Sunday, November 1, 2015

Esai

                                               Televisi versus Sastra
Selama dua tahun saya memulai kebiasaan baru yang mungkin sebagian orang tidak melakukannya, malah mungkin menjauhinya. Ketika teman sepantaran keluar rumah, melakukan hal yang bagi mereka menyenangkan nan ‘penting’. Saya mulai bertanya-tanya pada diri sendiri. Kegiatan apa yang membawa kemajuan bagi saya juga manfaat bagi orang lain. Setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya jawaban itu ketemu. Menulis. Dalam hal ini mengarang sebuah cerita. Saya percaya lewat sebuah cerita pesan juga budi pekerti luhur dapat tersampaikan pada orang lain. Orang tua dahulu sering mendongeng untuk anaknya sebelum tidur. Dengan tujuan menghibur juga mendidik si anak agar bisa mengambil amanat dari kisah yang dituturkan. Sayang kegiatan itu mulai terkikis di jaman sekarang. Anak lebih gemar bermain ponsel juga gadget. Orang tua lebih senang menghadap tipi setelah bekerja, dengan harapan bisa menghilangkan penat pikiran. Sejujurnya, saya juga sama seperti mereka, ada kalanya melihat televisi. Namun tidak lama, karena mungkin bukan hanya saya saja yang juga sependapat. Acara televisi sekarang mulai tidak mendidik, hanya menyuguhkan tontonan bukan tuntunan. Mulai dari sinetron yang menampilkan adegan percintaan yang ditiru kalangan remaja. Gosip yang menguak aib orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat luas. Terakhir berita politik yang menjenuhkan tentang pejabat korupsi. Setiap pagi hingga malam kita disuapi dengan hal-hal yang mengotori pikiran, belum lagi masalah sehari-hari yang harus dihadapi. Tak mengherankan banyak sekali orang yang gelap mata karena himpitan hidup, mulai menghalalkan berbagai macam cara agar dapat cepat sukses atau kaya . Padahal semuanya butuh proses, ada sebab dan akibat. Ketika televisi membuat saya kecewa dan cenderung memasukan sampah ke dalam pikiran. Saya beralih ke sastra yang menawarkan berbagai pengalaman menarik yang belum tentu saya alami dan rasakan. Pertama kali memulai,  kata-kata asing juga gaya penceritaan yang sulit dimengerti membuat saya bingung. Berbeda dengan novel remaja atau ringan yang mengandung makna tersurat bukan tersirat. Pikiran harus bekerja ekstra demi mengetahui maksud cerita yang disampaikan penulis. Dalam proses itu saya juga membaca buku-buku tentang penulisan kreatif. Dan tertarik dengan buku Creative writing karangan Mas A.S Laksana. Yang memberikan panduan strategi menulis cerita juga novel. Saya mulai merasakan manfaat selama menulis. Pikiran jernih dalam menyampaikan sesuatu, tidak kusut. Tentunya keahlian merangkai kata pun mulai bertambah pesat. Juga tulisan saya berbentuk cerpen telah dimuat koran ini selama 5 kali. Ke depannya saya berharap semoga lebih banyak lagi orang yang gemar membaca juga menulis. Agar semakin banyak kebaikan yang dapat tersampaikan, baik lewat tulisan juga tindakan.(*)
  
 Radar Mojokerto, 1 November 2015.