Sungai Sangiran
Orang-orang
menemukan tulang manusia sebelum kami. Fosil yang dipercaya sebagai nenek
moyang, anak-cucu Adam. Pun didukung teori Darwin, bahwa manusia satu keluarga
dengan primata. Itu pula sebab jamak orang bertingkah liar akhir-akhir ini.
Kerumunan itu turun ke jalan membawa spanduk bertuliskan tuntutan, bersama anak
kecil dengan masa tak terhitung. Polisi hanya bisa menghadang sebelum pendemo
masuk ke gedung pemerintah. Mencegah adanya ban dibakar atau lemparan bom
Molotov. Para pedagang kaki lima ketiban rejeki, dagangan ludes dilahap
pembeli. Presenter berita menyiarkan peristiwa dari pagi hingga petang
menjelang. Iklan selingan sejenak mendinginkan suasana panas juga mencekam.
Kota menjadi tegang, beberapa petugas begadang, sementara jalanan ramai
pedagang. Aku memutuskan kembali ke masa lalu, menunggangi cahaya dengan rumus
Relativitas buatan Enstein. Perlu waktu lama menciptakan mesin tersebut. Tiada
ilmuwan lain tahu proyek maha rahasia ini. Mereka hanya memikirkan uang
sokongan pemerintah juga penghargaan ditambah sanjungan masyarakat. Dari sana
organisasi mengeluarkanku dan menghapus semua rekam jejak. Entah itu, penemuan
ruang lima dimensi juga alat teleportasi—yang masih dalam proses pengembangan
dan tentunya jangan sampai jatuh ke tangan publik.
“Penemuanmu
sungguh luar biasa, dunia perlu tahu ada penemu jenius sepertimu.” Ucap
Profesor, dosen pembimbing tesis. Ia bekaca mata, rambut disemir hitam dan bau
tubuh mirip tanah.
“Mungkin
kau bisa melampaui Tuhan.”
“Untuk
apa?”
“Menjelaskan
semua pertanyaan yang belum terjawab. Banyak misteri menunggu untuk diungkap.”
Aku
menutup laptop dan melepas jaket laboratorium.
“Semakin
anda tahu banyak hal, kehidupan bukan menjadi baik. Hanya meninggalkan
kehampaan.” Tukasku.
Ia
berhenti bicara, lantas menatap ujung sepatunya dengan pandangan kosong.
Mungkin sudah saatnya Elma mencari seseorang untuk membuat tempat tinggal.
Melepas lembar laporan penelitian juga buku-buku bisu berdebu. Meski aku juga
sangsi ada lelaki mau meminang seorang wanita hebat sepertinya. Gelar juga
peghargaan itu terlalu agung untuk membuat mereka yakin atau percaya diri
bersanding dengannya. Elma kadang melampiaskan hasrat biologis sendiri dibantu
alat. Ia emoh membayar lelaki muda
atau jadi perempuan pinggir jalan. berselingkuh dengan teman kerja pun tak
terpikir.
Kami
memilih tinggal di apartemen pinggir kota, tempat banyak gang sempit berjejer.
Meski royalti hasil sumbangsih hukum juga temuan sudah dipatenkan, cukup
membeli sebuah rumah real estate dan
mobil mewah. Pemukiman itu membuat kami menjadi manusia seutuhnya. Bahkan dulu
sebelum orang tua meninggal, kehidupan masih hangat untuk diakrabi. Suara ayam
jago meramaikan pagi, lenguh sapi mengunyah rerumputan juga bau bunga-bunga.
Para petani membawa tumpeng merayakan musim tanam pertama. Aku berjalan di
pematang mengawasi kerbau juga tanaman dari serangan burung-burung.Lumpur
menyelimuti kaki, terik matahari menyengat. Nasi belum tanak, biasanya ibu
bakal mengantar bekal bila bayangan mulai tinggi. Tak jauh dari sana, sungai
kecil dihuni mahluk-mahluk air juga ular sawah. Jika tak sempat mandi, aku
lekas terjun ke air tanpa sehelai pakaian. Beberapa gadis perawan menyuci baju
dengan kain melilit tubuh sampai dada. Mereka tertawa riang seolah tak takut
diintip dari kejauhan. Masing-masing memiliki kulit kuning langsat juga rambut
hitam lebat.
“Jadi
bulan depan kau menikah?” ucap salah satu dari mereka.
“Entahlah,
kaum kita bukankah menunggu pinangan sejak dahulu.”
Aku mendengar perbincangan sambil bersembunyi
di balik sarung juga semak-semak.
“Kau
tak lupa kawan kita, Sinta? Setelah menikah kehidupannya berubah, enggan untuk
berkumpul dengan kita lagi.”
“Bukan
keinginannya.”
“Itu
lebih baik daripada anaknya tidak punya bapak.”
“Lelaki
itu memang keparat, mau enak tapi enggak pengen anak.”
Mereka
pun mengakhiri obrolan setelah perempuan bernama Siti pamit pulang ditunggu orang rumah. Tinggal gadis itu
sendiri membilas cucian, sebelum undur diri ia berendam di sungai. Aku pun
menyusul dengan melepas pakaian juga
sarung, hanya menyisakan celana pendek. Perempuan itu tampak menikmati
mandinya, wajahnya yang basah terlihat teduh—tanpa ada beban sedikit pun. Ia
terlihat kaget tatkala melihatku dan lekas menutupi dada dengan dua telapak
tangan.
“Pemerkosa!
Lelaki mesum.”
Aku
menaruh telunjuk di mulut. “Ssst! Jangan teriak, bahaya kalau ada orang yang
datang.”
“Biar,
nanti kau digebuk atau diarak keliling kampung.”
“Itu
pun kalau seperti itu, kalau sampai dibakar bagaimana?”
“Bukan
urusanku.”
“Kau
tak takut, aku jadi hantu penasaran karena mati tidak wajar. Dan, menghantui
seumur hidup atau paling buruk membunuhmu?” ucapku sambil tertawa.
“Ah,
jangan menakutiku.”
Ia diam
sambil menimbang-nimbang kemungkinan terburuk.
Tanpa
sepengetahuan kami, Siti, teman nyuci atau mandinya mengajak warga bersama pak
RT menciduk kami. Orang-orang itu membawa senjata tajam juga obor di tangan.
Mereka mengurung kami di balai desa, lantas mengadakan rapat dadakan. Penentu
nasib kami esok hari, dibawa ke kantor polisi atau paling buruk mati.
“Apa
kubilang!” ucap Sari.
“Apaan
memang?”
“Kau
takkan selamat!”
“Lebih
tepatnya kita.”
“Kenapa
aku juga?”
“Mereka
tentu menganggapmu perempuan jalang tak punya harga diri. Mandi bersama seorang
lelaki.”
“Tidak,
tidak mungkin. Aku takkan ke napa-napa.” Ucapnya histeris sambil menutup muka.
“Kau
mungkin dirajam atau dibuang ke kampung lain karena membawa sial.”
“Orang
tuaku bakal membelaku, keluargaku pasti pasang badan.”
Aku
tertawa sambil menghela napas.
“Kalau
begitu, seharusnya mereka sudah datang sejak tadi. Wahai nona manis?”
Sari
diam dengan muka kusut, air mata menetes dari sana.
“Apa
salahku padamu? Sampai bernasib seperti ini. Kenal saja tidak, tega kau merusak
masa depan gadis sepertiku.”
“Aku
datang dari masa depan.”
“Jangan
melantur, tadi kau bertindak cabul sekarang berlagak gila?!”
“Namamu
Sari, bukan?”
“Yah,
kenapa? Bukan berarti kau tahu namaku, lantas aku percaya semua omong
kosongmu.”
“Di
dekat dadamu, ada tahi lalat kecil. Tanda lahirmu.”
Seketika
wajah gadis itu berubah merah seolah akan meledak segala amarah.
“Kau
memang benar-benar mesum, pasti sejak tadi kau mengintipku di sungai.”
“Terserah
kalau tidak percaya.” Belaku.
Mereka
pun membawa kami ke bibir sungai, mungkin akan ada suatu upacara penyucian.
Wajah orang-orang itu terlihat beringas tanpa belas kasih. Anak-anak berlindung
dalam dekap ibu masing-masing. Hanya pria dewasa yang diijinkan mendekat. Kami
diikat di tiang yang berbeda. Nampaknya ajal sudah kian dekat. Malaikat
kematian sudah berada depan mata. Sampai salah seorang dari kawanan tersebut
mendekati Sari dan menyobek pakaiannya. Tak kepalang malu dilihat oleh semua
orang. Tidak ada yang merasa aneh dengan tindakan biadab itu. Dengan perasaan
juga hati terbakar, lekas kucabut pistol dari pinggang dan menyarangkan peluru
ke kepala si brengsek. Tubuh gempal tersebut tumbang seketika ke tanah, dan
membuat orang-orang berlarian mencari perlindungan. Kuhampiri wanita malang itu
dan membawanya pergi. Si Mayat atau bangkai manusia tergeletak tak seorang pun
mau mengurus. Burung gagak mematuki jasad itu sampai berupa tulang-belulang.
Sungai Sangiran belum ramai seperti saat ini.
Jeruk
Macan, 19 Agustus 2017

No comments:
Post a Comment