Thursday, October 26, 2017

Cerpen


Sungai Sangiran
Orang-orang menemukan tulang manusia sebelum kami. Fosil yang dipercaya sebagai nenek moyang, anak-cucu Adam. Pun didukung teori Darwin, bahwa manusia satu keluarga dengan primata. Itu pula sebab jamak orang bertingkah liar akhir-akhir ini. Kerumunan itu turun ke jalan membawa spanduk bertuliskan tuntutan, bersama anak kecil dengan masa tak terhitung. Polisi hanya bisa menghadang sebelum pendemo masuk ke gedung pemerintah. Mencegah adanya ban dibakar atau lemparan bom Molotov. Para pedagang kaki lima ketiban rejeki, dagangan ludes dilahap pembeli. Presenter berita menyiarkan peristiwa dari pagi hingga petang menjelang. Iklan selingan sejenak mendinginkan suasana panas juga mencekam. Kota menjadi tegang, beberapa petugas begadang, sementara jalanan ramai pedagang. Aku memutuskan kembali ke masa lalu, menunggangi cahaya dengan rumus Relativitas buatan Enstein. Perlu waktu lama menciptakan mesin tersebut. Tiada ilmuwan lain tahu proyek maha rahasia ini. Mereka hanya memikirkan uang sokongan pemerintah juga penghargaan ditambah sanjungan masyarakat. Dari sana organisasi mengeluarkanku dan menghapus semua rekam jejak. Entah itu, penemuan ruang lima dimensi juga alat teleportasi—yang masih dalam proses pengembangan dan tentunya jangan sampai jatuh ke tangan publik.
“Penemuanmu sungguh luar biasa, dunia perlu tahu ada penemu jenius sepertimu.” Ucap Profesor, dosen pembimbing tesis. Ia bekaca mata, rambut disemir hitam dan bau tubuh mirip tanah.
“Mungkin kau bisa melampaui Tuhan.”
“Untuk apa?”
“Menjelaskan semua pertanyaan yang belum terjawab. Banyak misteri menunggu untuk diungkap.”
Aku menutup laptop dan melepas jaket laboratorium.
“Semakin anda tahu banyak hal, kehidupan bukan menjadi baik. Hanya meninggalkan kehampaan.” Tukasku.
Ia berhenti bicara, lantas menatap ujung sepatunya dengan pandangan kosong. Mungkin sudah saatnya Elma mencari seseorang untuk membuat tempat tinggal. Melepas lembar laporan penelitian juga buku-buku bisu berdebu. Meski aku juga sangsi ada lelaki mau meminang seorang wanita hebat sepertinya. Gelar juga peghargaan itu terlalu agung untuk membuat mereka yakin atau percaya diri bersanding dengannya. Elma kadang melampiaskan hasrat biologis sendiri dibantu alat. Ia emoh membayar lelaki muda atau jadi perempuan pinggir jalan. berselingkuh dengan teman kerja pun tak terpikir.
Kami memilih tinggal di apartemen pinggir kota, tempat banyak gang sempit berjejer. Meski royalti hasil sumbangsih hukum juga temuan sudah dipatenkan, cukup membeli sebuah rumah real estate dan mobil mewah. Pemukiman itu membuat kami menjadi manusia seutuhnya. Bahkan dulu sebelum orang tua meninggal, kehidupan masih hangat untuk diakrabi. Suara ayam jago meramaikan pagi, lenguh sapi mengunyah rerumputan juga bau bunga-bunga. Para petani membawa tumpeng merayakan musim tanam pertama. Aku berjalan di pematang mengawasi kerbau juga tanaman dari serangan burung-burung.Lumpur menyelimuti kaki, terik matahari menyengat. Nasi belum tanak, biasanya ibu bakal mengantar bekal bila bayangan mulai tinggi. Tak jauh dari sana, sungai kecil dihuni mahluk-mahluk air juga ular sawah. Jika tak sempat mandi, aku lekas terjun ke air tanpa sehelai pakaian. Beberapa gadis perawan menyuci baju dengan kain melilit tubuh sampai dada. Mereka tertawa riang seolah tak takut diintip dari kejauhan. Masing-masing memiliki kulit kuning langsat juga rambut hitam lebat.
“Jadi bulan depan kau menikah?” ucap salah satu dari mereka.
“Entahlah, kaum kita bukankah menunggu pinangan sejak dahulu.”
 Aku mendengar perbincangan sambil bersembunyi di balik sarung juga semak-semak.
“Kau tak lupa kawan kita, Sinta? Setelah menikah kehidupannya berubah, enggan untuk berkumpul dengan kita lagi.”
“Bukan keinginannya.”
“Itu lebih baik daripada anaknya tidak punya bapak.”
“Lelaki itu memang keparat, mau enak tapi enggak pengen anak.”
Mereka pun mengakhiri obrolan setelah perempuan bernama Siti pamit pulang  ditunggu orang rumah. Tinggal gadis itu sendiri membilas cucian, sebelum undur diri ia berendam di sungai. Aku pun menyusul dengan melepas pakaian juga  sarung, hanya menyisakan celana pendek. Perempuan itu tampak menikmati mandinya, wajahnya yang basah terlihat teduh—tanpa ada beban sedikit pun. Ia terlihat kaget tatkala melihatku dan lekas menutupi dada dengan dua telapak tangan.
“Pemerkosa! Lelaki mesum.”
Aku menaruh telunjuk di mulut. “Ssst! Jangan teriak, bahaya kalau ada orang yang datang.”
“Biar, nanti kau digebuk atau diarak keliling kampung.”
“Itu pun kalau seperti itu, kalau sampai dibakar bagaimana?”
“Bukan urusanku.”
“Kau tak takut, aku jadi hantu penasaran karena mati tidak wajar. Dan, menghantui seumur hidup atau paling buruk membunuhmu?” ucapku sambil tertawa.
“Ah, jangan menakutiku.”
Ia diam sambil menimbang-nimbang kemungkinan terburuk.
Tanpa sepengetahuan kami, Siti, teman nyuci atau mandinya mengajak warga bersama pak RT menciduk kami. Orang-orang itu membawa senjata tajam juga obor di tangan. Mereka mengurung kami di balai desa, lantas mengadakan rapat dadakan. Penentu nasib kami esok hari, dibawa ke kantor polisi atau paling buruk mati.  
“Apa kubilang!” ucap Sari.
“Apaan memang?”
“Kau takkan selamat!”
“Lebih tepatnya kita.”
“Kenapa aku juga?”
“Mereka tentu menganggapmu perempuan jalang tak punya harga diri. Mandi bersama seorang lelaki.”
“Tidak, tidak mungkin. Aku takkan ke napa-napa.” Ucapnya histeris sambil menutup muka.
“Kau mungkin dirajam atau dibuang ke kampung lain karena membawa sial.”
“Orang tuaku bakal membelaku, keluargaku pasti pasang badan.”
Aku tertawa sambil menghela napas.
“Kalau begitu, seharusnya mereka sudah datang sejak tadi. Wahai nona manis?”
Sari diam dengan muka kusut, air mata menetes dari sana.
“Apa salahku padamu? Sampai bernasib seperti ini. Kenal saja tidak, tega kau merusak masa depan gadis sepertiku.”
“Aku datang dari masa depan.”
“Jangan melantur, tadi kau bertindak cabul sekarang berlagak gila?!”
“Namamu Sari, bukan?”
“Yah, kenapa? Bukan berarti kau tahu namaku, lantas aku percaya semua omong kosongmu.”
“Di dekat dadamu, ada tahi lalat kecil. Tanda lahirmu.”
Seketika wajah gadis itu berubah merah seolah akan meledak segala amarah.
“Kau memang benar-benar mesum, pasti sejak tadi kau mengintipku di sungai.”
“Terserah kalau tidak percaya.” Belaku.
Mereka pun membawa kami ke bibir sungai, mungkin akan ada suatu upacara penyucian. Wajah orang-orang itu terlihat beringas tanpa belas kasih. Anak-anak berlindung dalam dekap ibu masing-masing. Hanya pria dewasa yang diijinkan mendekat. Kami diikat di tiang yang berbeda. Nampaknya ajal sudah kian dekat. Malaikat kematian sudah berada depan mata. Sampai salah seorang dari kawanan tersebut mendekati Sari dan menyobek pakaiannya. Tak kepalang malu dilihat oleh semua orang. Tidak ada yang merasa aneh dengan tindakan biadab itu. Dengan perasaan juga hati terbakar, lekas kucabut pistol dari pinggang dan menyarangkan peluru ke kepala si brengsek. Tubuh gempal tersebut tumbang seketika ke tanah, dan membuat orang-orang berlarian mencari perlindungan. Kuhampiri wanita malang itu dan membawanya pergi. Si Mayat atau bangkai manusia tergeletak tak seorang pun mau mengurus. Burung gagak mematuki jasad itu sampai berupa tulang-belulang. Sungai Sangiran belum ramai seperti saat ini.
Jeruk Macan, 19 Agustus 2017 

No comments:

Post a Comment