. Lantas bagaimana aku bisa memanggilmu?”
“Izrail.”
“Apa? Jadi itu berhubungan dengan pekerjaanmu?”
“Bisa dikatakan begitu, aku selalu penasaran dengan bagaimana ekspresi manusia ketika menemui ajal.”
Aku membuka pintu kamar baunya menguarkan wangi semerbak, meski akhirnya jadi tidak keruan. Lampu berwarna redup dengan kipas angin tua soak kerap bersuara mirip tikus tergencet dipan. Di luar jendela bisa terdengar dengan jelas suara kereta melintas juga teriakan anak-anak muda bernyanyi juga minum miras. Umpatan sesekali terdengar dan selalu berkakhir keributan, barang-barang berserakan, jendela pecah juga darah tumpah di tanah. Izrail duduk, mengeluarkan sebuah tongkat panjang yang akhirnya kutahu adalah sebuah pedang. 
“Ada seseorang yang harus kubunuh malam ini.” ucapnya tanpa kutanya terlebih dahulu.
“Apakah orang itu aku?”
Izrail terdiam lantas menyarungkan pedang.
“Bukan, tanpa kubunuh sekalipun kau tahu ajalmu sudah dekat.”
Aku menutup mulut, mengingat peristiwa kemarin saat dokter memvonis umurku tidak panjang. Tidak ada obat untuk penyakitku. Hanya mencegah agar tidak semakin parah.
“Dari mana kamu tahu?”
“Sudah kubilang aku Dewa Kematian.”
“Kamu terlalu banyak melihat film kartun.” Protesku.
“Kau percaya hantu, setan, iblis, malaikat juga Tuhan?”
Aku mengangguk, “Tapi aku belum pernah melihat mereka.”
“Mereka bukan dilihat dengan mata telanjang, tapi dirasakan.” Izrail menekankan telunjuknya ke dadaku.
***
Pekerjaan ini masih tetap membosankan. Tak pernah berubah. Hanya orang-orang yang harus dieksekusi makin busuk dari masa ke masa. Rupa mereka tidak pernah menyenangkan untuk dilihat. Dari seribu cara yang kulakukan, untuk mengakali agar tidak jengah. Dari yang paling lembut sampai yang paling brutal tetap saja tidak membuatku bahagia atau menikmatinya. Seumur hidup hal ini terjadi sampai hari perhitungan tiba. Sebelum akhirnya aku pun mati seperti halnya mereka. Jika sudah masanya memisahkan jiwa sendiri seperti halnya apa yang kuperbuat selama ini. Biar kurasakan erangan, rintihan juga permohonan ampun yang kerap kali kudengar. Aku sampai ke tempat ini seusai dengan petunjuk yang ia berikan juga perintah-Nya. Bau pesing di tembok tericum entah bekas anjing atau manusia barbar. Semoga mereka masih bisa melakukan “itu” di kakus, sebelum berkalang tanah dan disantap para cacing. Tampaknya akan memakan waktu lama guna menghabisi seluruh nyawa. Semalam? Seminggu? Tiap kuliat pemuka agama melintasi rumah penuh tawa gadis, ia berjalan tergesa dengan sorban melilit mulut. Berusaha menghindari ajakan juga sahutan suara dari dalam. Namun, matanya tak pernah lepas dari pintu seolah ada hal yang ingin dituntaskan sejak lama. Wak Amin lantas masuk musola, membelah jamaah dan jadi pemimpin salat sore itu.  Tiada yang sudi menyambutku saat tiba, mungkin takut dengan apa yang kupakai. Padahal, biasanya jauh lebih sangar, kimono ala samurai jaman dahulu lengkap dengan pedang. Siti, ia menyebutkan namanya setelah seorang wanita paruh baya dengan wujud gentong ditelan kegelapan menyuruhnya. Perempuan itu menjelaskan beberapa hal layaknya pemandu wisata dan menanyakan semua tentangku—kuanggap sebagai suatu basa-basi. Kami sampai kamar bercahaya remang, kukatakan maksud datang hanya untuk beristirahat. Siti terlihat bingung dengan pernyataanku, alisnya bertemu dan wajahnya bersemu. Aku dapat melihat bagaimana cara ia mati, tak sanggup kukatakan pantang seorang algojo melakukan hal itu. Ia masih muda namun harus meninggalkan kehidupan yang kacau-balau. Ketika duduk ada sesuatu yang mengganjal, ternyata sebuah songkok tergeletak di sofa.
“Maaf, kemarin lelaki tua itu lupa membawa barang miliknya. Istri pertamanya menelpon, si anak diperiksa polisi sedang istri muda mengeluhkan kandungan di perut.”
Aku selipkan songkok di pinggang.
“Jadi kapan kau akan melakukan pekerjaanmu?”
“Tepat tengah malam, ketika semua orang tengah terlelap.”
“Hanya dengan sebilah pedang?” tanyanya tak percaya.
“Sebilah pedang sudah cukup untuk itu semua.”
 Siti duduk bersila sambil memandangi pedang yang kugenggam, matanya memancarkan ketakutan luar biasa. Seakan ada kepala berpisah dengan badannya. 
 “Kau harus pergi dari sini!” imbauku.
 “Ke mana? Sejak kecil ini rumahku, mami menemukanku di depan pintu ketika hujan mengguyur. Bersama sebuah kardus dan sepucuk surat.”
“Kau tak pantas mati di sini, semuanya akan habis dilahap kobaran api!”
***
Sangatlah gampang menghabisi anjing-anjing peliharaan. Sang majikan bersembunyi di balik bayangan. Tingkahnya mirip tikus, hanya saja berdasi juga setelan jas. Katana milikku bermandikan darah segar, namun cairan merah kental tersebut sirna. Jadi minuman bagi dirinya. Cukup kutinggalkan beberapa mayat di pinggir selokan, ada yang masih bernapas namun dengan susah payah. Mirip ikan paus terdampar. Selanjutnya suara tembakan, teriakan serta obor menyala menghadang langkah. Sudah kuduga mereka tidak pernah berani untuk datang sendiri.
“Apa yang kalian takutkan? Ia sendirian!” Ucap pemimpin kelompok itu, ia gendut dan hanya mengenakan kaus kutang putih. Gambar naga melilit lengannya. Satu persatu dari para pria itu melayangkan serangan, pukulan, tendangan tak mereka tahan. Beberapa percuma dan dapat dilumpuhkan dengan mudah. Ganti berondongan peluru menghujani dengan umpatan kesal dari si penembak. Pedang menangkis biji timah panas tersebut, membelahnya jadi dua. Orang-orang bengong mendapati kejadian itu, sebelum akhirnya terpisah dari batang leher. Kepala menggelinding dengan mudahnya menuju tepi sungai. Tinggal pria gendut bertato naga. Ia kelihatan gugup, melihat semua anak buahnya melayang sia-sia. Matanya seolah ingin menangis, celana pendeknya basah oleh pipis.
“Kau pasti akan mati, sialan!” ia mengambil sesuatu di saku. “Sampai jumpa di neraka.”
Benda berukuran kepalan orang dewasa itu melayang sebelum kubelah dengan pedang. Ledakannya membuat suara keras juga beberapa saat telinga tak dapat mendengar. Api membara, membakar apa yang ada. Warna merah kekuningan menjalar. Namun, aku lebih suka menggunakan kekuatan sendiri. Tapi kali ini api tidak muncul dari telapak tanganku, Melainkan dari dua mata bulat perempuan itu. Siti berjalan dengan tubuh gontai melewati jalanan yang penuh mayat bergelimpangan. Setiap kali melihat sesuatu yang ia benci, api berwarna hitam muncul dan membakar apa saja.


Mojokerto, 28 November 2017