Televisi
versus Sastra
Selama
dua tahun saya memulai kebiasaan baru yang mungkin sebagian orang tidak
melakukannya, malah mungkin menjauhinya. Ketika teman sepantaran keluar rumah,
melakukan hal yang bagi mereka menyenangkan nan ‘penting’. Saya mulai bertanya-tanya
pada diri sendiri. Kegiatan apa yang membawa kemajuan bagi saya juga manfaat
bagi orang lain. Setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya jawaban itu ketemu.
Menulis. Dalam hal ini mengarang sebuah cerita. Saya percaya lewat sebuah
cerita pesan juga budi pekerti luhur dapat tersampaikan pada orang lain. Orang
tua dahulu sering mendongeng untuk anaknya sebelum tidur. Dengan tujuan
menghibur juga mendidik si anak agar bisa mengambil amanat dari kisah yang
dituturkan. Sayang kegiatan itu mulai terkikis di jaman sekarang. Anak lebih
gemar bermain ponsel juga gadget.
Orang tua lebih senang menghadap tipi setelah
bekerja, dengan harapan bisa menghilangkan penat pikiran. Sejujurnya, saya juga
sama seperti mereka, ada kalanya melihat televisi. Namun tidak lama, karena
mungkin bukan hanya saya saja yang juga sependapat. Acara televisi sekarang
mulai tidak mendidik, hanya menyuguhkan tontonan bukan tuntunan. Mulai dari
sinetron yang menampilkan adegan percintaan yang ditiru kalangan remaja. Gosip
yang menguak aib orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat
luas. Terakhir berita politik yang menjenuhkan tentang pejabat korupsi. Setiap
pagi hingga malam kita disuapi dengan hal-hal yang mengotori pikiran, belum
lagi masalah sehari-hari yang harus dihadapi. Tak mengherankan banyak sekali
orang yang gelap mata karena himpitan hidup, mulai menghalalkan berbagai macam
cara agar dapat cepat sukses atau kaya . Padahal semuanya butuh
proses, ada sebab dan akibat. Ketika televisi membuat saya kecewa dan cenderung
memasukan sampah ke dalam pikiran. Saya beralih ke sastra yang menawarkan
berbagai pengalaman menarik yang belum tentu saya alami dan rasakan. Pertama
kali memulai, kata-kata asing juga gaya
penceritaan yang sulit dimengerti membuat saya bingung. Berbeda dengan novel
remaja atau ringan yang mengandung makna tersurat bukan tersirat. Pikiran harus
bekerja ekstra demi mengetahui maksud cerita yang disampaikan penulis. Dalam
proses itu saya juga membaca buku-buku tentang penulisan kreatif. Dan tertarik
dengan buku Creative writing karangan
Mas A.S Laksana. Yang memberikan panduan strategi menulis cerita juga novel.
Saya mulai merasakan manfaat selama menulis. Pikiran jernih dalam menyampaikan
sesuatu, tidak kusut. Tentunya keahlian merangkai kata pun mulai bertambah
pesat. Juga tulisan saya berbentuk cerpen telah dimuat koran ini selama 5 kali.
Ke depannya saya berharap semoga lebih banyak lagi orang yang gemar membaca
juga menulis. Agar semakin banyak kebaikan yang dapat tersampaikan, baik lewat
tulisan juga tindakan.(*)
Radar Mojokerto, 1 November 2015.