Riwayat Sebuah Selendang
Suara
gamelan mengisi malam dingin nan hening. Sebuah pentas sedang berlangsung,
dihelat kepala dusun guna syukuran bersih desa. Pusat perhatian penonton
tertuju pada sesosok dara ayu pemilik senyum menggoda. Siapa tak kenal Sita?
Banyak pemuda takluk tiap menatap mata indah miliknya. Beberapa pejabat rela
datang melihat penampilan gadis itu, membawa sejumlah oleh-oleh juga kado. Meski,
lebih sering dikembalikan, Sita enggan menerima barang mewah. Sudah banyak
lelaki ingin meminangnya, namun belum ada yang membuat hati sreg. Mereka datang
dari kalangan berada, berilmu juga modal nekat. Ia tak jarang tertawa sendiri,
mengingat kelakuan calon suami. Suatu hari ada seorang kakek datang bersama
cucunya. Sita pikir lelaki tua itu ingin menemani saja, tak dinyana malah
melamar. Sontak wajahnya berubah pucat memikirkan cara menolak yang halus. Sebaiknya Mbah giat ibadah ketimbang mikir
urusan duniawi, tuturnya singkat. Diceramahi begitu memuat si kakek undur
diri dengan rasa malu juga kesal tertahan—dan, mungkin menyewa seorang
kupu-kupu malam. Jalannya mengangkang mirip bocah usai sunat. Sama seperti
malam-malam sebelumnya, ia bersiap sebelum para pemain lengkap dengan tetabuhan
tiba. Anak-anak kecil mengekor di belakang truk. Perias lekas memerelok wajah
tirus itu—walau tanpa bedak juga segala kosmetik tetap menawan. Kali ini,
seorang warga anaknya melangsungkan pernikahan, ia tak mau pesta berlalu begitu
saja. Biasa dan tak memiliki makna apa-apa. Maka dipanggilah dalang, sinden,
juga beberapa penari. Dari pintu tubuh mungil itu keluar, tiap mata memandang
takjub bukan kepalang. Alisnya tajam jua runcing, mata belok, hidung mbangir, kulit kuning langsat serta
senyum memikat. Mengukuhkannya sebagai jelmaan bidadari Nawang Wulan. Dibalut
kebaya kuning, kain jarik mempercantik, kemben membuat punggungnya tegak. Dada
Sita meski tak terlalu besar ataupun kecil, menjadi daya Tarik tersendiri—proporsional
bagi sebagian mata nakal para lelaki. Gerak lakunya luwes, mirip merak
mengembangkan bulu-bulu permata hijau biru. Ia tetap bisu kala saban orang
menggoda atau memuji dirinya. Telinganya mendadak tuli, menghindari ucapan
manis beberapa pria. Lewat jendela, diintipnya halaman penuh warga tak sabar
melihat. Para penjual makanan-minuman sudah memadati sejak petang. Sementara
bandar dadu juga togel bersembunyi di balik rimbun pohon pisang. Para preman
keluar dari persembunyian, mencari lawan atau sesuatu untuk diminum. Sita
memasang wajah dingin juga tatapan kosong, tatkala melintasi kerumunan. Dalam
hati, dirapalnya doa agar tak terjadi malapetaka atau tergoda saweran. Pawang
hujan tuntas menjalankan ritual mengusir hujan yang semenjak sore memunculkan digdaya,
lewat mendung hitam nan kelam. Pernah suatu masa, ada yang hendak menaruh uang
di sela-sela dada, tak perlu waktu lama bagi Sita mendaratkan tamparan keras.
Ia sadar betul, meski dirinya seorang penari tak patut diperlakukan seperti
itu. Suasana berubah magis, ketika Tembang Macapat dilagukan seorang sinden.
Suara tersebut seolah memanggil seluruh mahluk datang meramaikan hajatan. Sita
tampak heran mendapati wajahnya di kaca. Jika malam rambutnya disanggul,
memakai riasan tebal bak pengantin perempuan. Bila matahari muncul, ia sama
seperti gadis dusun kebanyakan, bersahaja dengan dandanan sederhana. Sembari
menenteng tas cangklong, wanita itu menuju garasi lalu menyalakan motor.
Murid-murid tengah menanti kedatangannya. Tempat itu tak jauh dari rumah, dekat
lapangan bola juga lahan pertanian milik warga. Kadang kambing masuk wilayah
sekolah andai si pengembala lalai, saking asyik mencari rerumputan. Masuk ruang
guru, beberapa orang menyapa, sebagian kecil membicarakan aktifitasnya kala
malam. Sita tak pernah hirau ucapan mereka, bisa jadi hanya iri karena tak
pintar menari. Bel pelajaran berbunyi, para guru gegas ke dalam kelas untuk
mengajar. Dengan perasaan sedikit kesal wanita itu berjalan di lorong sambil
mengamati halaman gersang tanpa rumput. Musim panas debu kerap membuat sesak
napas juga mata pedih. Sita mengajak mereka bernyanyi Tembang Dolanan guna menghilangkan kejenuhan.
Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan dadi gelo
Usai
mengajar ia melatih anak-anak gadis menari. Sita tak menarik bayaran, baginya
bila ada anak muda yang peduli dengan warisan masa lalu, amanat gurunya sudah
tunai dan menjadi milik generasi berikutnya. Memang tak semua orang mendukung
keinginan itu. Salah seorang orangtua murid datang sambil memaki dan berkata
anaknya dijual sebagai pemuas lelaki. Sita tentu tak terima dan menjelaskan
duduk perkara, bahwa semua yang ia lakukan murni panggilan hati dalam
berkesenian. Tapi percuma banyak yang tak percaya dan melarang anak mereka
untuk datang kembali. Sita pun tenggelam kembali pada kesunyian, apapun yang ia
lakukan seakan ditolak alam semesta. Dalam kondisi tersebut wanita itu kerap
rindu belaian seseorang, tempatnya berlabuh juga bersandar. Ketika diterpa pilu
acap dilagukan Tembang, mengusir gundah.
“Lingsir Wengi. . . “ tiba-tiba seseorang
menepuk pundaknya dari belakang.
“Siang-siang
malah nyanyi lagu untuk ngundang setan.”
“Sok
tahu, tembang itu buatan para wali. Masyarakat saja yang menggantikan fungsi
aslinya.”
“Hm.”
“Kamu
enggak ngajar, Dasim?” tanyanya.
“Tidak
ada jam hari ini. Kamu sendiri?”
“Aku
sedang tak enak hati, badmood.”
Ungkapnya dengan wajah merengut.
“Oh.
Ini sampur, selendangmu. Kemarin
tertinggal di rumah Pak Polo.”
Malam
itu, tidak biasanya Sita malas untuk menari. Kepalanya agak pusing, perutnya
sedari tadi belum diisi dengan makanan. Namun, pertunjukan mesti berlanjut,
empunya hajat telah memintanya jauh-jauh hari. Wanita ayu itu berjalan anggun
sembari mengangkat selendang kebanggaan, Seorang pria berlari ke tengah
lapangan, mengajak menari dengan tampang juga tingkah genit. Sita tak
menyangka, ia tak lain kawannya sendiri.
“Ngapain
kamu ke sini?”
“Ya, pengen nari.”
“Gak
malu dipandang orang banyak?”
“Memang
masalah?”
“Kamu
itu guru!”
“Terus?”
“Digugu lan ditiru.”
“Makanya
aku mau banyak orang cinta sama budaya sendiri.”
Sita
dalam hati merutuki tabiat laki-laki di depannya, siapa sangka wajahnya yang
polos juga jarang mengeluarkan suara dalam rapat. Memiliki celah.
“Apa
kata orang jika melihat perilakumu!”
“Perilaku
kita?”
“Hm.”
“Peduli
kata orang. Toh mereka tidak sepenuhnya benar.”
Ia
sedikit mengamini perkataan Dasim, namun faktanya orang lebih suka menumbuhkan
prasangka buruk di dalam kepala.
Saat
pertama kali membuka mata, hal yang dicarinya adalah selendang. Ia tak khawatir
misal benda lain hilang atau lupa menaruh. Baginya kain wasiat itu harus dijaga
dengan sepenuh jiwa, kalau perlu bertaruh nyawa. Diturunkan kepadanya dari ibu,
ibu dari nenek, nenek dari buyutnya dan seterusnya. Konon sampur tersebut milik dari bidadari yang pernah diperistri Jaka
Tarub. Tentu jika dirunut kembali terdengar mustahil, karena Nawang Wulan
akhirnya kembali ke Kahyangan.
Meninggalkan suami juga anaknya. Setelah melapor pada polisi dan tak kunjung
mendapat kabar baik. Sita membuka sayembara, barang siapa yang bisa menemukan
selendang itu, jika laki-laki dijadikan suami, bila wanita diangkat saudara.
Maka gemparlah seluruh kampung, terutama para perjaka, bujang juga duda
berlomba-lomba. Mereka datang membawa bermacam kain beraneka rupa, bentuk,
warna juga harga. Namun tidak ada yang sesuai dengan apa yang Sita minta.
Akhirnya, gadis itu pasrah dan berniat menutup perlombaan juga merelakan
selendang miliknya. Tak dinyana, saat hendak menutup pintu matanya terpana
melihat bawaan lelaki itu.
“Di mana
kau menemukan selendangku?” tanyanya penasaran. Namun pria itu tak menjawab.
“Kau pasti mencurinya.”
Ia
tertawa. “Kau dari dulu tak pernah berubah. Selalu saja pelupa.”
“Kata
siapa?”
“Sekarang
saja kau tak pakai apa-apa.”
“Kamu
yang pikun!”
“Hla,
kok aku?”
“Ini
malam pertama, Dasim.” Tukasnya sambil tersenyum manis.
Jeruk
Macan, 24 Juli 2017

No comments:
Post a Comment