Thursday, October 19, 2017

Cerpen


Riwayat Sebuah Selendang
Suara gamelan mengisi malam dingin nan hening. Sebuah pentas sedang berlangsung, dihelat kepala dusun guna syukuran bersih desa. Pusat perhatian penonton tertuju pada sesosok dara ayu pemilik senyum menggoda. Siapa tak kenal Sita? Banyak pemuda takluk tiap menatap mata indah miliknya. Beberapa pejabat rela datang melihat penampilan gadis itu, membawa sejumlah oleh-oleh juga kado. Meski, lebih sering dikembalikan, Sita enggan menerima barang mewah. Sudah banyak lelaki ingin meminangnya, namun belum ada yang membuat hati sreg. Mereka datang dari kalangan berada, berilmu juga modal nekat. Ia tak jarang tertawa sendiri, mengingat kelakuan calon suami. Suatu hari ada seorang kakek datang bersama cucunya. Sita pikir lelaki tua itu ingin menemani saja, tak dinyana malah melamar. Sontak wajahnya berubah pucat memikirkan cara menolak yang halus. Sebaiknya Mbah giat ibadah ketimbang mikir urusan duniawi, tuturnya singkat. Diceramahi begitu memuat si kakek undur diri dengan rasa malu juga kesal tertahan—dan, mungkin menyewa seorang kupu-kupu malam. Jalannya mengangkang mirip bocah usai sunat. Sama seperti malam-malam sebelumnya, ia bersiap sebelum para pemain lengkap dengan tetabuhan tiba. Anak-anak kecil mengekor di belakang truk. Perias lekas memerelok wajah tirus itu—walau tanpa bedak juga segala kosmetik tetap menawan. Kali ini, seorang warga anaknya melangsungkan pernikahan, ia tak mau pesta berlalu begitu saja. Biasa dan tak memiliki makna apa-apa. Maka dipanggilah dalang, sinden, juga beberapa penari. Dari pintu tubuh mungil itu keluar, tiap mata memandang takjub bukan kepalang. Alisnya tajam jua runcing, mata belok, hidung mbangir, kulit kuning langsat serta senyum memikat. Mengukuhkannya sebagai jelmaan bidadari Nawang Wulan. Dibalut kebaya kuning, kain jarik mempercantik, kemben membuat punggungnya tegak. Dada Sita meski tak terlalu besar ataupun kecil, menjadi daya Tarik tersendiri—proporsional bagi sebagian mata nakal para lelaki. Gerak lakunya luwes, mirip merak mengembangkan bulu-bulu permata hijau biru. Ia tetap bisu kala saban orang menggoda atau memuji dirinya. Telinganya mendadak tuli, menghindari ucapan manis beberapa pria. Lewat jendela, diintipnya halaman penuh warga tak sabar melihat. Para penjual makanan-minuman sudah memadati sejak petang. Sementara bandar dadu juga togel bersembunyi di balik rimbun pohon pisang. Para preman keluar dari persembunyian, mencari lawan atau sesuatu untuk diminum. Sita memasang wajah dingin juga tatapan kosong, tatkala melintasi kerumunan. Dalam hati, dirapalnya doa agar tak terjadi malapetaka atau tergoda saweran. Pawang hujan tuntas menjalankan ritual mengusir hujan yang semenjak sore memunculkan digdaya, lewat mendung hitam nan kelam. Pernah suatu masa, ada yang hendak menaruh uang di sela-sela dada, tak perlu waktu lama bagi Sita mendaratkan tamparan keras. Ia sadar betul, meski dirinya seorang penari tak patut diperlakukan seperti itu. Suasana berubah magis, ketika Tembang Macapat dilagukan seorang sinden. Suara tersebut seolah memanggil seluruh mahluk datang meramaikan hajatan. Sita tampak heran mendapati wajahnya di kaca. Jika malam rambutnya disanggul, memakai riasan tebal bak pengantin perempuan. Bila matahari muncul, ia sama seperti gadis dusun kebanyakan, bersahaja dengan dandanan sederhana. Sembari menenteng tas cangklong, wanita itu menuju garasi lalu menyalakan motor. Murid-murid tengah menanti kedatangannya. Tempat itu tak jauh dari rumah, dekat lapangan bola juga lahan pertanian milik warga. Kadang kambing masuk wilayah sekolah andai si pengembala lalai, saking asyik mencari rerumputan. Masuk ruang guru, beberapa orang menyapa, sebagian kecil membicarakan aktifitasnya kala malam. Sita tak pernah hirau ucapan mereka, bisa jadi hanya iri karena tak pintar menari. Bel pelajaran berbunyi, para guru gegas ke dalam kelas untuk mengajar. Dengan perasaan sedikit kesal wanita itu berjalan di lorong sambil mengamati halaman gersang tanpa rumput. Musim panas debu kerap membuat sesak napas juga mata pedih. Sita mengajak mereka bernyanyi Tembang Dolanan guna menghilangkan kejenuhan.  
Suwe ora jamu
Jamu godhong telo
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan dadi gelo
Usai mengajar ia melatih anak-anak gadis menari. Sita tak menarik bayaran, baginya bila ada anak muda yang peduli dengan warisan masa lalu, amanat gurunya sudah tunai dan menjadi milik generasi berikutnya. Memang tak semua orang mendukung keinginan itu. Salah seorang orangtua murid datang sambil memaki dan berkata anaknya dijual sebagai pemuas lelaki. Sita tentu tak terima dan menjelaskan duduk perkara, bahwa semua yang ia lakukan murni panggilan hati dalam berkesenian. Tapi percuma banyak yang tak percaya dan melarang anak mereka untuk datang kembali. Sita pun tenggelam kembali pada kesunyian, apapun yang ia lakukan seakan ditolak alam semesta. Dalam kondisi tersebut wanita itu kerap rindu belaian seseorang, tempatnya berlabuh juga bersandar. Ketika diterpa pilu acap dilagukan Tembang, mengusir gundah.
Lingsir Wengi. . . “ tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Siang-siang malah nyanyi lagu untuk ngundang setan.”
“Sok tahu, tembang itu buatan para wali. Masyarakat saja yang menggantikan fungsi aslinya.”
“Hm.”
“Kamu enggak ngajar, Dasim?” tanyanya.
“Tidak ada jam hari ini. Kamu sendiri?”
“Aku sedang tak enak hati, badmood.” Ungkapnya dengan wajah merengut.
“Oh. Ini sampur, selendangmu. Kemarin tertinggal di rumah Pak Polo.
Malam itu, tidak biasanya Sita malas untuk menari. Kepalanya agak pusing, perutnya sedari tadi belum diisi dengan makanan. Namun, pertunjukan mesti berlanjut, empunya hajat telah memintanya jauh-jauh hari. Wanita ayu itu berjalan anggun sembari mengangkat selendang kebanggaan, Seorang pria berlari ke tengah lapangan, mengajak menari dengan tampang juga tingkah genit. Sita tak menyangka, ia tak lain kawannya sendiri.
“Ngapain kamu ke sini?”
“Ya, pengen nari.”
“Gak malu dipandang orang banyak?”
“Memang masalah?”
“Kamu itu guru!”
“Terus?”
Digugu lan ditiru.”
“Makanya aku mau banyak orang cinta sama budaya sendiri.”
Sita dalam hati merutuki tabiat laki-laki di depannya, siapa sangka wajahnya yang polos juga jarang mengeluarkan suara dalam rapat. Memiliki celah.
“Apa kata orang jika melihat perilakumu!”
“Perilaku kita?”
“Hm.”
“Peduli kata orang. Toh mereka tidak sepenuhnya benar.”
Ia sedikit mengamini perkataan Dasim, namun faktanya orang lebih suka menumbuhkan prasangka buruk di dalam kepala. 
Saat pertama kali membuka mata, hal yang dicarinya adalah selendang. Ia tak khawatir misal benda lain hilang atau lupa menaruh. Baginya kain wasiat itu harus dijaga dengan sepenuh jiwa, kalau perlu bertaruh nyawa. Diturunkan kepadanya dari ibu, ibu dari nenek, nenek dari buyutnya dan seterusnya. Konon sampur tersebut milik dari bidadari yang pernah diperistri Jaka Tarub. Tentu jika dirunut kembali terdengar mustahil, karena Nawang Wulan akhirnya  kembali ke Kahyangan. Meninggalkan suami juga anaknya. Setelah melapor pada polisi dan tak kunjung mendapat kabar baik. Sita membuka sayembara, barang siapa yang bisa menemukan selendang itu, jika laki-laki dijadikan suami, bila wanita diangkat saudara. Maka gemparlah seluruh kampung, terutama para perjaka, bujang juga duda berlomba-lomba. Mereka datang membawa bermacam kain beraneka rupa, bentuk, warna juga harga. Namun tidak ada yang sesuai dengan apa yang Sita minta. Akhirnya, gadis itu pasrah dan berniat menutup perlombaan juga merelakan selendang miliknya. Tak dinyana, saat hendak menutup pintu matanya terpana melihat bawaan lelaki itu.
“Di mana kau menemukan selendangku?” tanyanya penasaran. Namun pria itu tak menjawab. “Kau pasti mencurinya.”
Ia tertawa. “Kau dari dulu tak pernah berubah. Selalu saja pelupa.”
“Kata siapa?”
“Sekarang saja kau tak pakai apa-apa.”
“Kamu yang pikun!”
“Hla, kok aku?”
“Ini malam pertama, Dasim.” Tukasnya sambil tersenyum manis.
Jeruk Macan, 24 Juli 2017






No comments:

Post a Comment