Proses
Kreatif dalam Menulis
Saya
acap menemui teman yang mengaku dulu gemar menulis, entah puisi, cerpen maupun
novel. Lalu, mengapa sekarang berhenti dan tak menulis lagi? Ada yang menjawab
karena kesibukan di kampus, tak ada waktu. Namun, dari sekian alasan yang saya
terima. Dilarang orang tua, mungkin jawaban tak masuk diakal. Bahkan, barang
kali ada yang sampai sembunyi demi membaca sebuah novel. Tak dapat dipungkiri
masyarakat kita masih menganggap menulis (mengarang cerita) adalah pekerjaan
sia-sia dan tidak menghasilkan. Entah kapan pandangan itu bisa berubah. Bahwa
menulis sama pentingnya dengan rutinitas lain. Tugas para penulis membuktikan
stigma itu salah dan membuat tulisan menarik. Bicara tentang menulis tak lepas
dari proses kreatif. Mungkin, jika kau mengikuti seminar menulis atau membaca
buku panduan bagaimana mengarang cerita. Isinya hampir sama. Anjuran untuk
meluangkan waktu dan menjauhkan diri dari keriuhan sambil fokus bergelut dalam
cerita. Juga ini yang paling penting banyak-banyaklah membaca buku atau novel bagus.
Siapa tahu kau bisa menulis hal serupa atau melebihinya. Tak semua penulis mau
membagi bagaimana proses mereka mencipta sebuah karya. Hanya di bagian mendasar,
selebihnya disimpan. Tulisan ini mungkin sedikit memberi gambaran bagaimana proses
kreatif saya. Yang pertama, saya mencari ide dengan membaca buku fiksi atau
non-fiksi, melihat film atau pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Sepele
memang, namun beberapa orang sering mengeluh sulit menemukan ide untuk menulis.
Kadang menunggu Ilham datang menghampiri, melamun sambil menghabiskan waktu. Tak
semua cocok dengan cara ini. Langkah selanjutnya, menyisihkan sebagian waktu
guna menulis. Banyak yang akan menyerah di taraf ini karena beralasan sibuk
dengan rutinitas. Namun, faktanya seorang dosen di kampus menulis sebuah buku
padahal ia sangat sibuk mengajar, mengisi seminar ditambah lagi bergelar Professor.
Semua kembali pada diri sendiri, apa punya komitmen untuk menyelesaikan tulisan.
Soal ini saya terbilang nakal, teman-teman penulis lain getol menulis setiap
hari demi bisa dimuat media massa lokal atau nasional. Beberapa ada yang
memasang target sekian cerpen dimuat di koran pada tahun itu. Tak ada yang
salah dengan keyakinan ini, semua punya pilihan masing-masing. Dari beberapa
tulisan yang saya buat, di awal yakin sudah yang terbaik, namun setelah dimuat
ada beberapa kekecewaan. Seperti ada yang kurang, perlu diperbaiki, meski
beberapa teman yang membaca tak ambil pusing. Selain itu, saya kerap menulis
ketika sedang mood, ini hal kurang
baik terutama bagi penulis yang dikejar deadline menyerahkan naskah pada
editor. Saya kadang merutuki juga bersyukur. Teman-teman sering menganggap penulis
kerap mengurung diri di kamar. Nyatanya, di luar urusan menulis, ia tak melulu
mengerjakan hal yang sama, tentu membosankan. Ada hal lain, entah bermain
musik, berolahraga atau kesenangan lain. Tahap terakhir yakni mengedit tulisan
yang telah selesai, mengoreksi bagian kurang sesuai dan mengirimnya ke media
atau penerbit. Singkatnya begitulah apa yang saya lakukan dalam proses kreatif.
Selebihnya, menghibur diri di tengah kegiatan menulis. Sesekali mengikuti
seminar atau bedah buku penulis guna menambah pengalaman, pengetahuan juga
kenalan. Dalam forum itu bisa saja ada pencerahan untuk menulis atau mengajukan
pertanyaan pada pemateri. Menulis tak pelak mengantarkan saya pada banyak orang
baru, baik kawan sesama penulis juga yang baru tertarik ingin menggeluti.
Godaan terbesar bagi saya—juga para penulis lain—ketika baru-baru ini beberapa
bazar buku dihelat secara bersamaan di Surabaya dalam tempo berdekatan. Buku-buku
bagus dihargai miring, bahkan ada yang cukup tebal masih berplastik. Saya lantas
berpikir bagaimana perasaan si penulis mendapati jerih payahnya dilelang begitu
murah. Pada saat itu pula saya membayangkan diri ada di posisi mereka, sungguh
tak mengenakkan sekali. Akhir-akhir ini saya jarang membeli buku baru, mungkin
ada sedikit rasa cemburu mendapati teman-teman penulis lain sudah punya karya
sendiri dan dipajang di toko buku. Lebih banyak membaca dan menulis tulisan
baru. Hal ini sempat saya diskusikan dengan seorang teman. Ia sudah punya
beberapa karya meski belum diterbitkan penerbit besar. Meski begitu tak sedikit
seminar luar kota dan kampus juga sekolah diisi olehnya. Saya kagum kepadanya,
apalagi ia perempuan, sepantaran juga sama-sama mahasiswa. Kadang beberapa kali
kami diksusi tentang perkembangan menulis, penerbit sampai hal remeh-temeh.
Surabaya,
11 November 2016
Radar Mojokerto, 15 Januari 2017
