Sunday, January 15, 2017

Esai

Proses Kreatif dalam Menulis
Saya acap menemui teman yang mengaku dulu gemar menulis, entah puisi, cerpen maupun novel. Lalu, mengapa sekarang berhenti dan tak menulis lagi? Ada yang menjawab karena kesibukan di kampus, tak ada waktu. Namun, dari sekian alasan yang saya terima. Dilarang orang tua, mungkin jawaban tak masuk diakal. Bahkan, barang kali ada yang sampai sembunyi demi membaca sebuah novel. Tak dapat dipungkiri masyarakat kita masih menganggap menulis (mengarang cerita) adalah pekerjaan sia-sia dan tidak menghasilkan. Entah kapan pandangan itu bisa berubah. Bahwa menulis sama pentingnya dengan rutinitas lain. Tugas para penulis membuktikan stigma itu salah dan membuat tulisan menarik. Bicara tentang menulis tak lepas dari proses kreatif. Mungkin, jika kau mengikuti seminar menulis atau membaca buku panduan bagaimana mengarang cerita. Isinya hampir sama. Anjuran untuk meluangkan waktu dan menjauhkan diri dari keriuhan sambil fokus bergelut dalam cerita. Juga ini yang paling penting banyak-banyaklah membaca buku atau novel bagus. Siapa tahu kau bisa menulis hal serupa atau melebihinya. Tak semua penulis mau membagi bagaimana proses mereka mencipta sebuah karya. Hanya di bagian mendasar, selebihnya disimpan. Tulisan ini mungkin sedikit memberi gambaran bagaimana proses kreatif saya. Yang pertama, saya mencari ide dengan membaca buku fiksi atau non-fiksi, melihat film atau pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Sepele memang, namun beberapa orang sering mengeluh sulit menemukan ide untuk menulis. Kadang menunggu Ilham datang menghampiri, melamun sambil menghabiskan waktu. Tak semua cocok dengan cara ini. Langkah selanjutnya, menyisihkan sebagian waktu guna menulis. Banyak yang akan menyerah di taraf ini karena beralasan sibuk dengan rutinitas. Namun, faktanya seorang dosen di kampus menulis sebuah buku padahal ia sangat sibuk mengajar, mengisi seminar ditambah lagi bergelar Professor. Semua kembali pada diri sendiri, apa punya komitmen untuk menyelesaikan tulisan. Soal ini saya terbilang nakal, teman-teman penulis lain getol menulis setiap hari demi bisa dimuat media massa lokal atau nasional. Beberapa ada yang memasang target sekian cerpen dimuat di koran pada tahun itu. Tak ada yang salah dengan keyakinan ini, semua punya pilihan masing-masing. Dari beberapa tulisan yang saya buat, di awal yakin sudah yang terbaik, namun setelah dimuat ada beberapa kekecewaan. Seperti ada yang kurang, perlu diperbaiki, meski beberapa teman yang membaca tak ambil pusing. Selain itu, saya kerap menulis ketika sedang mood, ini hal kurang baik terutama bagi penulis yang dikejar deadline menyerahkan naskah pada editor. Saya kadang merutuki juga bersyukur. Teman-teman sering menganggap penulis kerap mengurung diri di kamar. Nyatanya, di luar urusan menulis, ia tak melulu mengerjakan hal yang sama, tentu membosankan. Ada hal lain, entah bermain musik, berolahraga atau kesenangan lain. Tahap terakhir yakni mengedit tulisan yang telah selesai, mengoreksi bagian kurang sesuai dan mengirimnya ke media atau penerbit. Singkatnya begitulah apa yang saya lakukan dalam proses kreatif. Selebihnya, menghibur diri di tengah kegiatan menulis. Sesekali mengikuti seminar atau bedah buku penulis guna menambah pengalaman, pengetahuan juga kenalan. Dalam forum itu bisa saja ada pencerahan untuk menulis atau mengajukan pertanyaan pada pemateri. Menulis tak pelak mengantarkan saya pada banyak orang baru, baik kawan sesama penulis juga yang baru tertarik ingin menggeluti. Godaan terbesar bagi saya—juga para penulis lain—ketika baru-baru ini beberapa bazar buku dihelat secara bersamaan di Surabaya dalam tempo berdekatan. Buku-buku bagus dihargai miring, bahkan ada yang cukup tebal masih berplastik. Saya lantas berpikir bagaimana perasaan si penulis mendapati jerih payahnya dilelang begitu murah. Pada saat itu pula saya membayangkan diri ada di posisi mereka, sungguh tak mengenakkan sekali. Akhir-akhir ini saya jarang membeli buku baru, mungkin ada sedikit rasa cemburu mendapati teman-teman penulis lain sudah punya karya sendiri dan dipajang di toko buku. Lebih banyak membaca dan menulis tulisan baru. Hal ini sempat saya diskusikan dengan seorang teman. Ia sudah punya beberapa karya meski belum diterbitkan penerbit besar. Meski begitu tak sedikit seminar luar kota dan kampus juga sekolah diisi olehnya. Saya kagum kepadanya, apalagi ia perempuan, sepantaran juga sama-sama mahasiswa. Kadang beberapa kali kami diksusi tentang perkembangan menulis, penerbit  sampai hal remeh-temeh.
Surabaya, 11 November 2016
Radar Mojokerto, 15 Januari 2017