Memoar
Sejak
kematian Kakek rumah terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi imbauan
atau nasehat bijak. Tidak ada canda atau guyonan mengisi hari-hari yang kian sumpek. Nenek jadi agak pendiam
sepeninggal suaminya, meski disibukkan aktivitas dapur juga berkebun. Bahkan
dulu kerap pergi ke pasar untuk kulakan sayur-mayur. Dan, berhenti setelah Ayah
beserta Paman menyarankan agar beristirahat, apalagi ia kerap mengeluh sakit di
bagian kaki akibat asam urat. Kami takkan pernah lupa, bagaimana satu-persatu
anggota keluarga bergantian menjaga beliau. Segala daya dan upaya diberikan
guna kesembuhannya, dari rumah sakit terbaik atau obat paling mahal sekalipun.
Namun, apa mau dikata, jika takdir sudah berkehendak siapa bisa menolak? Paman
pun pernah berujar sebelum Kakek tiada, sempat menanyakan keberadaanku. Aku
yang ada di luar kota mendadak galau karena belum bisa pulang, baru Maghirb
usai beliau dikebumikan. Semua pelayat sudah pamit ketika aku tiba, Ayah sibuk
menata karpet di teras guna acara begadang nanti malam. Biasanya tetangga dekat
dan orang-orang akan berkumpul usai penguburan si mati. Kopi, jajanan serta
rokok tak lepas dari prosesi tersebut—terutama kartu remi juga domino. Saat bertemu Nenek, dapur tak begitu ramai para
ibu telah kembali ke rumah. Hanya ada Bibi juga Paman.
“Biasanya
kalau ada Bapakmu, beliau pasti sudah mengomentari hal kurang beres di rumah
ini.” ungkapnya dengan mata merah karena seharian menangis.
“Sudahlah,
Mak. Sudah jalan Bapak dipanggil Pengeran, Gusti Allah.” Paman mengambil
nasi serta lauk ayam dari mangkok plastik, wadah tahlilan. “Bisa sampai umur 70
tahun patut disyukuri, Nabi saja hanya sampai umur 60.”
“Iya,
Nak.” tukas Nenek sedikit merelakan.
Aku
yang baru datang merasa canggung. Nenek berusaha tegar juga ikhlas dengan apa
yang terjadi. Meski jelas telihat, masih terbayang dengan suaminya. Seumpama
burung yang kehilangan sebelah sayapnya. Begitu juga beliau, separuh dari
dirinya telah pergi. Aku jadi bingung, ingin membuka percakapan dengan menjauhi
topik seputar Kakek.
“Baru
tiba dari Surabaya? Ini banyak jajanan juga nasi, jika kamu mau atau lapar.”
Tanyanya, Aku mengiyakan dan lekas menuju ruang tamu.
Beberapa
teman di Arab takziah, mereka berpakaian putih membawa beras, gula atau mie.
Setidaknya Kakek pernah ke Tanah Suci, menunaikan rukun agama kami. Beliau
laki-laki keras dan bertanggung jawab. Tak heran ia terpilih sebagai ketua
Rukun Tetangga seumur hidup. Entah sial atau mujur, tidak ada warga yang mau
menerima jabatan tersebut. Menolak
karena sibuk juga tak dapat upah. Kakek pun sekaligus memimpin doa saban
ada selamatan atau tahlilan, berkat pernah mondok sewaktu remaja. Meski begitu
belum ada dari anak-cucu hendak mengikuti jejaknya. Ia menempuh pelbagai banyak
lembaran kisah pelik juga getir untuk ditertawai. Pernah sewaktu muda
menjajakan buah sawo keliling kampung dengan keranjang juga sepeda onthel.
Lalu, membeli sepetak sawah guna dikerjakan sendiri hingga akhinya punya
beberapa tanah. Kakek pun telah berhasil menyekolahkan anaknya sampai sukses,
membangun rumah sendiri. Salah satunya bahkan menjadi pemimpin. Namun bagian
yang tak pernah bisa kulupakan adalah ketika di suatu hari yang terik, ia
berpesan satu hal penting dan berguna bagi kelangsungan masa depanku.
“Jangan
pernah nangis ketika Khitan.”
“Kenapa,
Kek?” Tanyaku penasaran.
“Nanti
kau dapat Janda.” Ucapnya tertawa sambil terkekeh.
“Ah,
masa?”
Ia
mengangguk. “Nenekmu itu dulu pernah menikah sebelum bertemu denganku.”
Walau
begitu, di lain waktu Nenek bercerita bahwa dulunya Kakek sempat bersaing guna
mendapatkan dirinya. Bahkan, ia bilang belum ada ketertarikan. Tapi memang
dasar Kakek pintar dan segera melamar. Sehingga Nenek pun tidak bisa
melanjutkan rasa sukanya pada orang lain.
“Mereka
sempat hampir berkelahi di pinggir sungai. Usai Kakek melamar Nenekmu ini”
“Lalu?”
“Untung
tidak sampai ada yang terluka. Tapi dari sana Nenek tak pernah berhubungan
dengan lelaki itu.” ia mengambil napas dan sedikit mengingat kelanjutan cerita.
“Dan,
memang jodoh, perlahan Nenek pun punya rasa suka terhadap kakekmu.”
Tahun
ini jadi masa paling muram juga berat untuk dijalani. Tanah berubah gersang
tanpa menyisakan rerumputan hijau, hewan ternak kurus tampak seperti tak
terurus. Air sungai lenyap beberapa ikan menggelepar, menunggu ajal atau
dipungut warga. Panas menyengat semua mahluk hidup, meranggaskan pepohonan
serta melayukan dedaunan. Debu membuat orang-orang sakit pernapasan dan tak
bisa melihat dengan jelas. Pengurangan karyawan lambat laun terjadi dan
mengundang demonstrasi seantero negeri. Sembako sulit dicari kalau pun ada
harganya selangit. Impor hanya akan menyakiti hati petani. Musim kemarau belum
juga beranjak dari kampung kami. Air bersih pun harus dibeli karena sumur-sumur
tak terisi. Keadaaan tersebut dengan listrik yang kadang mati bergilir. Kampung
menjadi gelap gulita diterangi cahaya bulan purnama. Beberapa anak kota datang
untuk melaksanakan KKN, berpakaian mencolok dibalut almamater. Layaknya hendak
piknik atau bertamasya. Lurah menyambut rombongan itu dengan tangan terbuka, memberi tempat tinggal
layak juga jamuan. Anak-anak kampung tak senang melihat kedatangan mereka.
Melihatnya saja rasanya ingin meludah. Tidak ada tegur sapa atau saling melontarkan
ucapan basa-basi. Perkaranya sederhana, anak kota berpikir bahwa anak muda di
sana, kolot dan tak tahu cara bersenang-senang. Desa hanya tempat bagi hewan
ternak juga segala hal berbau jaman dahulu. Sedang anak kampung meyakini
mahasiswa hanyalah sekumpulan anak manja tak tahu cara bekerja dan menyusahkan
orang tua. Suka mabuk juga pakai narkoba. Konflik memuncak kembang desa digoda
salah satu mahasiswa. Mereka menganggap anak kota hendak memerkosa gadis malang
itu. Namun, pihak tertuduh membantah hanya ingin menyapa dan membantu. Jalan
akhir yang diambil, masing-masing membawa senjata, entah parang atau bongkahan
batu di tangan. Tauran itu mengambil tempat di pinggiran kampung, dekat dengan
sungai kecil juga jembatan. Banyak yang bilang dasar sungai tersebut dihuni
siluman, terbukti saban tahun meminta tumbal nyawa. Pemimpin dari kelompok anak
desa maju ke depan barisan sambil membawa pedang. Kepalanya diikat udeng berwarna merah-hitam dengan motif
sulur juga kembang.
“Kalau
tak mau minta maaf, kujamin kau tak bisa melihat matahari esok!”
“Hanya
pecundang yang melakukan itu.” ucap pemimpin kubu lain sambil meludah.
Tanpa
komando kedua kubu saling baku hantam dan menyerang membabi-buta dengan segala
senjata yang ada. Orang-orang tak berani melerai takut malah terluka atau jadi
sasaran empuk. Ibu-ibu berdoa agar tak ada kejadian buruk atau para polisi
menciduk. Suara teriakan juga erangan mewarnai duel seru juga sengit itu. Malam
menjadi saksi pertumpahan yang membanjiri tanah serta bilah tajam logam. Bulan
seolah turut bermandikan darah merah juga amarah. Angin pun tak mau berembus
walau sesaat, mendinginkan gemuruh dalam dada. Tak dinyana muncul seorang
lelaki tua berpakaian layaknya seorang pendekar. Ia mengendarai seekor harimau
loreng. Terjun dari rerimbunan hutan kecil. Membuat para pemuda mendadak diam,
tersirap. Suara kucing besar itu membuat nyali mereka menjadi ciut dan lutut
bergetar, terutama saat lidahnya menjilat percikan darah yang menggenang.
Matanya menampakan kebuasan juga kekuatan luar biasa. Beberapa orang dari
kelompok lari meninggalkan tempat, yang tak kuat menahan takut pingsan atau
malah kencing di celana. Namun, pemimpin dari kubu mahasiswa tak gentar, sambil
membawa pedang ia menantang kakek tersebut. Tanpa disangka pemimpin kubu lawan
memperingatkan.
“Kau
sudah gila? Mau menantang laki-laki sakti itu. Bahkan kau tak bisa mengalahkan
peliharaannya.”
“Aku
masih punya senjata rahasia bila pedang ini tak mampu menebas mereka berdua.”
Ia pun
maju dengan sekuat tenaga dan menganyunkan pedang. Namun naas gigi-gigi harimau
mengigit logam itu hingga patah. Pemuda itu membuang senjata rusak tersebut
lalu mencabut pistol yang terselip di pinggang.
Peluru menghujami mereka tapi secara ajaib tak satupun kena, malah cakar
kucing besar itu melukai si pemuda. Kematian tinggal menunggu waktu. Dari
kejauhan kuamati dengan saksama pemilik harimau, wajah yang tak pernah bisa
dilupa Nenek juga aku sendiri.
Mojokerto,
28 Agustus 2017

No comments:
Post a Comment