Warung
Kopi dan Sastra
Kami
sepakat bertemu di sebuah warung kopi dekat kampus. Malam itu amat cerah dan tak
ada tanda-tanda akan hujan. Sejujurnya badan telah letih berkendara di jalan,
meski jarak dari rumah tak teramat jauh. Butuh lima belas menit kiranya untuk sampai
tujuan. Tempat itu lengang saja, hanya ada dua laki-laki tengah bergelut dengan
laptop. Kenalan memesan es the untuk kami berdua. Ia menawarkan sebatang sigaret
pada saya, namun saya tampik dengan halus. Obrolan diawalinya dengan bertanya,
bagaimana proses kreatif saya dalam menulis cerita. Ia bukan orang pertama yang
mengajukan pertanyaan itu. Saya jawab, mudah saja dengan menulis sesuatu hal biasa
namun harus mengambil bagian menarik darinya. Contoh gampangnya, dalam cerpen “Terompet”
yang saya tulis dan dimuat Koran ini pada tanggal 11 Oktober 2015. Cerita pendek
itu mengulas seorang laki-laki yang amat muak dengan pesta tahun baru, ia seorang
karyawan dengan problema hidup yang mendera. Cerita itu amat umum dan mungkin sering
dialami banyak orang. Universal. Apa yang membuatnya menarik? Saya menyisipkan konflik
juga alur campuran dalam penggarapannya. Dan, pada akhir cerita ada twist
ending yang mungkin dapat diterka sebagian pembaca. Kenalan saya hanya manggut-mangut.
Ia berkata tahun ini akan membuat sebuah antologi cerpen berduet dengan seorang
teman penulis naskah drama. Tentu rencana yang sangat ambisius kiranya, terlebih
kenalan saya mahasiswa jurusan sastra Indonesia. Saya belajar banyak darinya tentang
teori-teori sastra. Ia mengaku kesulitan dalam membuat karya tulis, katanya takut
jelek atau kurang bermutu. Saya tergelak tak menyangka sama sekali. Butuh waktu,
inspirasi dan mood untuk menulis,
ungkapnya. Menulis memang suatu kebiasaan,
kalau belum terbiasa akan mandek jadinya. Baru-baru ini ia mengajak saya mengikuti
workshop menulis cerpen yang diadakan Wina Bojonegoro sabanSelasa sore di kedai
kreasi. Kedai itu sangat unik karena pelbagai acara seperti bedah buku dan pembacaan
puisi cukup rutin diadakan. Ia bagai oase di tengah masyarakat yang “haus dan lapar”
oleh sastra. Obrolan pun beralih pada nama mana yang cerpennya bakal jadi terbaik
Kompas tahun ini. Deretan nama-nama lama kerap muncul tiap tahun juga kami
perhitungkan: Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Tohari, Triwiyanto Triwikromo.
Juga dari golongan muda seperti Anggun Prameswari,
Faisal Oddang dan Guntur Alam. Tahun lalu, Faisal Oddang menjadi kampiun di
antara banyaknya pesohor lain. Ia juga menjadi Juara 4 sayembara novel Dewan Kesenian
Jakarta, lewat novelnya “Puya ke Puya”. Ngomong-ngomong soal sayembara novel
DKJ yang rutin diadakan dua tahun sekali, saya menantangnya menulis naskah
novel untuk lomba itu. Ia hanya menyeringai, dan bilang diusahakan. Tantangan itu
sebetulnya ditujukan untuk kami berdua demi mengukur sejauh mana kemajuan dalam
mengarang cerita. Cerita menarik bias kita nikmati secara mudah lewat film,
bila malas membaca halaman novel yang cukup tebal dan membuat mata lelah. Ia mempromosikan
karya-karya Cristopher Nolan sebagai unggulan. Terutama film “The Dark Knight”
yang menurutnya memiliki pemeran Joker yang takkan terganti dan menjiwai.
Banyak film Nolan dipuji kritikus memiliki penggarapan bagus dengan ide
cemerlang bahkan mengangkat tema fiksi ilmiah, seperti: Inception juga
Interstellar. Dia juga tak lupa menyuruh saya menonton “Memento” karya Nolan
yang alurnya tidak kami kira bias dibuat untuk menulis cerita. Obrolan malam itu
berakhir, ketika warung kopi hendak tutup dan kami pulang dengan berbagai macam
rencana berputar di pikiran.
Surabaya,
20 Juni 2016
Radar Mojokerto, 17 Juli 2016