Thursday, October 26, 2017

Cerpen


Memoar
Sejak kematian Kakek rumah terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi imbauan atau nasehat bijak. Tidak ada canda atau guyonan mengisi hari-hari yang kian sumpek. Nenek jadi agak pendiam sepeninggal suaminya, meski disibukkan aktivitas dapur juga berkebun. Bahkan dulu kerap pergi ke pasar untuk kulakan sayur-mayur. Dan, berhenti setelah Ayah beserta Paman menyarankan agar beristirahat, apalagi ia kerap mengeluh sakit di bagian kaki akibat asam urat. Kami takkan pernah lupa, bagaimana satu-persatu anggota keluarga bergantian menjaga beliau. Segala daya dan upaya diberikan guna kesembuhannya, dari rumah sakit terbaik atau obat paling mahal sekalipun. Namun, apa mau dikata, jika takdir sudah berkehendak siapa bisa menolak? Paman pun pernah berujar sebelum Kakek tiada, sempat menanyakan keberadaanku. Aku yang ada di luar kota mendadak galau karena belum bisa pulang, baru Maghirb usai beliau dikebumikan. Semua pelayat sudah pamit ketika aku tiba, Ayah sibuk menata karpet di teras guna acara begadang nanti malam. Biasanya tetangga dekat dan orang-orang akan berkumpul usai penguburan si mati. Kopi, jajanan serta rokok tak lepas dari prosesi tersebut—terutama kartu remi juga domino. Saat bertemu Nenek, dapur tak begitu ramai para ibu telah kembali ke rumah. Hanya ada Bibi juga Paman.
“Biasanya kalau ada Bapakmu, beliau pasti sudah mengomentari hal kurang beres di rumah ini.” ungkapnya dengan mata merah karena seharian menangis.
“Sudahlah, Mak. Sudah jalan Bapak dipanggil Pengeran, Gusti Allah.” Paman mengambil nasi serta lauk ayam dari mangkok plastik, wadah tahlilan. “Bisa sampai umur 70 tahun patut disyukuri, Nabi saja hanya sampai umur 60.”
“Iya, Nak.” tukas Nenek sedikit merelakan.
Aku yang baru datang merasa canggung. Nenek berusaha tegar juga ikhlas dengan apa yang terjadi. Meski jelas telihat, masih terbayang dengan suaminya. Seumpama burung yang kehilangan sebelah sayapnya. Begitu juga beliau, separuh dari dirinya telah pergi. Aku jadi bingung, ingin membuka percakapan dengan menjauhi topik seputar Kakek.
“Baru tiba dari Surabaya? Ini banyak jajanan juga nasi, jika kamu mau atau lapar.” Tanyanya, Aku mengiyakan dan lekas menuju ruang tamu.
Beberapa teman di Arab takziah, mereka berpakaian putih membawa beras, gula atau mie. Setidaknya Kakek pernah ke Tanah Suci, menunaikan rukun agama kami. Beliau laki-laki keras dan bertanggung jawab. Tak heran ia terpilih sebagai ketua Rukun Tetangga seumur hidup. Entah sial atau mujur, tidak ada warga yang mau menerima jabatan tersebut. Menolak  karena sibuk juga tak dapat upah. Kakek pun sekaligus memimpin doa saban ada selamatan atau tahlilan, berkat pernah mondok sewaktu remaja. Meski begitu belum ada dari anak-cucu hendak mengikuti jejaknya. Ia menempuh pelbagai banyak lembaran kisah pelik juga getir untuk ditertawai. Pernah sewaktu muda menjajakan buah sawo keliling kampung dengan keranjang juga sepeda onthel. Lalu, membeli sepetak sawah guna dikerjakan sendiri hingga akhinya punya beberapa tanah. Kakek pun telah berhasil menyekolahkan anaknya sampai sukses, membangun rumah sendiri. Salah satunya bahkan menjadi pemimpin. Namun bagian yang tak pernah bisa kulupakan adalah ketika di suatu hari yang terik, ia berpesan satu hal penting dan berguna bagi kelangsungan masa depanku.
“Jangan pernah nangis ketika Khitan.”
“Kenapa, Kek?” Tanyaku penasaran.
“Nanti kau dapat Janda.” Ucapnya tertawa sambil terkekeh.
“Ah, masa?”
Ia mengangguk. “Nenekmu itu dulu pernah menikah sebelum bertemu denganku.”
Walau begitu, di lain waktu Nenek bercerita bahwa dulunya Kakek sempat bersaing guna mendapatkan dirinya. Bahkan, ia bilang belum ada ketertarikan. Tapi memang dasar Kakek pintar dan segera melamar. Sehingga Nenek pun tidak bisa melanjutkan rasa sukanya pada orang lain.
“Mereka sempat hampir berkelahi di pinggir sungai. Usai Kakek melamar Nenekmu ini”
“Lalu?”
“Untung tidak sampai ada yang terluka. Tapi dari sana Nenek tak pernah berhubungan dengan lelaki itu.” ia mengambil napas dan sedikit mengingat kelanjutan cerita.
“Dan, memang jodoh, perlahan Nenek pun punya rasa suka terhadap kakekmu.”
Tahun ini jadi masa paling muram juga berat untuk dijalani. Tanah berubah gersang tanpa menyisakan rerumputan hijau, hewan ternak kurus tampak seperti tak terurus. Air sungai lenyap beberapa ikan menggelepar, menunggu ajal atau dipungut warga. Panas menyengat semua mahluk hidup, meranggaskan pepohonan serta melayukan dedaunan. Debu membuat orang-orang sakit pernapasan dan tak bisa melihat dengan jelas. Pengurangan karyawan lambat laun terjadi dan mengundang demonstrasi seantero negeri. Sembako sulit dicari kalau pun ada harganya selangit. Impor hanya akan menyakiti hati petani. Musim kemarau belum juga beranjak dari kampung kami. Air bersih pun harus dibeli karena sumur-sumur tak terisi. Keadaaan tersebut dengan listrik yang kadang mati bergilir. Kampung menjadi gelap gulita diterangi cahaya bulan purnama. Beberapa anak kota datang untuk melaksanakan KKN, berpakaian mencolok dibalut almamater. Layaknya hendak piknik atau bertamasya. Lurah menyambut rombongan itu  dengan tangan terbuka, memberi tempat tinggal layak juga jamuan. Anak-anak kampung tak senang melihat kedatangan mereka. Melihatnya saja rasanya ingin meludah. Tidak ada tegur sapa atau saling melontarkan ucapan basa-basi. Perkaranya sederhana, anak kota berpikir bahwa anak muda di sana, kolot dan tak tahu cara bersenang-senang. Desa hanya tempat bagi hewan ternak juga segala hal berbau jaman dahulu. Sedang anak kampung meyakini mahasiswa hanyalah sekumpulan anak manja tak tahu cara bekerja dan menyusahkan orang tua. Suka mabuk juga pakai narkoba. Konflik memuncak kembang desa digoda salah satu mahasiswa. Mereka menganggap anak kota hendak memerkosa gadis malang itu. Namun, pihak tertuduh membantah hanya ingin menyapa dan membantu. Jalan akhir yang diambil, masing-masing membawa senjata, entah parang atau bongkahan batu di tangan. Tauran itu mengambil tempat di pinggiran kampung, dekat dengan sungai kecil juga jembatan. Banyak yang bilang dasar sungai tersebut dihuni siluman, terbukti saban tahun meminta tumbal nyawa. Pemimpin dari kelompok anak desa maju ke depan barisan sambil membawa pedang. Kepalanya diikat udeng berwarna merah-hitam dengan motif sulur juga kembang.
“Kalau tak mau minta maaf, kujamin kau tak bisa melihat matahari esok!”
“Hanya pecundang yang melakukan itu.” ucap pemimpin kubu lain sambil meludah.
Tanpa komando kedua kubu saling baku hantam dan menyerang membabi-buta dengan segala senjata yang ada. Orang-orang tak berani melerai takut malah terluka atau jadi sasaran empuk. Ibu-ibu berdoa agar tak ada kejadian buruk atau para polisi menciduk. Suara teriakan juga erangan mewarnai duel seru juga sengit itu. Malam menjadi saksi pertumpahan yang membanjiri tanah serta bilah tajam logam. Bulan seolah turut bermandikan darah merah juga amarah. Angin pun tak mau berembus walau sesaat, mendinginkan gemuruh dalam dada. Tak dinyana muncul seorang lelaki tua berpakaian layaknya seorang pendekar. Ia mengendarai seekor harimau loreng. Terjun dari rerimbunan hutan kecil. Membuat para pemuda mendadak diam, tersirap. Suara kucing besar itu membuat nyali mereka menjadi ciut dan lutut bergetar, terutama saat lidahnya menjilat percikan darah yang menggenang. Matanya menampakan kebuasan juga kekuatan luar biasa. Beberapa orang dari kelompok lari meninggalkan tempat, yang tak kuat menahan takut pingsan atau malah kencing di celana. Namun, pemimpin dari kubu mahasiswa tak gentar, sambil membawa pedang ia menantang kakek tersebut. Tanpa disangka pemimpin kubu lawan memperingatkan.
“Kau sudah gila? Mau menantang laki-laki sakti itu. Bahkan kau tak bisa mengalahkan peliharaannya.”
“Aku masih punya senjata rahasia bila pedang ini tak mampu menebas mereka berdua.”
Ia pun maju dengan sekuat tenaga dan menganyunkan pedang. Namun naas gigi-gigi harimau mengigit logam itu hingga patah. Pemuda itu membuang senjata rusak tersebut lalu mencabut pistol yang terselip di pinggang.  Peluru menghujami mereka tapi secara ajaib tak satupun kena, malah cakar kucing besar itu melukai si pemuda. Kematian tinggal menunggu waktu. Dari kejauhan kuamati dengan saksama pemilik harimau, wajah yang tak pernah bisa dilupa Nenek juga aku sendiri.
Mojokerto, 28 Agustus 2017


No comments:

Post a Comment