Legenda Burung Api
Ia
memilih terjun ke dalam kobaran api setelah kemarin didatangi binatang suci. Sayapnya
yang terbakar hinggap via jendela rumah. Bulu-bulu jatuh berhamburan, membuat
bunga-bunga api kecil. Dengan paruh runcing melengkung mirip orang tengah
bersujud. Arya tak punya waktu untuk mengambil jaring atau mengabadikan momen
dengan kamera HP. Dayanya sudah terkuras habis guna meyakini sedang tidak
bermimpi. Burung api melesat keluar setelah berhasil menghipnotis si empunya
rumah malam itu. Ketika paginya, laki-laki itu bercerita pada si pacar, ia
menganggap Arya berkhayal atau habis minum sekaleng beer. Sejujurnya ia tak berdusta dan mengaku masih sadar tatkala
nyala api tenang agung menerangi seisi ruangan.
“Kau
mesti liburan Sayang, buku-buku telah meracuni otakmu.” Cetusnya.
Arya
menggeleng, sambil berusaha menjelaskan juga memberi bukti konkret. Namun Sita
tak acuh dan menaruh sekuntum mawar dalam vas.
“Kita
jarang ada waktu untuk bepergian, kau selalu sibuk dengan duniamu sendiri.”
“Maaf.”
“Tak
apa, aku yang salah terlalu banyak berharap.”
Ia
hendak meninggalkan kamar, namun tangan laki-laki itu meraih dirinya.
“Kita
sudah sering membicarakan hal ini.” belanya.
“Iya,
dan aku sedang tidak ingin bertengkar.”
Arya
mengembuskan napas pajang. “Maapkan aku, Sayang.”
Sita
masih merajuk, wajah ayunya kelihatan lusuh mirip pakaian belum disetrika. Pemuda
itu mau tak mau merayu demi melihat senyuman di wajahnya.
***
Kau
boleh bilang aku beruntung, dari semua laki-laki yang pernah memata-matai juga
menjilat dirinya—aku tak termasuk mereka. Ia kerap bercerita beberapa “fans”
yang acap membuatnya bersikap dingin karena tak nyaman dengan ulah kaum itu.
Sita merasa terganggu dengan teror juga saat salah satu
dari mereka menyatakan cinta. Seolah ada paku yang menancap dan tak ada cara
selain mencabut dengan tang—meski bekasnya masih tetap ada sampai kapan pun.
“Kenapa
tertawa?”
“Tidak
apa-apa.”
“Tampangmu
selalu datar bila di foto. Makanya jangan kebanyak nongkrong di perpustakaan
nanti mirip Artefak.”
“Yah,
tapi kamu suka.”
Ia
tertawa tak terima. “Kata siapa?”
“Mau
aku cium?”
“Apa ora bahaya”
“Makanya
dicoba biar tahu.” Sita mengibaskan tangan sambil lalu.
Aku
gemar memelihara burung di kost, mendengar nyanyian merdu darinya membuat
hasrat menulis kembali. Seekor murai batu tengah berpentas dalam sangkar
persegi dengan jeruji kayu. Ulat di kotak makanan bergoyang mengikuti tembang.
Burung lain menyaksikan pertujukan itu di dinding. Ia bertengger dengan jumawa,
diapit dua fofo laki-laki berkopiah dengan setelan jas rapi. Garuda membawa
lima panji yang mempersatukan banyak orang di negeri ini. Burung keemasan yang
konon jadi tunggangan Dewa Wisnu sang pemelihara kehidupan. Ngomong-ngomong
soal burung, “burungku” juga tengah kebelet pipis. Ia memang agak binal,
terutama karena belum bertemu dengan “kekasihanya”—sehingga sampai saatnya tiba
ia harus dikandangkan terlebih dahulu. Mencegah beberapa hal yang diinginkan
terjadi. Ada banyak burung yang mungkin menarik untuk dilihat lebih dekat.
Burung surga contohnya, meski namanya begitu, kau tak perlu mati untuk bisa
memilikinya. Beberapa pemburu menjual secara bebas di pasar gelap, disebut
demikian bukan lantaran PLN mencabut aliran listrik di sana—karena satu lain
hal. Setelah tanah mereka dikeruk orang asing, burung-burung itu kian sukar
ditemui dan kian punah keberadaannya di hutan. Perkara burung tak jarang
membuat perut keroncongan, beberapa malah berurusan dengan aparat juga tokoh
agama. Ayah pernah berpesan untuk menjaga barang milik sendiri agar tak
merugikan orang lain. Urusan serupa berlaku untuk “peliharaanmu” kawan!”
***
Jadi
semua bermula karena kunjungan seekor Phoenix
yang mungkin kalian anggap sebagai gurauan seorang lelaki bujang. Maka,
jangan harap hidupmu akan penuh dengan keajaiban atau dengan kasar disebut
tanpa makna. Karena perlu diketahui cerita ini mungkin sama gilanya dengan
kehidupan itu sendiri. Singkatnya, jangan pernah menghitung jumlah bintang di
langit. Maka demi kebaikan kalian dengarkanlah kisah ini hingga selesai. Suara
kaok terdengar lamat memasuki gendang telinga. Burung-burung kematian tengah
merubung bangkai hewan bersama sekumpulan lalat hijau. Kawanan gagak berpesta
mematuki daging setengah busuk juga ditumbuhi belatung. Aku pernah mendengar
cerita tentang mereka, terutama saat pertama kali mengajari anak manusia
bagaimana bagaimana mengubur mayat saudaranya. Kusarankan agar tak bertemu
Ababil. Yah, mereka datang dari neraka. Sambil membawa batu-batu panas di
sepasang cakar. Demi melempari pasukan gajah yang hendak menguasai kota suci
kelahiran nabi. Namun, dari semua burung yang kutahu di muka bumi ini, hanya Phoenix membuatku takjub. Mahluk itu
abadi, ia lahir dari kematian burung api yang menjadi abu. Api kecil yang kelak
berwarna keemasan dan membakar langit malam yang sendu juga menyedihkan. Aku
masih duduk di kursi sembari mencoba menyelesaikan sebuah naskah novel.
Sementara gawai di meja kumatikan agar tak mengusik ketentraman. Kupandangi
foto Sita yang terletak persis sebagai wallpaper
laptop. Ia kebetulan memangkas rambut leih pendek, katanya agar terlihat
lebih muda. Senyumnya segaris dengan mata belok mirip seekor kucing. Sudah
bulan empat dan tigda hari lagi adalah hari ulang tahunnya. Aku tak tahu hadiah
apa yang pantas untuk calon istriku itu. Tahun lalu sebuah boneka panda telah
kubawa untuknya dari toko. Ia kelihatan semringah menerima beruang dengan
lingkaran mata berwarna hitam, mirip orang kena insomnia. Panda itu mengigit
daun bambu cina, seolah siwak untuk membersihkan giginya. Kembali lagi soal
kado, sekadar informasi aku bukan tipe laki-laki yang akan membawa wanitanya ke
bioskop lalu di sana memutarkan video lamaran beserta teman juga sanak saudara.
Kosnpirasi dungu itu membutuhkan dana tak sedikit dan aku tak mau dibilang
pelit. Honor sebagai penulis turun saja sudah bersyukur. Itu juga menjadi
alasan kami belum menikah—orang tua Sita tentu masih terlampau waras untuk
memberikan anak semata wayangnya ke tangan laki-laki tanpa kejelasan hidup. Aku
kadang merasa hidup tidak pernah adil sejak beberapa hal tak berjalan seperti
seharusnya. Gampangnya saat dua orang yang saling mencintai tidak bisa bersatu
dalam ikatan.
***
Sita
masih ingat ketika ayah-ibunya memaksa ia memutuskan hubungan dengan laki-laki
itu. Tentu sangat berat berpisah dengan Arya yang telah menanam kenangan
terlampau dalam. Terlebih lagi kehidupan telah tumbuh dengan caranya sendiri di
dalam dirinya. Sita tak tahu bagaimana
cara untuk menyampaikan kabar baik juga buruk itu pada calon suami juga
orangtuanya. Ia beberapa kali menelepon namun tak ada jawaban. Wanita itu
memilih pergi dari rumah untuk menemui sang kekasih. Dalam perjalanan
orang-orang berhamburan keluar mengambil air juga selang guna memadamkan api.
Awan hitam menyelimuti rumah-rumah, dan wajah ketakutan juga bingung jamak
ditemui. Tangis Sita meledak tatkala mengetahui rumah calon suaminya terbakar.
Aku melihat peristiwa itu dari langit. Buluku jatuh ke bumi dan jadi meteor.
Sementara ekorku laksana komet mengitari galaksi. Ia memilih terjun ke dalam
kobaran api setelah kemarin didatangi binatang suci
Jeruk
Macan, 4 Juni 2017

No comments:
Post a Comment