Thursday, October 19, 2017

Cerpen


Legenda Burung Api
Ia memilih terjun ke dalam kobaran api setelah kemarin didatangi binatang suci. Sayapnya yang terbakar hinggap via jendela rumah. Bulu-bulu jatuh berhamburan, membuat bunga-bunga api kecil. Dengan paruh runcing melengkung mirip orang tengah bersujud. Arya tak punya waktu untuk mengambil jaring atau mengabadikan momen dengan kamera HP. Dayanya sudah terkuras habis guna meyakini sedang tidak bermimpi. Burung api melesat keluar setelah berhasil menghipnotis si empunya rumah malam itu. Ketika paginya, laki-laki itu bercerita pada si pacar, ia menganggap Arya berkhayal atau habis minum sekaleng beer. Sejujurnya ia tak berdusta dan mengaku masih sadar tatkala nyala api tenang agung menerangi seisi ruangan. 
“Kau mesti liburan Sayang, buku-buku telah meracuni otakmu.” Cetusnya.
Arya menggeleng, sambil berusaha menjelaskan juga memberi bukti konkret. Namun Sita tak acuh dan menaruh sekuntum mawar dalam vas.
“Kita jarang ada waktu untuk bepergian, kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri.”
“Maaf.”
“Tak apa, aku yang salah terlalu banyak berharap.”
Ia hendak meninggalkan kamar, namun tangan laki-laki itu meraih dirinya.
“Kita sudah sering membicarakan hal ini.” belanya.
“Iya, dan aku sedang tidak ingin bertengkar.”
Arya mengembuskan napas pajang. “Maapkan aku, Sayang.”
Sita masih merajuk, wajah ayunya kelihatan lusuh mirip pakaian belum disetrika. Pemuda itu mau tak mau merayu demi melihat senyuman di wajahnya.
***
Kau boleh bilang aku beruntung, dari semua laki-laki yang pernah memata-matai juga menjilat dirinya—aku tak termasuk mereka. Ia kerap bercerita beberapa “fans” yang acap membuatnya bersikap dingin karena tak nyaman dengan ulah kaum itu. Sita merasa terganggu dengan teror juga saat salah satu dari mereka menyatakan cinta. Seolah ada paku yang menancap dan tak ada cara selain mencabut dengan tang—meski bekasnya masih tetap ada sampai kapan pun.
“Kenapa tertawa?”
“Tidak apa-apa.”
“Tampangmu selalu datar bila di foto. Makanya jangan kebanyak nongkrong di perpustakaan nanti mirip Artefak.”
“Yah, tapi kamu suka.”
Ia tertawa tak terima. “Kata siapa?”
“Mau aku cium?”
Apa ora bahaya
“Makanya dicoba biar tahu.” Sita mengibaskan tangan sambil lalu.
Aku gemar memelihara burung di kost, mendengar nyanyian merdu darinya membuat hasrat menulis kembali. Seekor murai batu tengah berpentas dalam sangkar persegi dengan jeruji kayu. Ulat di kotak makanan bergoyang mengikuti tembang. Burung lain menyaksikan pertujukan itu di dinding. Ia bertengger dengan jumawa, diapit dua fofo laki-laki berkopiah dengan setelan jas rapi. Garuda membawa lima panji yang mempersatukan banyak orang di negeri ini. Burung keemasan yang konon jadi tunggangan Dewa Wisnu sang pemelihara kehidupan. Ngomong-ngomong soal burung, “burungku” juga tengah kebelet pipis. Ia memang agak binal, terutama karena belum bertemu dengan “kekasihanya”—sehingga sampai saatnya tiba ia harus dikandangkan terlebih dahulu. Mencegah beberapa hal yang diinginkan terjadi. Ada banyak burung yang mungkin menarik untuk dilihat lebih dekat. Burung surga contohnya, meski namanya begitu, kau tak perlu mati untuk bisa memilikinya. Beberapa pemburu menjual secara bebas di pasar gelap, disebut demikian bukan lantaran PLN mencabut aliran listrik di sana—karena satu lain hal. Setelah tanah mereka dikeruk orang asing, burung-burung itu kian sukar ditemui dan kian punah keberadaannya di hutan. Perkara burung tak jarang membuat perut keroncongan, beberapa malah berurusan dengan aparat juga tokoh agama. Ayah pernah berpesan untuk menjaga barang milik sendiri agar tak merugikan orang lain. Urusan serupa berlaku untuk “peliharaanmu” kawan!”
***
Jadi semua bermula karena kunjungan seekor Phoenix yang mungkin kalian anggap sebagai gurauan seorang lelaki bujang. Maka, jangan harap hidupmu akan penuh dengan keajaiban atau dengan kasar disebut tanpa makna. Karena perlu diketahui cerita ini mungkin sama gilanya dengan kehidupan itu sendiri. Singkatnya, jangan pernah menghitung jumlah bintang di langit. Maka demi kebaikan kalian dengarkanlah kisah ini hingga selesai. Suara kaok terdengar lamat memasuki gendang telinga. Burung-burung kematian tengah merubung bangkai hewan bersama sekumpulan lalat hijau. Kawanan gagak berpesta mematuki daging setengah busuk juga ditumbuhi belatung. Aku pernah mendengar cerita tentang mereka, terutama saat pertama kali mengajari anak manusia bagaimana bagaimana mengubur mayat saudaranya. Kusarankan agar tak bertemu Ababil. Yah, mereka datang dari neraka. Sambil membawa batu-batu panas di sepasang cakar. Demi melempari pasukan gajah yang hendak menguasai kota suci kelahiran nabi. Namun, dari semua burung yang kutahu di muka bumi ini, hanya Phoenix membuatku takjub. Mahluk itu abadi, ia lahir dari kematian burung api yang menjadi abu. Api kecil yang kelak berwarna keemasan dan membakar langit malam yang sendu juga menyedihkan. Aku masih duduk di kursi sembari mencoba menyelesaikan sebuah naskah novel. Sementara gawai di meja kumatikan agar tak mengusik ketentraman. Kupandangi foto Sita yang terletak persis sebagai wallpaper laptop. Ia kebetulan memangkas rambut leih pendek, katanya agar terlihat lebih muda. Senyumnya segaris dengan mata belok mirip seekor kucing. Sudah bulan empat dan tigda hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Aku tak tahu hadiah apa yang pantas untuk calon istriku itu. Tahun lalu sebuah boneka panda telah kubawa untuknya dari toko. Ia kelihatan semringah menerima beruang dengan lingkaran mata berwarna hitam, mirip orang kena insomnia. Panda itu mengigit daun bambu cina, seolah siwak untuk membersihkan giginya. Kembali lagi soal kado, sekadar informasi aku bukan tipe laki-laki yang akan membawa wanitanya ke bioskop lalu di sana memutarkan video lamaran beserta teman juga sanak saudara. Kosnpirasi dungu itu membutuhkan dana tak sedikit dan aku tak mau dibilang pelit. Honor sebagai penulis turun saja sudah bersyukur. Itu juga menjadi alasan kami belum menikah—orang tua Sita tentu masih terlampau waras untuk memberikan anak semata wayangnya ke tangan laki-laki tanpa kejelasan hidup. Aku kadang merasa hidup tidak pernah adil sejak beberapa hal tak berjalan seperti seharusnya. Gampangnya saat dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersatu dalam ikatan.
***
Sita masih ingat ketika ayah-ibunya memaksa ia memutuskan hubungan dengan laki-laki itu. Tentu sangat berat berpisah dengan Arya yang telah menanam kenangan terlampau dalam. Terlebih lagi kehidupan telah tumbuh dengan caranya sendiri di dalam dirinya. Sita tak tahu  bagaimana cara untuk menyampaikan kabar baik juga buruk itu pada calon suami juga orangtuanya. Ia beberapa kali menelepon namun tak ada jawaban. Wanita itu memilih pergi dari rumah untuk menemui sang kekasih. Dalam perjalanan orang-orang berhamburan keluar mengambil air juga selang guna memadamkan api. Awan hitam menyelimuti rumah-rumah, dan wajah ketakutan juga bingung jamak ditemui. Tangis Sita meledak tatkala mengetahui rumah calon suaminya terbakar. Aku melihat peristiwa itu dari langit. Buluku jatuh ke bumi dan jadi meteor. Sementara ekorku laksana komet mengitari galaksi. Ia memilih terjun ke dalam kobaran api setelah kemarin didatangi binatang suci

Jeruk Macan, 4 Juni 2017

No comments:

Post a Comment