Psikiater
/1/
“Jadi
apa masalah Anda?”
“Saya
tak merasa punya masalah, Dok.”
“Terus
kenapa anda datang ke sini?!” tanyanya sengit.
“Saya
hanya butuh teman curhat.”
“Itu
masalahnya”
“Suka-suka
dokter mau bilang apa.”
“Faktanya
Anda tak punya teman. Sampai-sampai perlu membayar hanya untuk didengar.”
“Dokter
tidak tahu sih, teman-teman saya asu semua,
aku enggak. Kalau datang ada maunya, pas dimintain
tolong ngilang.”
“Jadi
saya yang harus menjadi teman, Anda?”
“Yah,
untuk itulah saya datang ke mari.”
“Anda
berani bayar berapa?”
“Berapa
pun nominal yang Dokter minta, bakal saya kasih.” Pria itu tersenyum licik
penuh dengan akal bulus.
“Ngomong-ngomong
jangan panggil, Dok. Saya tak bisa menyembuhkan penyakit. Panggil Pak atau Mas
boleh.”
“Masalah
saya itu penyakit, Dok.”
“Jadi
sekarang Anda ngaku punya masalah?”
“Ok,
Dokter menang. Tapi dengar cerita saya sampai akhir.” mendengar kalimat itu
Psikiater tersenyum dan mengangguk pelan.
“Boleh
tapi jangan panggil, Dok.”
“Ok
Bro.” ia menepuk jidat usai dijawab begitu oleh Pasien. “Saya merasa hampa, tak
ada semangat hidup lagi, Mas.”
“Kenapa?”
“Yah,
karena tak ada hal yang dapat dicari di dunia ini. Semuanya tak berarti, toh
juga kita akan mati.”
“Anda
sudah berkeluarga?”
“Belum.”
“Nah,
mungkin itu biang keladinya. Coba Anda cari pendamping hidup, setelah punya
momongan pasti pikiran Anda jauh lebih baik. Atau kalau tidak mau repot, sewa
saja wanita penghibur paling cantik, jika perlu masih perawan. Bila punya
banyak uang ada kok artis mau dinikah siri.” Cetusnya.
“Dokter
tidak tahu angka perceraian di pengadilan agama kian tahun makin tinggi, saya
tentu tak ingin menambah jumlah itu. Bayi? Ah, pasangan kekasih hakikatnya
menyalurkan kenikmatan hewani, keturunan urusan nomer dua. Janin dibuang ke
tempat sampah. Saya meskipun jelek begini, tak sudi pakai gituan, Mas. Takut
kena penyakit. Apalagi kalau nikah dengan selebritis, bisa-bisa kantong
menipis.”
Psikiater
pun termenung, sibuk mencari solusi paling aman agar pasiennya jangan sampai
bunuh diri atau semakin gila.
“Anda
punya agama, kan? Rajin beribadah, niscaya hati tenteram walau tak ada harta
atau pun tahta.”
“Sejujurnya
saya selalu berusaha khusyuk mendekati Tuhan dan meninggalkan hal-hal duniawi. Namun,
beberapa orang membuat keributan juga menuntut beberapa hal konyol. Hanya
karena hal sepele, tak sependapat. Kadang saya merasa manusia selalu punya
pembenaran sendiri atas tindakan masing-masing. “
“Terus
mau sampeyan apa?” si pasien
tiba-tiba tertawa membuat lawan bicaranya jadi ketakutan. “Anda sudah gila?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Dunia
ini yang gila.” Psikiater menangkupkan telapak tangan ke wajah. “Kalau tidak ikut
gila kita gak akan diterima.”
“Anda
orang kaya, kenapa tidak mencari kebahagiaan lain. Orang-orang seperti anda
harusnya mudah melakukan hal itu.”
“Uang
tidak bisa membeli kebahagiaan, Mas. Tapi dengan uang kita mungkin bisa
bahagia.”
“Tampaknya
anda pintar bicara, profesi anda apa sebenarnya?” tanyanya penasaran.
“Saya
mudah bosan asal sampeyan tahu.
Pernah dulu waktu muda jadi motivator tapi karena saya juga punya masalah
seperti orang kebanyakan. Dan, orang lain memuntahkan masalah mereka, terjadilah
gunungan masalah yang meledak saat itu juga. Dia pikir saya utusan Tuhan yang
punya petunjuk. Setelahnya, saya jadi advokat, bukan alpukat ingat itu. Tapi
karena banyak kasus gagal saya menangkan. Para koruptor masuk jeruji dan napi
membanjiri diurus sipir. Terakhir, takdir menggariskan saya menjadi
pengangguran banyak acara.”
“Baiklah,
coba Anda menulis apapun di kertas ini.” kemudian pasien menerima pena dan
lekas menggoresnya.
“Nulis
apa, Mas? Esai? Cerpen? Novel? Puisi? Saya bukan pengarang atau pujangga.
Mereka punya banyak sekali waktu luang.”
“Terserah,
asal jangan nggambar.”
“Memang
kenapa, Mas?”
“Saya
gak bisa gambar.”
Si
pasien geleng-geleng kepala.
/2/
Seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan.
“Jadi
kapan kamu menceraikan istrimu?” tanyanya sambil menggoyangkan kaki.
“Entahlah,
mungkin saat musim hujan sudah pergi.”
“Aku
serius! Perutku kian besar, tetangga mulai menyiarkan kabar tidak benar.”
“Tenanglah,
aku sedang berpikir. Semua akan menjadi kacau bila kita gegabah melakukan
sesuatu.”
“Saat
menanamnya memang kamu berpikir?”
Ia
menggeleng, dilepasnya jas yang membuat gerah meski hari tidak cerah. Mendung.
“Jadi
siapa saja yang tahu perkara ini?”
“Istrimu,
kalau aku beritahu. Sejauh ini hanya aku. Orang-orang berpikir aku banyak makan
dan jadi gemuk. Setiap keluar dari kamar kos, aku selalu mengenakan jaket tebal
untuk mengelabui mata-mata yang ingin tahu.”
“Sementara
ini kau jangan banyak keluar, cukup di dalam kamar. Aku punya kenalan yang
sudah berpengalaman menangani masalah semacam ini.”
“Gila!
Kau ingin aku mati sambil menanggung dosa, hah?!” bentaknya.
“Jangan
berteriak! Banyak pasien sakit, kau tak mau kan satpam menggeret salah satu
dari kita.”
“Nikahi
aku. Kalau kamu memang benar-benar mencintaiku. Tak apalah jadi istri kedua, bukannya
lagi jamannya seperti itu?”
“Bisa
dibunuh aku oleh ibunya anak-anak.”
“Itu
masalahmu!”
“Baiklah,
besok aku akan membawa penghulu. Kau atur di mana lokasi juga para saksi. Mahar
apa yang kamu minta?”
“Seperangkat
alat salat.”
“Yakin?”
tanyanya ragu.
“Iya,
sepertinya aku sudah lupa cara berkomunikasi dengan Tuhan. Aku ingin hidup
tenang di masa tuaku.”
“Kau
tak ingin mengundang orang tuamu?”
Ia
menggeleng. “Mereka sudah membuangku, aku anak yang tidak berguna.”
“Tapi
mereka akan punya cucu.”
“Mereka
tak mengharapkannya, masih ada adikku yang jadi kesayangan.”
“Kau
tahu apa yang membuatku jatuh cinta padamu?” ucap lelaki itu.
“Cantik,
seksi, kaya, muda, pintar, baik, putih, langsing, bahenol, bohai, semlohai,
tirus, semampai, belok, sipit, lurus, ikal, perawan, janda, jujur, apa adanya,
cerewet, pendiam, tulus, gingsul, padat, ceking, lesung pipit, tembem, kuning
langsat, dermawan, pelit, pengertian, egois, suka menolong, acuh tak acuh,
empati, simpati, hati-hati, cermat, cerdas, rendah hati, sombong, taat,
pembangkang, pendobrak, innovator, rajin menabung, suka bergosip, memfitnah,
mencuri, suka belanja diskonan, penyayang binatang, gemar berkebun, senang
berderma, menjaga pandangan, mengurangi makan, pendiam, lugu, manis, mencukur
alis, mencabuti ketiak, me-laser bulu
kaki, mewarnai rambut, memerbesar dada, mengkawat gigi, berjemur di pantai, mandiri,
suka organisasi, pandai berdebat, suka memasak, jago di ranjang, apa lagi ya?”
“Bukan
itu.”
“Lalu?”
“Aku
melihat diriku ada padamu.”
“Bagian
yang mana?” tanya wanita itu, masih tersipu.
Ia
lantas mengecup bibir ranum tersebut.
/3/
Semua
orang sudah tidur, hanya lampu jalanan masih menyala. Laki-laki itu menaruh tas
dan membuka pintu kamar. Sesosok tubuh sedang berbaring menghadap jendela,
dihujani sinar rembulan.
“Masih
belum tidur?” tanyanya sambil mengerayangi wanita itu, namun ditampik.
“Wanita
mana yang bisa terlelap, sementara lakinya bergentayangan di luar sana mencari
wanita?”
“Jadi
kau sudah tahu?”
Terdengar
suara sesenggukan, hujan turun dari matanya.
“Kau
boleh menikahi wanita itu, tapi. . .”
“Tapi?”
“Bunuh
aku terlebih dahulu.” Ujarnya pelan.
“Kenapa
kita tidak mati saja berdua?”
“Selingkuhanmu
bakal menangis.”
“Lantas
kamu tidak?”
“Air
mataku sudah habis.”
“Tinggal
isi ulang.” Candanya.
“Tidak
lucu, kau pikir galon.” Ia berusaha menutup mulutnya, tak ingin suaminya tahu.
“Kalau
garing harusnya kamu diam, bukan malah tertawa.”
“Kau
tahu, perempuan suka pria humoris, pantas saja banyak pelawak punya istri
cantik.”
“Tapi
aku bukan pelawak.”
“Belum
sepenuhnya, tapi selama ini kau selalu berbuat hal-hal konyol.”
“Yah,
dan aku pikir aku sudah gila karena hal itu.”
“Semua
pasienmu gila dan kau ketularan mereka.”
“Lantas,
kenapa kamu tidak meminta cerai?”
“Karena
aku sama gilanya denganmu!”
Keduanya
pun tertawa.
“Andai
saja aku bisa seperti Drupadi, dikelilingi para pandawa.” Ungkapnya.
“Kau
tahu apa yang membuat Drupadi masuk neraka terlebih dahulu sebelum mencapai
nirwana?”
“Apa?”
“Ia
lebih mencintai Arjuna ketimbang anggota pandawa lain.”
“Iyah,
kau tahu wanita tidak bisa mencintai dua orang sekaligus. Beda dengan lelaki
mudah jatuh cinta.”
“Aku
kerap membayangkan diriku adalah Arjuna. Sering aku ingin menahan diri untuk
tidak punya istri lagi.”
“Sedang
aku adalah Sinta yang terjun ke dalam api, karena kelakuan suaminya.” Tukasnya.
/4/
Hari
itu, ia mengajukan cuti sementara dari tempat kerja. Ia ingin rehat sejenak
dari segala permasalahan hidup. Ia membuang ponsel ke dalam sampah, bangun
pagi-pagi setelah mandi juga gosok gigi. Para tetangga tengah bersenam
kebugaran jasmani diiringi lagu juga arahan instruktur. Anjing-anjing berlarian
dengan tali kekang di leher. Ia menaiki sepeda dan menghindari lalu lintas yang
kian macet. Pengamen, pengemis, penjual makanan-minuman, anak kecil, becak,
ojek online, mobil tinja, ambulance,
mobil tentara, dokar, bemo, bus juga mobil pejabat masuk daftar itu. Ia sampai
di klinik setelah mengadakan janji jauh-jauh hari. Wanita itu sedang membaca
sebuah novel, novel yang tak terkenal siapa pengarang juga judulnya. Ia memakai
baju bermotif bunga-bunga, bak guru taman kanak.
“Jadi
apa masalah anda?”
Jeruk Macan, 21 Januari 2018

No comments:
Post a Comment