Amukan Badai
Kami
menyingkirkan batang pohon dari jalan, usai menimpa sepasang kekasih yang
tengah berteduh. Pohon Trembesi itu harusnya ditebang sejak dulu, karena rawan
tumbang juga ranting keropos. Namun, beberapa warga percaya khususnya sesepuh
desa, terdapat keluarga lelembut bermukim di sana. Yang sama halnya dengan
manusia, enggan atau bakal marah bila diganggu. Hanya golongan muda tak peduli
tahayul, tapi tetap saja manut pada
orang tua. Terlepas dari keras kepala juga minta dituruti. Kakekku berkata
kualat jika membantah. Saat dua orang kurang beruntung itu ditemukan Hansip,
nafas mereka berhenti. Polisi lekas memberi garis kuning di sekitar TKP.
Peristiwa tersebut jadi tontonan warga dan membuat lalu lintas macet. Ambulan
datang tak berselang, salah satu anggota keluarga korban keluar dari kerumunan.
Wanita itu histeris, jeritannya mirip suara burung pemakan bangkai. Suaminya
terbujur kaku, pria tambun dengan rambut jarang—nyaris botak. Disampingnya
seorang wanita muda tak mengenakan apa-apa selain ditutupi kain putih.
“Kenapa
kau mesti mati bersama wanita sialan ini!” umpatnya. “Apa kubilang, dari awal
sekretarismu jalang.”
Si mati
tetap bisu meski istri merintih sembari mengeluarkan kekesalan dengan memukul
badannya. Orang-orang pergi setelah bosan menyimak drama keluarga juga reporter
sexy dengan rambut cokelat. Roknya terlalu pendek, tak cocok untuk musim
penghujan. Wajah Elma begitu kaku dan serius ketika membawakan laporan berita.
Umurnya mungkin masih tiga puluhan, tapi tampak lebih dari itu. Para pedagang
kaki lima tak bergairah, pengunjung mulai sepi kembali. Berita tersebut muncul
usai salat Maghrib, di luar hujan mengguyur deras dusun. Tak seorangpun mau
melawan badai juga petir yang menyambar. Jika kondisi demikian terus berlanjut,
tanaman padi bakal terendam, terancam gagal panen. Itu masih mujur, tahun lalu
semua orang mengungsi, air sungai meluap sampai dada orang dewasa.
Sampah-sampah hanyut bersama batang pohon juga bangkai binatang. Sejak
penambang batu kapur datang dengan truk, musim hujan tak lagi bersahabat. Dari
dapur, ia membawa nasi goreng juga segelas teh hangat. Lalu, duduk di kursi
meraih remot dan mengganti saluran. Mulai pagi hingga kini, kami tak bicara.
Sari tengah Mens, itu artinya rumah dalam kondisi tidak stabil. Aku lebih
banyak diam, menghindari cek-cok atau membuatnya gondok. Istriku mirip singa
dengan surai berantakan, rambut jerami, entah ada perkara apa. Aku butuh
memahami suasana hatinya ketika ingin bertanya, sebab jika tidak hanya gerutuan
kudapat.
“Kenapa
diam, masakanku tidak enak?” aku
menggeleng. “Aku memang tidak pintar masak, tapi aku mau belajar demi kamu dan
anak-anak.”
Dalam
hati kurapal doa agar situasi ini lekas berakhir.
“Kamu
lagi mikir apa, mantanmu?” ucapnya dengan tatapan tajam.
“Enggak.”
“Beneran?”
kali ini bulir bening hendak menetes di sana. Kudekatkan tubuhnya ke pelukan,
namun Sari menolak.
“Kamu
tahu, aku sudah ketemu banyak wanita, termasuk dirimu.”
“Jadi
kamu punya simpanan?”
“Bukan
begitu. Makanya dengerin dulu, orang ngomong jangan dipotong.” Ia pun kembali
duduk, sambil memalingkan wajah.
“Aku
bukan orang kaya, punya pangkat apalagi prestasi membanggakan. Motor butut,
rumah saja warisan orang tua. Mustahil ada gadis mau mendekat.”
“Berarti
aku bodoh mau sama kamu?”
Aku
menepuk jidat sambil mengacak-acak rambut.
Tiba-tiba
listrik padam lekas kucari lilin juga korek api. Sari masih bungkam, seolah
suaminya pesakitan siap menunggu eksekusi esok hari. Badai masih berhembus tak
kunjung tenang malah kian lebat. Dalam kegelapan jemari mencari pegangan, hingga
menyentuh permukaan halus nan lembut. Napas wanita itu menghangatkan kuping,
kalimat juga kata mengalir lancar. Ia
menuntunku persis pengembala membawa pulang kerbau ke kandang. Tiada yang bisa
dilihat, gelap gulita, hanya ada suara rintik hujan menghantam atap.
Hujan
seperti kata orang, membawa kenangan lampau hadir kembali. Entah itu suka
maupun duka. Kota ini terlalu tenteram kataku pada suatu masa. Kau pun
mengamini. Meski begitu tak pernah kusesali hidup juga tumbuh di sana. Kita
pernah menghabiskan waktu seharian, berziarah ke makam raja-raja juga
petilasan. Seorang model tengah berpose dalam balutan kebaya modern juga riasan
tebal. Sementara si laki-laki membawa payung guna menghalangi sinar matahari.
Fotografer mengarahkan wanita itu dengan terampil dan tak makan waktu. Ia
seperti sudah mafhum watak bonekanya sendiri. Senyuman hanya akan nampak di
kertas berukuran 3x4 atau lebih lebar dari itu. Setelahnya berubah masam juga
gerutuan terus-menerus. Di bawah pohon Maja yang kau kira sebagai Jeruk Bali,
kuistirahatkan kaki juga tangan yang pegal usai berkendara. Aku memang bodoh,
tak pernah berpikiran panjang, sejujurnya badan masih dalam kondisi kurang
baik. Tapi tetap saja memaksakan diri untuk berangkat. Kau pun akhirnya mau tak
mau, mengoleskan balsam di sekitar leher yang kaku bagai batu. Saat itulah
kulihat sesuatu yang beda di dua bola matamu, seakan aku tersedot ke dalam
gelap malam. Kuajak untuk berswafoto namun kau menolak. Seketika diri jadi
malas melakukan apa-apa.
“Aku
tak ingin membuat kenangan. Kenangan yang mungkin nanti membuatku sakit atau
menangis sendiri di pagi hari.” belamu.
“Aku
tahu.”
“Semuanya
tidak menjadi sederhana, malah kian rumit.”
“Kau
mau aku melakukan apa? Mengajakmu kawin lari?” tantangku.
Jawaban
itu ternyata memancing butiran bening luruh dari ceruk matamu, lekas kuhapus
dengan sapu tangan.
“Jangan
mengatakan itu lagi. Hanya membuatku makin sedih.”
“Kau
pantas bahagia. Kau punya pilihan, jangan diam saja menerima keadaan.”
“Jika
tak kulakukan, muka kedua orang tuaku mau ditaruh di mana?” ucapmu sambil
menahan tangis. Kuembuskan napas panjang, tak ingin memperpanjang perdebatan.
***
Dalam
gedung menunggu hujan reda. Beberapa pasang muda-mudi beradu bibir juga
berdekapan depan umum. Satpol PP siap meringkus kapan saja. Bioskop tampak
ramai, ada film baru tengah rilis. Antrian mengular sampai keluar. Kau
memandangi deretan poster serta judul, film barat tak membuat dirimu ingin
membeli tiket. Menurutmu, Koko Bruce Lee atau Jackie Chan lebih keren ketika
mengeluarkan jurus Kungfu. Mereka memang hebat, tak mau menggunakan pemeran
pengganti di tiap cerita yang dimainkan. Hal itu membuat pihak asuransi ogah menjamin bila ada kecelakaan, meski
dibayar premi tinggi. Ibu pertiwi tak lupa melahirkan Iko Uwais juga Yayan
Ruhiyan yang tangkas bersilat sampai mendapat sambutan dunia. Namun, sungguh
malang nasibku, kau ajak menyaksikan film horor. Bukan pengecut, tapi sungguh,
kenapa manusia harus membayar untuk ditakut-takuti? Kau tersenyum manis.
“Aku
tak tanggung jawab bila kau mimpi buruk.”
“Bilang
saja kamu penakut.”
“Aku
sudah memperingatkan, jangan salahkan aku.”
Sepanjang
cerita, aku lebih banyak menerka di mana mahluk tak kasat mata itu muncul.
Musik yang serba mengagetkan juga kadang terdengar kencang setelah
lirih—membuat jantung rasanya ingin copot saja. Depan kursi, ada seorang lelaki
tua berkemeja, gendut tengah mendengkur. Tidurnya nyenyak meski penonton
berulang kali menjerit juga berteriak. Suara bayi menangis sesekali mengganggu
keasyikan. Terkadang ada yang turun ke toilet hingga menutupi layar sejenak.
Aku sama sekali tak menikmati pertunjukan, lebih banyak menutup mata. Pulang
dari sana, kucoba memejamkan mata barang beberapa kejap. Namun, gagal karena
kau menelpon. Dalam otak berbagai kemungkinan muncul.
“Apa
kubilang, dinasehati ngenyel sih.”
“Aku
gak mimpi, Ham.”
“Terus?”
“Ada
sesosok bayangan dengan mata merah menatapku dari kolong tempat tidur.”
terdengar suara di seberang putus-putus.
“Yasudah,
nyalakan lampu baca doa.”
Daratan
diselimuti butiran putih tebal, air menjadi padat dan semua orang sibuk mencari
cokelat hangat. Suhu turun sedemikian rupa, hingga asap keluar dari mulut mirip
seekor naga. Listrik padam, pasokan air pun terhenti. Sinyal telepon tak bisa
digunakan. Awalnya, kupikir hujan semalam takkan menjadi bencana global.
Nyatanya kehidupan kembali seperti jaman es. Orang-orang memakai jaket tebal
dari kulit binatang. Mulai belajar mengasah tombak dan melubangi dinding es
guna menangkap ikan. Bersaing dengan beruang kutub yang jauh lebih besar dan
ganas ketika kelaparan. Saat keluar dari rumah, pemadangan timbunan salju
menjadi lumrah, dunia mungkin sudah kiamat. Tak seorang pun selamat. Matahari
kian dekat. Saatnya untuk menghakimi para penjahat. Tanpa sadar kau lenyap dari
sampingku. Orang-orang sibuk memikirkan diri sendiri. Aku pun berjalan di
permukaan es yang dulunya sebuah danau luas nan dalam. Kakiku tak sengaja
berpijak pada lapisan tipis, sekejap tubuh ini kuyup juga disengat hawa dingin.
Teriakan minta tolong menjadi tidak berguna. Dan, pemandangan pun beralih muka
Sari tengah marah.
“Kalau
tidur TV itu dimatikan, kebiasan memang!” keluhnya.
Jeruk
Macan, 9 Agustus 2017






