Tuesday, October 31, 2017

Cerpen


Amukan Badai
Kami menyingkirkan batang pohon dari jalan, usai menimpa sepasang kekasih yang tengah berteduh. Pohon Trembesi itu harusnya ditebang sejak dulu, karena rawan tumbang juga ranting keropos. Namun, beberapa warga percaya khususnya sesepuh desa, terdapat keluarga lelembut bermukim di sana. Yang sama halnya dengan manusia, enggan atau bakal marah bila diganggu. Hanya golongan muda tak peduli tahayul, tapi tetap saja manut pada orang tua. Terlepas dari keras kepala juga minta dituruti. Kakekku berkata kualat jika membantah. Saat dua orang kurang beruntung itu ditemukan Hansip, nafas mereka berhenti. Polisi lekas memberi garis kuning di sekitar TKP. Peristiwa tersebut jadi tontonan warga dan membuat lalu lintas macet. Ambulan datang tak berselang, salah satu anggota keluarga korban keluar dari kerumunan. Wanita itu histeris, jeritannya mirip suara burung pemakan bangkai. Suaminya terbujur kaku, pria tambun dengan rambut jarang—nyaris botak. Disampingnya seorang wanita muda tak mengenakan apa-apa selain ditutupi kain putih.
“Kenapa kau mesti mati bersama wanita sialan ini!” umpatnya. “Apa kubilang, dari awal sekretarismu jalang.”
Si mati tetap bisu meski istri merintih sembari mengeluarkan kekesalan dengan memukul badannya. Orang-orang pergi setelah bosan menyimak drama keluarga juga reporter sexy dengan rambut cokelat. Roknya terlalu pendek, tak cocok untuk musim penghujan. Wajah Elma begitu kaku dan serius ketika membawakan laporan berita. Umurnya mungkin masih tiga puluhan, tapi tampak lebih dari itu. Para pedagang kaki lima tak bergairah, pengunjung mulai sepi kembali. Berita tersebut muncul usai salat Maghrib, di luar hujan mengguyur deras dusun. Tak seorangpun mau melawan badai juga petir yang menyambar. Jika kondisi demikian terus berlanjut, tanaman padi bakal terendam, terancam gagal panen. Itu masih mujur, tahun lalu semua orang mengungsi, air sungai meluap sampai dada orang dewasa. Sampah-sampah hanyut bersama batang pohon juga bangkai binatang. Sejak penambang batu kapur datang dengan truk, musim hujan tak lagi bersahabat. Dari dapur, ia membawa nasi goreng juga segelas teh hangat. Lalu, duduk di kursi meraih remot dan mengganti saluran. Mulai pagi hingga kini, kami tak bicara. Sari tengah Mens, itu artinya rumah dalam kondisi tidak stabil. Aku lebih banyak diam, menghindari cek-cok atau membuatnya gondok. Istriku mirip singa dengan surai berantakan, rambut jerami, entah ada perkara apa. Aku butuh memahami suasana hatinya ketika ingin bertanya, sebab jika tidak hanya gerutuan kudapat. 
“Kenapa diam, masakanku tidak enak?”  aku menggeleng. “Aku memang tidak pintar masak, tapi aku mau belajar demi kamu dan anak-anak.”
Dalam hati kurapal doa agar situasi ini lekas berakhir.
“Kamu lagi mikir apa, mantanmu?” ucapnya dengan tatapan tajam.
“Enggak.”
“Beneran?” kali ini bulir bening hendak menetes di sana. Kudekatkan tubuhnya ke pelukan, namun Sari menolak.
“Kamu tahu, aku sudah ketemu banyak wanita, termasuk dirimu.”
“Jadi kamu punya simpanan?”
“Bukan begitu. Makanya dengerin dulu, orang ngomong jangan dipotong.” Ia pun kembali duduk, sambil memalingkan wajah.
“Aku bukan orang kaya, punya pangkat apalagi prestasi membanggakan. Motor butut, rumah saja warisan orang tua. Mustahil ada gadis mau mendekat.”
“Berarti aku bodoh mau sama kamu?”
Aku menepuk jidat sambil mengacak-acak rambut.
Tiba-tiba listrik padam lekas kucari lilin juga korek api. Sari masih bungkam, seolah suaminya pesakitan siap menunggu eksekusi esok hari. Badai masih berhembus tak kunjung tenang malah kian lebat. Dalam kegelapan jemari mencari pegangan, hingga menyentuh permukaan halus nan lembut. Napas wanita itu menghangatkan kuping, kalimat juga kata mengalir lancar.  Ia menuntunku persis pengembala membawa pulang kerbau ke kandang. Tiada yang bisa dilihat, gelap gulita, hanya ada suara rintik hujan menghantam atap.
Hujan seperti kata orang, membawa kenangan lampau hadir kembali. Entah itu suka maupun duka. Kota ini terlalu tenteram kataku pada suatu masa. Kau pun mengamini. Meski begitu tak pernah kusesali hidup juga tumbuh di sana. Kita pernah menghabiskan waktu seharian, berziarah ke makam raja-raja juga petilasan. Seorang model tengah berpose dalam balutan kebaya modern juga riasan tebal. Sementara si laki-laki membawa payung guna menghalangi sinar matahari. Fotografer mengarahkan wanita itu dengan terampil dan tak makan waktu. Ia seperti sudah mafhum watak bonekanya sendiri. Senyuman hanya akan nampak di kertas berukuran 3x4 atau lebih lebar dari itu. Setelahnya berubah masam juga gerutuan terus-menerus. Di bawah pohon Maja yang kau kira sebagai Jeruk Bali, kuistirahatkan kaki juga tangan yang pegal usai berkendara. Aku memang bodoh, tak pernah berpikiran panjang, sejujurnya badan masih dalam kondisi kurang baik. Tapi tetap saja memaksakan diri untuk berangkat. Kau pun akhirnya mau tak mau, mengoleskan balsam di sekitar leher yang kaku bagai batu. Saat itulah kulihat sesuatu yang beda di dua bola matamu, seakan aku tersedot ke dalam gelap malam. Kuajak untuk berswafoto namun kau menolak. Seketika diri jadi malas  melakukan apa-apa.
“Aku tak ingin membuat kenangan. Kenangan yang mungkin nanti membuatku sakit atau menangis sendiri di pagi hari.” belamu.
“Aku tahu.”
“Semuanya tidak menjadi sederhana, malah kian rumit.”
“Kau mau aku melakukan apa? Mengajakmu kawin lari?” tantangku.
Jawaban itu ternyata memancing butiran bening luruh dari ceruk matamu, lekas kuhapus dengan sapu tangan.
“Jangan mengatakan itu lagi. Hanya membuatku makin sedih.”
“Kau pantas bahagia. Kau punya pilihan, jangan diam saja menerima keadaan.”
“Jika tak kulakukan, muka kedua orang tuaku mau ditaruh di mana?” ucapmu sambil menahan tangis. Kuembuskan napas panjang, tak ingin memperpanjang perdebatan.
***
Dalam gedung menunggu hujan reda. Beberapa pasang muda-mudi beradu bibir juga berdekapan depan umum. Satpol PP siap meringkus kapan saja. Bioskop tampak ramai, ada film baru tengah rilis. Antrian mengular sampai keluar. Kau memandangi deretan poster serta judul, film barat tak membuat dirimu ingin membeli tiket. Menurutmu, Koko Bruce Lee atau Jackie Chan lebih keren ketika mengeluarkan jurus Kungfu. Mereka memang hebat, tak mau menggunakan pemeran pengganti di tiap cerita yang dimainkan. Hal itu membuat pihak asuransi ogah menjamin bila ada kecelakaan, meski dibayar premi tinggi. Ibu pertiwi tak lupa melahirkan Iko Uwais juga Yayan Ruhiyan yang tangkas bersilat sampai mendapat sambutan dunia. Namun, sungguh malang nasibku, kau ajak menyaksikan film horor. Bukan pengecut, tapi sungguh, kenapa manusia harus membayar untuk ditakut-takuti? Kau tersenyum manis. 
“Aku tak tanggung jawab bila kau mimpi buruk.”
“Bilang saja kamu penakut.”
“Aku sudah memperingatkan, jangan salahkan aku.”
Sepanjang cerita, aku lebih banyak menerka di mana mahluk tak kasat mata itu muncul. Musik yang serba mengagetkan juga kadang terdengar kencang setelah lirih—membuat jantung rasanya ingin copot saja. Depan kursi, ada seorang lelaki tua berkemeja, gendut tengah mendengkur. Tidurnya nyenyak meski penonton berulang kali menjerit juga berteriak. Suara bayi menangis sesekali mengganggu keasyikan. Terkadang ada yang turun ke toilet hingga menutupi layar sejenak. Aku sama sekali tak menikmati pertunjukan, lebih banyak menutup mata. Pulang dari sana, kucoba memejamkan mata barang beberapa kejap. Namun, gagal karena kau menelpon. Dalam otak berbagai kemungkinan muncul.
“Apa kubilang, dinasehati ngenyel sih.”
“Aku gak mimpi, Ham.”
“Terus?”
“Ada sesosok bayangan dengan mata merah menatapku dari kolong tempat tidur.” terdengar suara di seberang putus-putus.
“Yasudah, nyalakan lampu baca doa.”
Daratan diselimuti butiran putih tebal, air menjadi padat dan semua orang sibuk mencari cokelat hangat. Suhu turun sedemikian rupa, hingga asap keluar dari mulut mirip seekor naga. Listrik padam, pasokan air pun terhenti. Sinyal telepon tak bisa digunakan. Awalnya, kupikir hujan semalam takkan menjadi bencana global. Nyatanya kehidupan kembali seperti jaman es. Orang-orang memakai jaket tebal dari kulit binatang. Mulai belajar mengasah tombak dan melubangi dinding es guna menangkap ikan. Bersaing dengan beruang kutub yang jauh lebih besar dan ganas ketika kelaparan. Saat keluar dari rumah, pemadangan timbunan salju menjadi lumrah, dunia mungkin sudah kiamat. Tak seorang pun selamat. Matahari kian dekat. Saatnya untuk menghakimi para penjahat. Tanpa sadar kau lenyap dari sampingku. Orang-orang sibuk memikirkan diri sendiri. Aku pun berjalan di permukaan es yang dulunya sebuah danau luas nan dalam. Kakiku tak sengaja berpijak pada lapisan tipis, sekejap tubuh ini kuyup juga disengat hawa dingin. Teriakan minta tolong menjadi tidak berguna. Dan, pemandangan pun beralih muka Sari tengah marah.
“Kalau tidur TV itu dimatikan, kebiasan memang!” keluhnya.
Jeruk Macan, 9 Agustus 2017

Thursday, October 26, 2017

Cerpen


Sungai Sangiran
Orang-orang menemukan tulang manusia sebelum kami. Fosil yang dipercaya sebagai nenek moyang, anak-cucu Adam. Pun didukung teori Darwin, bahwa manusia satu keluarga dengan primata. Itu pula sebab jamak orang bertingkah liar akhir-akhir ini. Kerumunan itu turun ke jalan membawa spanduk bertuliskan tuntutan, bersama anak kecil dengan masa tak terhitung. Polisi hanya bisa menghadang sebelum pendemo masuk ke gedung pemerintah. Mencegah adanya ban dibakar atau lemparan bom Molotov. Para pedagang kaki lima ketiban rejeki, dagangan ludes dilahap pembeli. Presenter berita menyiarkan peristiwa dari pagi hingga petang menjelang. Iklan selingan sejenak mendinginkan suasana panas juga mencekam. Kota menjadi tegang, beberapa petugas begadang, sementara jalanan ramai pedagang. Aku memutuskan kembali ke masa lalu, menunggangi cahaya dengan rumus Relativitas buatan Enstein. Perlu waktu lama menciptakan mesin tersebut. Tiada ilmuwan lain tahu proyek maha rahasia ini. Mereka hanya memikirkan uang sokongan pemerintah juga penghargaan ditambah sanjungan masyarakat. Dari sana organisasi mengeluarkanku dan menghapus semua rekam jejak. Entah itu, penemuan ruang lima dimensi juga alat teleportasi—yang masih dalam proses pengembangan dan tentunya jangan sampai jatuh ke tangan publik.
“Penemuanmu sungguh luar biasa, dunia perlu tahu ada penemu jenius sepertimu.” Ucap Profesor, dosen pembimbing tesis. Ia bekaca mata, rambut disemir hitam dan bau tubuh mirip tanah.
“Mungkin kau bisa melampaui Tuhan.”
“Untuk apa?”
“Menjelaskan semua pertanyaan yang belum terjawab. Banyak misteri menunggu untuk diungkap.”
Aku menutup laptop dan melepas jaket laboratorium.
“Semakin anda tahu banyak hal, kehidupan bukan menjadi baik. Hanya meninggalkan kehampaan.” Tukasku.
Ia berhenti bicara, lantas menatap ujung sepatunya dengan pandangan kosong. Mungkin sudah saatnya Elma mencari seseorang untuk membuat tempat tinggal. Melepas lembar laporan penelitian juga buku-buku bisu berdebu. Meski aku juga sangsi ada lelaki mau meminang seorang wanita hebat sepertinya. Gelar juga peghargaan itu terlalu agung untuk membuat mereka yakin atau percaya diri bersanding dengannya. Elma kadang melampiaskan hasrat biologis sendiri dibantu alat. Ia emoh membayar lelaki muda atau jadi perempuan pinggir jalan. berselingkuh dengan teman kerja pun tak terpikir.
Kami memilih tinggal di apartemen pinggir kota, tempat banyak gang sempit berjejer. Meski royalti hasil sumbangsih hukum juga temuan sudah dipatenkan, cukup membeli sebuah rumah real estate dan mobil mewah. Pemukiman itu membuat kami menjadi manusia seutuhnya. Bahkan dulu sebelum orang tua meninggal, kehidupan masih hangat untuk diakrabi. Suara ayam jago meramaikan pagi, lenguh sapi mengunyah rerumputan juga bau bunga-bunga. Para petani membawa tumpeng merayakan musim tanam pertama. Aku berjalan di pematang mengawasi kerbau juga tanaman dari serangan burung-burung.Lumpur menyelimuti kaki, terik matahari menyengat. Nasi belum tanak, biasanya ibu bakal mengantar bekal bila bayangan mulai tinggi. Tak jauh dari sana, sungai kecil dihuni mahluk-mahluk air juga ular sawah. Jika tak sempat mandi, aku lekas terjun ke air tanpa sehelai pakaian. Beberapa gadis perawan menyuci baju dengan kain melilit tubuh sampai dada. Mereka tertawa riang seolah tak takut diintip dari kejauhan. Masing-masing memiliki kulit kuning langsat juga rambut hitam lebat.
“Jadi bulan depan kau menikah?” ucap salah satu dari mereka.
“Entahlah, kaum kita bukankah menunggu pinangan sejak dahulu.”
 Aku mendengar perbincangan sambil bersembunyi di balik sarung juga semak-semak.
“Kau tak lupa kawan kita, Sinta? Setelah menikah kehidupannya berubah, enggan untuk berkumpul dengan kita lagi.”
“Bukan keinginannya.”
“Itu lebih baik daripada anaknya tidak punya bapak.”
“Lelaki itu memang keparat, mau enak tapi enggak pengen anak.”
Mereka pun mengakhiri obrolan setelah perempuan bernama Siti pamit pulang  ditunggu orang rumah. Tinggal gadis itu sendiri membilas cucian, sebelum undur diri ia berendam di sungai. Aku pun menyusul dengan melepas pakaian juga  sarung, hanya menyisakan celana pendek. Perempuan itu tampak menikmati mandinya, wajahnya yang basah terlihat teduh—tanpa ada beban sedikit pun. Ia terlihat kaget tatkala melihatku dan lekas menutupi dada dengan dua telapak tangan.
“Pemerkosa! Lelaki mesum.”
Aku menaruh telunjuk di mulut. “Ssst! Jangan teriak, bahaya kalau ada orang yang datang.”
“Biar, nanti kau digebuk atau diarak keliling kampung.”
“Itu pun kalau seperti itu, kalau sampai dibakar bagaimana?”
“Bukan urusanku.”
“Kau tak takut, aku jadi hantu penasaran karena mati tidak wajar. Dan, menghantui seumur hidup atau paling buruk membunuhmu?” ucapku sambil tertawa.
“Ah, jangan menakutiku.”
Ia diam sambil menimbang-nimbang kemungkinan terburuk.
Tanpa sepengetahuan kami, Siti, teman nyuci atau mandinya mengajak warga bersama pak RT menciduk kami. Orang-orang itu membawa senjata tajam juga obor di tangan. Mereka mengurung kami di balai desa, lantas mengadakan rapat dadakan. Penentu nasib kami esok hari, dibawa ke kantor polisi atau paling buruk mati.  
“Apa kubilang!” ucap Sari.
“Apaan memang?”
“Kau takkan selamat!”
“Lebih tepatnya kita.”
“Kenapa aku juga?”
“Mereka tentu menganggapmu perempuan jalang tak punya harga diri. Mandi bersama seorang lelaki.”
“Tidak, tidak mungkin. Aku takkan ke napa-napa.” Ucapnya histeris sambil menutup muka.
“Kau mungkin dirajam atau dibuang ke kampung lain karena membawa sial.”
“Orang tuaku bakal membelaku, keluargaku pasti pasang badan.”
Aku tertawa sambil menghela napas.
“Kalau begitu, seharusnya mereka sudah datang sejak tadi. Wahai nona manis?”
Sari diam dengan muka kusut, air mata menetes dari sana.
“Apa salahku padamu? Sampai bernasib seperti ini. Kenal saja tidak, tega kau merusak masa depan gadis sepertiku.”
“Aku datang dari masa depan.”
“Jangan melantur, tadi kau bertindak cabul sekarang berlagak gila?!”
“Namamu Sari, bukan?”
“Yah, kenapa? Bukan berarti kau tahu namaku, lantas aku percaya semua omong kosongmu.”
“Di dekat dadamu, ada tahi lalat kecil. Tanda lahirmu.”
Seketika wajah gadis itu berubah merah seolah akan meledak segala amarah.
“Kau memang benar-benar mesum, pasti sejak tadi kau mengintipku di sungai.”
“Terserah kalau tidak percaya.” Belaku.
Mereka pun membawa kami ke bibir sungai, mungkin akan ada suatu upacara penyucian. Wajah orang-orang itu terlihat beringas tanpa belas kasih. Anak-anak berlindung dalam dekap ibu masing-masing. Hanya pria dewasa yang diijinkan mendekat. Kami diikat di tiang yang berbeda. Nampaknya ajal sudah kian dekat. Malaikat kematian sudah berada depan mata. Sampai salah seorang dari kawanan tersebut mendekati Sari dan menyobek pakaiannya. Tak kepalang malu dilihat oleh semua orang. Tidak ada yang merasa aneh dengan tindakan biadab itu. Dengan perasaan juga hati terbakar, lekas kucabut pistol dari pinggang dan menyarangkan peluru ke kepala si brengsek. Tubuh gempal tersebut tumbang seketika ke tanah, dan membuat orang-orang berlarian mencari perlindungan. Kuhampiri wanita malang itu dan membawanya pergi. Si Mayat atau bangkai manusia tergeletak tak seorang pun mau mengurus. Burung gagak mematuki jasad itu sampai berupa tulang-belulang. Sungai Sangiran belum ramai seperti saat ini.
Jeruk Macan, 19 Agustus 2017 

Cerpen


Memoar
Sejak kematian Kakek rumah terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi imbauan atau nasehat bijak. Tidak ada canda atau guyonan mengisi hari-hari yang kian sumpek. Nenek jadi agak pendiam sepeninggal suaminya, meski disibukkan aktivitas dapur juga berkebun. Bahkan dulu kerap pergi ke pasar untuk kulakan sayur-mayur. Dan, berhenti setelah Ayah beserta Paman menyarankan agar beristirahat, apalagi ia kerap mengeluh sakit di bagian kaki akibat asam urat. Kami takkan pernah lupa, bagaimana satu-persatu anggota keluarga bergantian menjaga beliau. Segala daya dan upaya diberikan guna kesembuhannya, dari rumah sakit terbaik atau obat paling mahal sekalipun. Namun, apa mau dikata, jika takdir sudah berkehendak siapa bisa menolak? Paman pun pernah berujar sebelum Kakek tiada, sempat menanyakan keberadaanku. Aku yang ada di luar kota mendadak galau karena belum bisa pulang, baru Maghirb usai beliau dikebumikan. Semua pelayat sudah pamit ketika aku tiba, Ayah sibuk menata karpet di teras guna acara begadang nanti malam. Biasanya tetangga dekat dan orang-orang akan berkumpul usai penguburan si mati. Kopi, jajanan serta rokok tak lepas dari prosesi tersebut—terutama kartu remi juga domino. Saat bertemu Nenek, dapur tak begitu ramai para ibu telah kembali ke rumah. Hanya ada Bibi juga Paman.
“Biasanya kalau ada Bapakmu, beliau pasti sudah mengomentari hal kurang beres di rumah ini.” ungkapnya dengan mata merah karena seharian menangis.
“Sudahlah, Mak. Sudah jalan Bapak dipanggil Pengeran, Gusti Allah.” Paman mengambil nasi serta lauk ayam dari mangkok plastik, wadah tahlilan. “Bisa sampai umur 70 tahun patut disyukuri, Nabi saja hanya sampai umur 60.”
“Iya, Nak.” tukas Nenek sedikit merelakan.
Aku yang baru datang merasa canggung. Nenek berusaha tegar juga ikhlas dengan apa yang terjadi. Meski jelas telihat, masih terbayang dengan suaminya. Seumpama burung yang kehilangan sebelah sayapnya. Begitu juga beliau, separuh dari dirinya telah pergi. Aku jadi bingung, ingin membuka percakapan dengan menjauhi topik seputar Kakek.
“Baru tiba dari Surabaya? Ini banyak jajanan juga nasi, jika kamu mau atau lapar.” Tanyanya, Aku mengiyakan dan lekas menuju ruang tamu.
Beberapa teman di Arab takziah, mereka berpakaian putih membawa beras, gula atau mie. Setidaknya Kakek pernah ke Tanah Suci, menunaikan rukun agama kami. Beliau laki-laki keras dan bertanggung jawab. Tak heran ia terpilih sebagai ketua Rukun Tetangga seumur hidup. Entah sial atau mujur, tidak ada warga yang mau menerima jabatan tersebut. Menolak  karena sibuk juga tak dapat upah. Kakek pun sekaligus memimpin doa saban ada selamatan atau tahlilan, berkat pernah mondok sewaktu remaja. Meski begitu belum ada dari anak-cucu hendak mengikuti jejaknya. Ia menempuh pelbagai banyak lembaran kisah pelik juga getir untuk ditertawai. Pernah sewaktu muda menjajakan buah sawo keliling kampung dengan keranjang juga sepeda onthel. Lalu, membeli sepetak sawah guna dikerjakan sendiri hingga akhinya punya beberapa tanah. Kakek pun telah berhasil menyekolahkan anaknya sampai sukses, membangun rumah sendiri. Salah satunya bahkan menjadi pemimpin. Namun bagian yang tak pernah bisa kulupakan adalah ketika di suatu hari yang terik, ia berpesan satu hal penting dan berguna bagi kelangsungan masa depanku.
“Jangan pernah nangis ketika Khitan.”
“Kenapa, Kek?” Tanyaku penasaran.
“Nanti kau dapat Janda.” Ucapnya tertawa sambil terkekeh.
“Ah, masa?”
Ia mengangguk. “Nenekmu itu dulu pernah menikah sebelum bertemu denganku.”
Walau begitu, di lain waktu Nenek bercerita bahwa dulunya Kakek sempat bersaing guna mendapatkan dirinya. Bahkan, ia bilang belum ada ketertarikan. Tapi memang dasar Kakek pintar dan segera melamar. Sehingga Nenek pun tidak bisa melanjutkan rasa sukanya pada orang lain.
“Mereka sempat hampir berkelahi di pinggir sungai. Usai Kakek melamar Nenekmu ini”
“Lalu?”
“Untung tidak sampai ada yang terluka. Tapi dari sana Nenek tak pernah berhubungan dengan lelaki itu.” ia mengambil napas dan sedikit mengingat kelanjutan cerita.
“Dan, memang jodoh, perlahan Nenek pun punya rasa suka terhadap kakekmu.”
Tahun ini jadi masa paling muram juga berat untuk dijalani. Tanah berubah gersang tanpa menyisakan rerumputan hijau, hewan ternak kurus tampak seperti tak terurus. Air sungai lenyap beberapa ikan menggelepar, menunggu ajal atau dipungut warga. Panas menyengat semua mahluk hidup, meranggaskan pepohonan serta melayukan dedaunan. Debu membuat orang-orang sakit pernapasan dan tak bisa melihat dengan jelas. Pengurangan karyawan lambat laun terjadi dan mengundang demonstrasi seantero negeri. Sembako sulit dicari kalau pun ada harganya selangit. Impor hanya akan menyakiti hati petani. Musim kemarau belum juga beranjak dari kampung kami. Air bersih pun harus dibeli karena sumur-sumur tak terisi. Keadaaan tersebut dengan listrik yang kadang mati bergilir. Kampung menjadi gelap gulita diterangi cahaya bulan purnama. Beberapa anak kota datang untuk melaksanakan KKN, berpakaian mencolok dibalut almamater. Layaknya hendak piknik atau bertamasya. Lurah menyambut rombongan itu  dengan tangan terbuka, memberi tempat tinggal layak juga jamuan. Anak-anak kampung tak senang melihat kedatangan mereka. Melihatnya saja rasanya ingin meludah. Tidak ada tegur sapa atau saling melontarkan ucapan basa-basi. Perkaranya sederhana, anak kota berpikir bahwa anak muda di sana, kolot dan tak tahu cara bersenang-senang. Desa hanya tempat bagi hewan ternak juga segala hal berbau jaman dahulu. Sedang anak kampung meyakini mahasiswa hanyalah sekumpulan anak manja tak tahu cara bekerja dan menyusahkan orang tua. Suka mabuk juga pakai narkoba. Konflik memuncak kembang desa digoda salah satu mahasiswa. Mereka menganggap anak kota hendak memerkosa gadis malang itu. Namun, pihak tertuduh membantah hanya ingin menyapa dan membantu. Jalan akhir yang diambil, masing-masing membawa senjata, entah parang atau bongkahan batu di tangan. Tauran itu mengambil tempat di pinggiran kampung, dekat dengan sungai kecil juga jembatan. Banyak yang bilang dasar sungai tersebut dihuni siluman, terbukti saban tahun meminta tumbal nyawa. Pemimpin dari kelompok anak desa maju ke depan barisan sambil membawa pedang. Kepalanya diikat udeng berwarna merah-hitam dengan motif sulur juga kembang.
“Kalau tak mau minta maaf, kujamin kau tak bisa melihat matahari esok!”
“Hanya pecundang yang melakukan itu.” ucap pemimpin kubu lain sambil meludah.
Tanpa komando kedua kubu saling baku hantam dan menyerang membabi-buta dengan segala senjata yang ada. Orang-orang tak berani melerai takut malah terluka atau jadi sasaran empuk. Ibu-ibu berdoa agar tak ada kejadian buruk atau para polisi menciduk. Suara teriakan juga erangan mewarnai duel seru juga sengit itu. Malam menjadi saksi pertumpahan yang membanjiri tanah serta bilah tajam logam. Bulan seolah turut bermandikan darah merah juga amarah. Angin pun tak mau berembus walau sesaat, mendinginkan gemuruh dalam dada. Tak dinyana muncul seorang lelaki tua berpakaian layaknya seorang pendekar. Ia mengendarai seekor harimau loreng. Terjun dari rerimbunan hutan kecil. Membuat para pemuda mendadak diam, tersirap. Suara kucing besar itu membuat nyali mereka menjadi ciut dan lutut bergetar, terutama saat lidahnya menjilat percikan darah yang menggenang. Matanya menampakan kebuasan juga kekuatan luar biasa. Beberapa orang dari kelompok lari meninggalkan tempat, yang tak kuat menahan takut pingsan atau malah kencing di celana. Namun, pemimpin dari kubu mahasiswa tak gentar, sambil membawa pedang ia menantang kakek tersebut. Tanpa disangka pemimpin kubu lawan memperingatkan.
“Kau sudah gila? Mau menantang laki-laki sakti itu. Bahkan kau tak bisa mengalahkan peliharaannya.”
“Aku masih punya senjata rahasia bila pedang ini tak mampu menebas mereka berdua.”
Ia pun maju dengan sekuat tenaga dan menganyunkan pedang. Namun naas gigi-gigi harimau mengigit logam itu hingga patah. Pemuda itu membuang senjata rusak tersebut lalu mencabut pistol yang terselip di pinggang.  Peluru menghujami mereka tapi secara ajaib tak satupun kena, malah cakar kucing besar itu melukai si pemuda. Kematian tinggal menunggu waktu. Dari kejauhan kuamati dengan saksama pemilik harimau, wajah yang tak pernah bisa dilupa Nenek juga aku sendiri.
Mojokerto, 28 Agustus 2017


Thursday, October 19, 2017

Cerpen


Riwayat Sebuah Selendang
Suara gamelan mengisi malam dingin nan hening. Sebuah pentas sedang berlangsung, dihelat kepala dusun guna syukuran bersih desa. Pusat perhatian penonton tertuju pada sesosok dara ayu pemilik senyum menggoda. Siapa tak kenal Sita? Banyak pemuda takluk tiap menatap mata indah miliknya. Beberapa pejabat rela datang melihat penampilan gadis itu, membawa sejumlah oleh-oleh juga kado. Meski, lebih sering dikembalikan, Sita enggan menerima barang mewah. Sudah banyak lelaki ingin meminangnya, namun belum ada yang membuat hati sreg. Mereka datang dari kalangan berada, berilmu juga modal nekat. Ia tak jarang tertawa sendiri, mengingat kelakuan calon suami. Suatu hari ada seorang kakek datang bersama cucunya. Sita pikir lelaki tua itu ingin menemani saja, tak dinyana malah melamar. Sontak wajahnya berubah pucat memikirkan cara menolak yang halus. Sebaiknya Mbah giat ibadah ketimbang mikir urusan duniawi, tuturnya singkat. Diceramahi begitu memuat si kakek undur diri dengan rasa malu juga kesal tertahan—dan, mungkin menyewa seorang kupu-kupu malam. Jalannya mengangkang mirip bocah usai sunat. Sama seperti malam-malam sebelumnya, ia bersiap sebelum para pemain lengkap dengan tetabuhan tiba. Anak-anak kecil mengekor di belakang truk. Perias lekas memerelok wajah tirus itu—walau tanpa bedak juga segala kosmetik tetap menawan. Kali ini, seorang warga anaknya melangsungkan pernikahan, ia tak mau pesta berlalu begitu saja. Biasa dan tak memiliki makna apa-apa. Maka dipanggilah dalang, sinden, juga beberapa penari. Dari pintu tubuh mungil itu keluar, tiap mata memandang takjub bukan kepalang. Alisnya tajam jua runcing, mata belok, hidung mbangir, kulit kuning langsat serta senyum memikat. Mengukuhkannya sebagai jelmaan bidadari Nawang Wulan. Dibalut kebaya kuning, kain jarik mempercantik, kemben membuat punggungnya tegak. Dada Sita meski tak terlalu besar ataupun kecil, menjadi daya Tarik tersendiri—proporsional bagi sebagian mata nakal para lelaki. Gerak lakunya luwes, mirip merak mengembangkan bulu-bulu permata hijau biru. Ia tetap bisu kala saban orang menggoda atau memuji dirinya. Telinganya mendadak tuli, menghindari ucapan manis beberapa pria. Lewat jendela, diintipnya halaman penuh warga tak sabar melihat. Para penjual makanan-minuman sudah memadati sejak petang. Sementara bandar dadu juga togel bersembunyi di balik rimbun pohon pisang. Para preman keluar dari persembunyian, mencari lawan atau sesuatu untuk diminum. Sita memasang wajah dingin juga tatapan kosong, tatkala melintasi kerumunan. Dalam hati, dirapalnya doa agar tak terjadi malapetaka atau tergoda saweran. Pawang hujan tuntas menjalankan ritual mengusir hujan yang semenjak sore memunculkan digdaya, lewat mendung hitam nan kelam. Pernah suatu masa, ada yang hendak menaruh uang di sela-sela dada, tak perlu waktu lama bagi Sita mendaratkan tamparan keras. Ia sadar betul, meski dirinya seorang penari tak patut diperlakukan seperti itu. Suasana berubah magis, ketika Tembang Macapat dilagukan seorang sinden. Suara tersebut seolah memanggil seluruh mahluk datang meramaikan hajatan. Sita tampak heran mendapati wajahnya di kaca. Jika malam rambutnya disanggul, memakai riasan tebal bak pengantin perempuan. Bila matahari muncul, ia sama seperti gadis dusun kebanyakan, bersahaja dengan dandanan sederhana. Sembari menenteng tas cangklong, wanita itu menuju garasi lalu menyalakan motor. Murid-murid tengah menanti kedatangannya. Tempat itu tak jauh dari rumah, dekat lapangan bola juga lahan pertanian milik warga. Kadang kambing masuk wilayah sekolah andai si pengembala lalai, saking asyik mencari rerumputan. Masuk ruang guru, beberapa orang menyapa, sebagian kecil membicarakan aktifitasnya kala malam. Sita tak pernah hirau ucapan mereka, bisa jadi hanya iri karena tak pintar menari. Bel pelajaran berbunyi, para guru gegas ke dalam kelas untuk mengajar. Dengan perasaan sedikit kesal wanita itu berjalan di lorong sambil mengamati halaman gersang tanpa rumput. Musim panas debu kerap membuat sesak napas juga mata pedih. Sita mengajak mereka bernyanyi Tembang Dolanan guna menghilangkan kejenuhan.  
Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan dadi gelo
Usai mengajar ia melatih anak-anak gadis menari. Sita tak menarik bayaran, baginya bila ada anak muda yang peduli dengan warisan masa lalu, amanat gurunya sudah tunai dan menjadi milik generasi berikutnya. Memang tak semua orang mendukung keinginan itu. Salah seorang orangtua murid datang sambil memaki dan berkata anaknya dijual sebagai pemuas lelaki. Sita tentu tak terima dan menjelaskan duduk perkara, bahwa semua yang ia lakukan murni panggilan hati dalam berkesenian. Tapi percuma banyak yang tak percaya dan melarang anak mereka untuk datang kembali. Sita pun tenggelam kembali pada kesunyian, apapun yang ia lakukan seakan ditolak alam semesta. Dalam kondisi tersebut wanita itu kerap rindu belaian seseorang, tempatnya berlabuh juga bersandar. Ketika diterpa pilu acap dilagukan Tembang, mengusir gundah.
Lingsir Wengi. . . “ tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Siang-siang malah nyanyi lagu untuk ngundang setan.”
“Sok tahu, tembang itu buatan para wali. Masyarakat saja yang menggantikan fungsi aslinya.”
“Hm.”
“Kamu enggak ngajar, Dasim?” tanyanya.
“Tidak ada jam hari ini. Kamu sendiri?”
“Aku sedang tak enak hati, badmood.” Ungkapnya dengan wajah merengut.
“Oh. Ini sampur, selendangmu. Kemarin tertinggal di rumah Pak Polo.
Malam itu, tidak biasanya Sita malas untuk menari. Kepalanya agak pusing, perutnya sedari tadi belum diisi dengan makanan. Namun, pertunjukan mesti berlanjut, empunya hajat telah memintanya jauh-jauh hari. Wanita ayu itu berjalan anggun sembari mengangkat selendang kebanggaan, Seorang pria berlari ke tengah lapangan, mengajak menari dengan tampang juga tingkah genit. Sita tak menyangka, ia tak lain kawannya sendiri.
“Ngapain kamu ke sini?”
“Ya, pengen nari.”
“Gak malu dipandang orang banyak?”
“Memang masalah?”
“Kamu itu guru!”
“Terus?”
Digugu lan ditiru.”
“Makanya aku mau banyak orang cinta sama budaya sendiri.”
Sita dalam hati merutuki tabiat laki-laki di depannya, siapa sangka wajahnya yang polos juga jarang mengeluarkan suara dalam rapat. Memiliki celah.
“Apa kata orang jika melihat perilakumu!”
“Perilaku kita?”
“Hm.”
“Peduli kata orang. Toh mereka tidak sepenuhnya benar.”
Ia sedikit mengamini perkataan Dasim, namun faktanya orang lebih suka menumbuhkan prasangka buruk di dalam kepala. 
Saat pertama kali membuka mata, hal yang dicarinya adalah selendang. Ia tak khawatir misal benda lain hilang atau lupa menaruh. Baginya kain wasiat itu harus dijaga dengan sepenuh jiwa, kalau perlu bertaruh nyawa. Diturunkan kepadanya dari ibu, ibu dari nenek, nenek dari buyutnya dan seterusnya. Konon sampur tersebut milik dari bidadari yang pernah diperistri Jaka Tarub. Tentu jika dirunut kembali terdengar mustahil, karena Nawang Wulan akhirnya  kembali ke Kahyangan. Meninggalkan suami juga anaknya. Setelah melapor pada polisi dan tak kunjung mendapat kabar baik. Sita membuka sayembara, barang siapa yang bisa menemukan selendang itu, jika laki-laki dijadikan suami, bila wanita diangkat saudara. Maka gemparlah seluruh kampung, terutama para perjaka, bujang juga duda berlomba-lomba. Mereka datang membawa bermacam kain beraneka rupa, bentuk, warna juga harga. Namun tidak ada yang sesuai dengan apa yang Sita minta. Akhirnya, gadis itu pasrah dan berniat menutup perlombaan juga merelakan selendang miliknya. Tak dinyana, saat hendak menutup pintu matanya terpana melihat bawaan lelaki itu.
“Di mana kau menemukan selendangku?” tanyanya penasaran. Namun pria itu tak menjawab. “Kau pasti mencurinya.”
Ia tertawa. “Kau dari dulu tak pernah berubah. Selalu saja pelupa.”
“Kata siapa?”
“Sekarang saja kau tak pakai apa-apa.”
“Kamu yang pikun!”
“Hla, kok aku?”
“Ini malam pertama, Dasim.” Tukasnya sambil tersenyum manis.
Jeruk Macan, 24 Juli 2017






Cerpen


Legenda Burung Api
Ia memilih terjun ke dalam kobaran api setelah kemarin didatangi binatang suci. Sayapnya yang terbakar hinggap via jendela rumah. Bulu-bulu jatuh berhamburan, membuat bunga-bunga api kecil. Dengan paruh runcing melengkung mirip orang tengah bersujud. Arya tak punya waktu untuk mengambil jaring atau mengabadikan momen dengan kamera HP. Dayanya sudah terkuras habis guna meyakini sedang tidak bermimpi. Burung api melesat keluar setelah berhasil menghipnotis si empunya rumah malam itu. Ketika paginya, laki-laki itu bercerita pada si pacar, ia menganggap Arya berkhayal atau habis minum sekaleng beer. Sejujurnya ia tak berdusta dan mengaku masih sadar tatkala nyala api tenang agung menerangi seisi ruangan. 
“Kau mesti liburan Sayang, buku-buku telah meracuni otakmu.” Cetusnya.
Arya menggeleng, sambil berusaha menjelaskan juga memberi bukti konkret. Namun Sita tak acuh dan menaruh sekuntum mawar dalam vas.
“Kita jarang ada waktu untuk bepergian, kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri.”
“Maaf.”
“Tak apa, aku yang salah terlalu banyak berharap.”
Ia hendak meninggalkan kamar, namun tangan laki-laki itu meraih dirinya.
“Kita sudah sering membicarakan hal ini.” belanya.
“Iya, dan aku sedang tidak ingin bertengkar.”
Arya mengembuskan napas pajang. “Maapkan aku, Sayang.”
Sita masih merajuk, wajah ayunya kelihatan lusuh mirip pakaian belum disetrika. Pemuda itu mau tak mau merayu demi melihat senyuman di wajahnya.
***
Kau boleh bilang aku beruntung, dari semua laki-laki yang pernah memata-matai juga menjilat dirinya—aku tak termasuk mereka. Ia kerap bercerita beberapa “fans” yang acap membuatnya bersikap dingin karena tak nyaman dengan ulah kaum itu. Sita merasa terganggu dengan teror juga saat salah satu dari mereka menyatakan cinta. Seolah ada paku yang menancap dan tak ada cara selain mencabut dengan tang—meski bekasnya masih tetap ada sampai kapan pun.
“Kenapa tertawa?”
“Tidak apa-apa.”
“Tampangmu selalu datar bila di foto. Makanya jangan kebanyak nongkrong di perpustakaan nanti mirip Artefak.”
“Yah, tapi kamu suka.”
Ia tertawa tak terima. “Kata siapa?”
“Mau aku cium?”
Apa ora bahaya
“Makanya dicoba biar tahu.” Sita mengibaskan tangan sambil lalu.
Aku gemar memelihara burung di kost, mendengar nyanyian merdu darinya membuat hasrat menulis kembali. Seekor murai batu tengah berpentas dalam sangkar persegi dengan jeruji kayu. Ulat di kotak makanan bergoyang mengikuti tembang. Burung lain menyaksikan pertujukan itu di dinding. Ia bertengger dengan jumawa, diapit dua fofo laki-laki berkopiah dengan setelan jas rapi. Garuda membawa lima panji yang mempersatukan banyak orang di negeri ini. Burung keemasan yang konon jadi tunggangan Dewa Wisnu sang pemelihara kehidupan. Ngomong-ngomong soal burung, “burungku” juga tengah kebelet pipis. Ia memang agak binal, terutama karena belum bertemu dengan “kekasihanya”—sehingga sampai saatnya tiba ia harus dikandangkan terlebih dahulu. Mencegah beberapa hal yang diinginkan terjadi. Ada banyak burung yang mungkin menarik untuk dilihat lebih dekat. Burung surga contohnya, meski namanya begitu, kau tak perlu mati untuk bisa memilikinya. Beberapa pemburu menjual secara bebas di pasar gelap, disebut demikian bukan lantaran PLN mencabut aliran listrik di sana—karena satu lain hal. Setelah tanah mereka dikeruk orang asing, burung-burung itu kian sukar ditemui dan kian punah keberadaannya di hutan. Perkara burung tak jarang membuat perut keroncongan, beberapa malah berurusan dengan aparat juga tokoh agama. Ayah pernah berpesan untuk menjaga barang milik sendiri agar tak merugikan orang lain. Urusan serupa berlaku untuk “peliharaanmu” kawan!”
***
Jadi semua bermula karena kunjungan seekor Phoenix yang mungkin kalian anggap sebagai gurauan seorang lelaki bujang. Maka, jangan harap hidupmu akan penuh dengan keajaiban atau dengan kasar disebut tanpa makna. Karena perlu diketahui cerita ini mungkin sama gilanya dengan kehidupan itu sendiri. Singkatnya, jangan pernah menghitung jumlah bintang di langit. Maka demi kebaikan kalian dengarkanlah kisah ini hingga selesai. Suara kaok terdengar lamat memasuki gendang telinga. Burung-burung kematian tengah merubung bangkai hewan bersama sekumpulan lalat hijau. Kawanan gagak berpesta mematuki daging setengah busuk juga ditumbuhi belatung. Aku pernah mendengar cerita tentang mereka, terutama saat pertama kali mengajari anak manusia bagaimana bagaimana mengubur mayat saudaranya. Kusarankan agar tak bertemu Ababil. Yah, mereka datang dari neraka. Sambil membawa batu-batu panas di sepasang cakar. Demi melempari pasukan gajah yang hendak menguasai kota suci kelahiran nabi. Namun, dari semua burung yang kutahu di muka bumi ini, hanya Phoenix membuatku takjub. Mahluk itu abadi, ia lahir dari kematian burung api yang menjadi abu. Api kecil yang kelak berwarna keemasan dan membakar langit malam yang sendu juga menyedihkan. Aku masih duduk di kursi sembari mencoba menyelesaikan sebuah naskah novel. Sementara gawai di meja kumatikan agar tak mengusik ketentraman. Kupandangi foto Sita yang terletak persis sebagai wallpaper laptop. Ia kebetulan memangkas rambut leih pendek, katanya agar terlihat lebih muda. Senyumnya segaris dengan mata belok mirip seekor kucing. Sudah bulan empat dan tigda hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Aku tak tahu hadiah apa yang pantas untuk calon istriku itu. Tahun lalu sebuah boneka panda telah kubawa untuknya dari toko. Ia kelihatan semringah menerima beruang dengan lingkaran mata berwarna hitam, mirip orang kena insomnia. Panda itu mengigit daun bambu cina, seolah siwak untuk membersihkan giginya. Kembali lagi soal kado, sekadar informasi aku bukan tipe laki-laki yang akan membawa wanitanya ke bioskop lalu di sana memutarkan video lamaran beserta teman juga sanak saudara. Kosnpirasi dungu itu membutuhkan dana tak sedikit dan aku tak mau dibilang pelit. Honor sebagai penulis turun saja sudah bersyukur. Itu juga menjadi alasan kami belum menikah—orang tua Sita tentu masih terlampau waras untuk memberikan anak semata wayangnya ke tangan laki-laki tanpa kejelasan hidup. Aku kadang merasa hidup tidak pernah adil sejak beberapa hal tak berjalan seperti seharusnya. Gampangnya saat dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersatu dalam ikatan.
***
Sita masih ingat ketika ayah-ibunya memaksa ia memutuskan hubungan dengan laki-laki itu. Tentu sangat berat berpisah dengan Arya yang telah menanam kenangan terlampau dalam. Terlebih lagi kehidupan telah tumbuh dengan caranya sendiri di dalam dirinya. Sita tak tahu  bagaimana cara untuk menyampaikan kabar baik juga buruk itu pada calon suami juga orangtuanya. Ia beberapa kali menelepon namun tak ada jawaban. Wanita itu memilih pergi dari rumah untuk menemui sang kekasih. Dalam perjalanan orang-orang berhamburan keluar mengambil air juga selang guna memadamkan api. Awan hitam menyelimuti rumah-rumah, dan wajah ketakutan juga bingung jamak ditemui. Tangis Sita meledak tatkala mengetahui rumah calon suaminya terbakar. Aku melihat peristiwa itu dari langit. Buluku jatuh ke bumi dan jadi meteor. Sementara ekorku laksana komet mengitari galaksi. Ia memilih terjun ke dalam kobaran api setelah kemarin didatangi binatang suci

Jeruk Macan, 4 Juni 2017

Tuesday, October 10, 2017

Buku


Sekilas Tentang Api Ibrahim
Terlepas dari segala kekurangan dari buku ini saya akhirnya bisa sedikit bernafas lega setelah empat tahun akhirnya yakin mengeluarkan buku. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada banyak pihak yang membantu proses penerbitannya. Editor buku, Mas Aris Rahman Yusuf yang memberi masukan juga kritik pada naskah yang masih jauh dari kata sempurna. Mas Mochamad Asrori yang akhirnya meyakinkan untuk menerbitkan buku ini juga dalam proses penerbitan Juga, Mas Abu Wafa yang memberi kata pengantar dalam buku ini beserta apresiasinya. 
Saya akan sedikit bercerita mengenai buku ini--selanjutnya disebut Api Ibrahim. Api Ibrahim merupakan rangkuman atau boleh disebut potret nyata perkembangan saya dalam awal karir kepenulisan. Beberapa cerpen ditulis sejak masa Sma dan menempuh bangku kuliah. Tentu bakal ditemui beberapa perbedaan rasa atau kenikmatan saat membaca tiap cerpen dalam Api Ibrahim. 
Api Ibrahim bisa dibilang sebagai acuan saya dalam menilai diri, tumbuh dewasa secara karya juga individu. Beberapa cerpen pernah dimuat koran Radar Mojoketo(Jawa pos Grup), selain itu ada cerpen baru yang belum pernah dipublikasikan. Cerita di dalamnya memuat banyak hal yang mungkin dikeluhkan, dipertanyakan atau malah dirasakan saya pribadi atau orang lain. Mengapa Api Ibrahim dijadikan sebagai nama antologi ini, saya kira karena terdengar keren atau beberapa bilang cerpen ini sangat religius(meski pada mulanya saya hanya ingin bercerita saja tak menaruh tendesi apapun dalam pembuatannya).
Mengenai sampul depannya, sedikit menakutkan kata beberapa teman atau pembaca, ada juga berujar keren mirip cover album band Rock terkenal. Jujur dari keempat sampul yang disodorkan penerbit pada saya, ini merupakan sampul yang saya rasa terbaik dari tiga lainnya. Terlihat sederhana juga menggerikan--tangan yang terbakar mengingatkan saya pada salah satu jurus film kungfu. 
Akhir kata, Selamat tersesat dan jangan pernah kembali.

Monday, March 13, 2017

Esai

Esensi dari Menulis
Sebagian orang menganggap remeh pekerjaan kuli tinta sebagai kegiatan sia-sia tak menghasilkan materi. Sebagian lagi menganggap menulis adalah hal yang sering dikerjakan para perempuan. Dunia kepengarangan, dunia sunyi yang banyak dijauhi—jauh dari ingar-bingar suara gelak tawa manusia. Bagai seorang pertapa yang menunggu datangnya ilham. Filosof yang mencoba memahami kehidupan dari kejauhan, memandangi alam semesta yang fana penuh ilusi. Pemikir ulung yang merangkai suatu konsep untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Itulah gambaran penulis yang mencuat di dalam tempurung kepala saya. Lalu, apakah tujuan dari menulis sendiri? Sastrawan kondang Seno Gumira Ajidarma pernah berkoar: “Ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara.” Itu adalah salah satu dari sekian banyak maksud dalam menulis. Para kiai menulis sebuah kitab bagi muridnya agar senantiasa dapat dinikmati. Kitab tersebut mengajarkan ilmu yang bermanfaat, mengalirkan pahala menerus pada si empunya ilmu hingga liang lahat. Menulis juga dapat memberikan informasi bagi orang lain, entah itu berita baik atau buruk. Terakhir, menulis cerita atau sastra untuk dibaca banyak orang. Kalau dikaji lebih jauh tujuan dari menulis ada berbagai macam, namun kali ini saya menekankan pembahasan pada esensi dari menulis. Dalam hal ini bagaimana membuat cerita yang menarik. Cerita dalam bahas Jawa, Crita, memiliki kepanjangan Sacrit tapi nyata. Yang artinya sedikit tapi nyata. Tidak menutup kemungkinan suatu cerita berdasarkan kejadian yang pernah terjadi atau akan berlangsung di masa mendatang. Apa yang membuat sebuah cerita menjadi menarik? Judul yang membuat pembaca penasaran dan kalimat pembuka yang dapat menggiring sampai akhir cerita. Sementara faktor lain dapat dipelajari sendiri secara mendalam. Ada dua gaya menulis yang cukup dikenal: surealis dan realis. Surealis menekankan pada keindahan kalimat atau kata puitis bermakna ambigu dan imajinasi tanpa batas. Sedangkan realis berkebalikan dengan surealis, berfokus pada kata atau kalimat jelas dan mudah dimengerti. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan.  Surealis lebih banyak dipuji dan dikritik kritikus sastra sebagai karya yang bermutu dan berkualitas. Contoh: prosa yang memakai judul surealis; Dongeng Hitam karya Yetii a.ka dll. Karya realis lebih mudah dimengerti pembaca dan melekat dalam ingatan contoh prosa karangan Seno Gumira Ajidarma berjudul Pelajaran Mengarang. Menceritakan seorang anak kecil diminta gurunya menulis karangan tentang ibunya yang berprofesi sebagai pelacur. Selain novel ada karya sastra yang memiliki peminatnya sendiri, cerpen. Kalau boleh saya katakan sastra koran, cerpen biasanya muncul di surat kabar saban hari minggu. Banyak penulis pemula juga kawakan berlomba-lomba mengirim karya untuk dimuat dan mendapat honor. Persaingannya ketat apalagi untuk surat kabar nasional dan sudah mempunyai nama mentereng. Sebagian yang menyerah karena tulisan tak kunjung dimuat memilih koran lokal. Dan, jika sudeah dimuat dan namanya muncul di koran dapat berbangga diri dengan pencapaian. Sebagian penulis pemula berkeyakinan bahwa kalau tulisan sering dimuat di koran boleh dikata hebat. Bisa membuat atologi cerpen nantinya. Apakah mereka tidak sadar atau terlena? Karya mereka seperti barang kodian atau saking banyaknya bisa diloakkan. Penulis pemula sering berfokus pada kuantitas bukan kualitas. Saya juga tergolong penulis pemula, tulisan jauh dari kata bagus—masih terus belajar dan mengasah diri. Bila penulis pemula menghadapi masalah kuantitas dan kualitas. Penulis senior mengalami hal yang lebih sukar lagi, dirasa atau tidak kualitas seseorang akan menurun dari waktu ke waktu. Para penulis harus tentu membaca agar menambah amunisi untuk menulis. Berusaha untuk mempertahankan kualitas atau meningkatkannya. Singkatnya, menulis itu tentang cara pola pikir sesorang. Semakin tulisan sederhana dan mudah dipahami begitulah representasi penulisnya.
Jeruk Macan, 17 Januari 2016
Radar Mojokerto, 13 Maret 2017


Sunday, January 15, 2017

Esai

Proses Kreatif dalam Menulis
Saya acap menemui teman yang mengaku dulu gemar menulis, entah puisi, cerpen maupun novel. Lalu, mengapa sekarang berhenti dan tak menulis lagi? Ada yang menjawab karena kesibukan di kampus, tak ada waktu. Namun, dari sekian alasan yang saya terima. Dilarang orang tua, mungkin jawaban tak masuk diakal. Bahkan, barang kali ada yang sampai sembunyi demi membaca sebuah novel. Tak dapat dipungkiri masyarakat kita masih menganggap menulis (mengarang cerita) adalah pekerjaan sia-sia dan tidak menghasilkan. Entah kapan pandangan itu bisa berubah. Bahwa menulis sama pentingnya dengan rutinitas lain. Tugas para penulis membuktikan stigma itu salah dan membuat tulisan menarik. Bicara tentang menulis tak lepas dari proses kreatif. Mungkin, jika kau mengikuti seminar menulis atau membaca buku panduan bagaimana mengarang cerita. Isinya hampir sama. Anjuran untuk meluangkan waktu dan menjauhkan diri dari keriuhan sambil fokus bergelut dalam cerita. Juga ini yang paling penting banyak-banyaklah membaca buku atau novel bagus. Siapa tahu kau bisa menulis hal serupa atau melebihinya. Tak semua penulis mau membagi bagaimana proses mereka mencipta sebuah karya. Hanya di bagian mendasar, selebihnya disimpan. Tulisan ini mungkin sedikit memberi gambaran bagaimana proses kreatif saya. Yang pertama, saya mencari ide dengan membaca buku fiksi atau non-fiksi, melihat film atau pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Sepele memang, namun beberapa orang sering mengeluh sulit menemukan ide untuk menulis. Kadang menunggu Ilham datang menghampiri, melamun sambil menghabiskan waktu. Tak semua cocok dengan cara ini. Langkah selanjutnya, menyisihkan sebagian waktu guna menulis. Banyak yang akan menyerah di taraf ini karena beralasan sibuk dengan rutinitas. Namun, faktanya seorang dosen di kampus menulis sebuah buku padahal ia sangat sibuk mengajar, mengisi seminar ditambah lagi bergelar Professor. Semua kembali pada diri sendiri, apa punya komitmen untuk menyelesaikan tulisan. Soal ini saya terbilang nakal, teman-teman penulis lain getol menulis setiap hari demi bisa dimuat media massa lokal atau nasional. Beberapa ada yang memasang target sekian cerpen dimuat di koran pada tahun itu. Tak ada yang salah dengan keyakinan ini, semua punya pilihan masing-masing. Dari beberapa tulisan yang saya buat, di awal yakin sudah yang terbaik, namun setelah dimuat ada beberapa kekecewaan. Seperti ada yang kurang, perlu diperbaiki, meski beberapa teman yang membaca tak ambil pusing. Selain itu, saya kerap menulis ketika sedang mood, ini hal kurang baik terutama bagi penulis yang dikejar deadline menyerahkan naskah pada editor. Saya kadang merutuki juga bersyukur. Teman-teman sering menganggap penulis kerap mengurung diri di kamar. Nyatanya, di luar urusan menulis, ia tak melulu mengerjakan hal yang sama, tentu membosankan. Ada hal lain, entah bermain musik, berolahraga atau kesenangan lain. Tahap terakhir yakni mengedit tulisan yang telah selesai, mengoreksi bagian kurang sesuai dan mengirimnya ke media atau penerbit. Singkatnya begitulah apa yang saya lakukan dalam proses kreatif. Selebihnya, menghibur diri di tengah kegiatan menulis. Sesekali mengikuti seminar atau bedah buku penulis guna menambah pengalaman, pengetahuan juga kenalan. Dalam forum itu bisa saja ada pencerahan untuk menulis atau mengajukan pertanyaan pada pemateri. Menulis tak pelak mengantarkan saya pada banyak orang baru, baik kawan sesama penulis juga yang baru tertarik ingin menggeluti. Godaan terbesar bagi saya—juga para penulis lain—ketika baru-baru ini beberapa bazar buku dihelat secara bersamaan di Surabaya dalam tempo berdekatan. Buku-buku bagus dihargai miring, bahkan ada yang cukup tebal masih berplastik. Saya lantas berpikir bagaimana perasaan si penulis mendapati jerih payahnya dilelang begitu murah. Pada saat itu pula saya membayangkan diri ada di posisi mereka, sungguh tak mengenakkan sekali. Akhir-akhir ini saya jarang membeli buku baru, mungkin ada sedikit rasa cemburu mendapati teman-teman penulis lain sudah punya karya sendiri dan dipajang di toko buku. Lebih banyak membaca dan menulis tulisan baru. Hal ini sempat saya diskusikan dengan seorang teman. Ia sudah punya beberapa karya meski belum diterbitkan penerbit besar. Meski begitu tak sedikit seminar luar kota dan kampus juga sekolah diisi olehnya. Saya kagum kepadanya, apalagi ia perempuan, sepantaran juga sama-sama mahasiswa. Kadang beberapa kali kami diksusi tentang perkembangan menulis, penerbit  sampai hal remeh-temeh.
Surabaya, 11 November 2016
Radar Mojokerto, 15 Januari 2017