Sunday, January 28, 2018

Cerpen

Psikiater

 /1/
“Jadi apa masalah Anda?”
“Saya tak merasa punya masalah, Dok.”
“Terus kenapa anda datang ke sini?!” tanyanya sengit.
“Saya hanya butuh teman curhat.”
“Itu masalahnya”
“Suka-suka dokter mau bilang apa.”
“Faktanya Anda tak punya teman. Sampai-sampai perlu membayar hanya untuk didengar.”
“Dokter tidak tahu sih, teman-teman saya asu semua, aku enggak. Kalau datang ada maunya, pas dimintain tolong ngilang.”
“Jadi saya yang harus menjadi teman, Anda?”
“Yah, untuk itulah saya datang ke mari.”
“Anda berani bayar berapa?”
“Berapa pun nominal yang Dokter minta, bakal saya kasih.” Pria itu tersenyum licik penuh dengan akal bulus.
“Ngomong-ngomong jangan panggil, Dok. Saya tak bisa menyembuhkan penyakit. Panggil Pak atau Mas boleh.”
“Masalah saya itu penyakit, Dok.”
“Jadi sekarang Anda ngaku punya masalah?”
“Ok, Dokter menang. Tapi dengar cerita saya sampai akhir.” mendengar kalimat itu Psikiater tersenyum dan mengangguk pelan.
“Boleh tapi jangan panggil, Dok.”
“Ok Bro.” ia menepuk jidat usai dijawab begitu oleh Pasien. “Saya merasa hampa, tak ada semangat hidup lagi, Mas.”
“Kenapa?”
“Yah, karena tak ada hal yang dapat dicari di dunia ini. Semuanya tak berarti, toh juga kita akan mati.”
“Anda sudah berkeluarga?”
“Belum.”
“Nah, mungkin itu biang keladinya. Coba Anda cari pendamping hidup, setelah punya momongan pasti pikiran Anda jauh lebih baik. Atau kalau tidak mau repot, sewa saja wanita penghibur paling cantik, jika perlu masih perawan. Bila punya banyak uang ada kok artis mau dinikah siri.” Cetusnya.
“Dokter tidak tahu angka perceraian di pengadilan agama kian tahun makin tinggi, saya tentu tak ingin menambah jumlah itu. Bayi? Ah, pasangan kekasih hakikatnya menyalurkan kenikmatan hewani, keturunan urusan nomer dua. Janin dibuang ke tempat sampah. Saya meskipun jelek begini, tak sudi pakai gituan, Mas. Takut kena penyakit. Apalagi kalau nikah dengan selebritis, bisa-bisa kantong menipis.”
Psikiater pun termenung, sibuk mencari solusi paling aman agar pasiennya jangan sampai bunuh diri atau semakin gila.
“Anda punya agama, kan? Rajin beribadah, niscaya hati tenteram walau tak ada harta atau pun tahta.”
“Sejujurnya saya selalu berusaha khusyuk mendekati Tuhan dan meninggalkan hal-hal duniawi. Namun, beberapa orang membuat keributan juga menuntut beberapa hal konyol. Hanya karena hal sepele, tak sependapat. Kadang saya merasa manusia selalu punya pembenaran sendiri atas tindakan masing-masing. “
“Terus mau sampeyan apa?” si pasien tiba-tiba tertawa membuat lawan bicaranya jadi ketakutan. “Anda sudah gila?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Dunia ini yang gila.” Psikiater menangkupkan telapak tangan ke wajah. “Kalau tidak ikut gila kita gak akan diterima.”
“Anda orang kaya, kenapa tidak mencari kebahagiaan lain. Orang-orang seperti anda harusnya mudah melakukan hal itu.”
“Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, Mas. Tapi dengan uang kita mungkin bisa bahagia.”
“Tampaknya anda pintar bicara, profesi anda apa sebenarnya?” tanyanya penasaran.
“Saya mudah bosan asal sampeyan tahu. Pernah dulu waktu muda jadi motivator tapi karena saya juga punya masalah seperti orang kebanyakan. Dan, orang lain memuntahkan masalah mereka, terjadilah gunungan masalah yang meledak saat itu juga. Dia pikir saya utusan Tuhan yang punya petunjuk. Setelahnya, saya jadi advokat, bukan alpukat ingat itu. Tapi karena banyak kasus gagal saya menangkan. Para koruptor masuk jeruji dan napi membanjiri diurus sipir. Terakhir, takdir menggariskan saya menjadi pengangguran banyak acara.”
“Baiklah, coba Anda menulis apapun di kertas ini.” kemudian pasien menerima pena dan lekas menggoresnya.
“Nulis apa, Mas? Esai? Cerpen? Novel? Puisi? Saya bukan pengarang atau pujangga. Mereka punya banyak sekali waktu luang.”
“Terserah, asal jangan nggambar.”
“Memang kenapa, Mas?”
“Saya gak bisa gambar.”
Si pasien geleng-geleng kepala.
 /2/
 Seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan.
“Jadi kapan kamu menceraikan istrimu?” tanyanya sambil menggoyangkan kaki.
“Entahlah, mungkin saat musim hujan sudah pergi.”
“Aku serius! Perutku kian besar, tetangga mulai menyiarkan kabar tidak benar.”
“Tenanglah, aku sedang berpikir. Semua akan menjadi kacau bila kita gegabah melakukan sesuatu.”
“Saat menanamnya memang kamu berpikir?”
Ia menggeleng, dilepasnya jas yang membuat gerah meski hari tidak cerah. Mendung.
“Jadi siapa saja yang tahu perkara ini?”
“Istrimu, kalau aku beritahu. Sejauh ini hanya aku. Orang-orang berpikir aku banyak makan dan jadi gemuk. Setiap keluar dari kamar kos, aku selalu mengenakan jaket tebal untuk mengelabui mata-mata yang ingin tahu.”
“Sementara ini kau jangan banyak keluar, cukup di dalam kamar. Aku punya kenalan yang sudah berpengalaman menangani masalah semacam ini.”
“Gila! Kau ingin aku mati sambil menanggung dosa, hah?!” bentaknya.
“Jangan berteriak! Banyak pasien sakit, kau tak mau kan satpam menggeret salah satu dari kita.”
“Nikahi aku. Kalau kamu memang benar-benar mencintaiku. Tak apalah jadi istri kedua, bukannya lagi jamannya seperti itu?”
“Bisa dibunuh aku oleh ibunya anak-anak.”
“Itu masalahmu!”
“Baiklah, besok aku akan membawa penghulu. Kau atur di mana lokasi juga para saksi. Mahar apa yang kamu minta?”
“Seperangkat alat salat.”
“Yakin?” tanyanya ragu.
“Iya, sepertinya aku sudah lupa cara berkomunikasi dengan Tuhan. Aku ingin hidup tenang di masa tuaku.”  
“Kau tak ingin mengundang orang tuamu?”
Ia menggeleng. “Mereka sudah membuangku, aku anak yang tidak berguna.”
“Tapi mereka akan punya cucu.”
“Mereka tak mengharapkannya, masih ada adikku yang jadi kesayangan.”
“Kau tahu apa yang membuatku jatuh cinta padamu?” ucap lelaki itu.
“Cantik, seksi, kaya, muda, pintar, baik, putih, langsing, bahenol, bohai, semlohai, tirus, semampai, belok, sipit, lurus, ikal, perawan, janda, jujur, apa adanya, cerewet, pendiam, tulus, gingsul, padat, ceking, lesung pipit, tembem, kuning langsat, dermawan, pelit, pengertian, egois, suka menolong, acuh tak acuh, empati, simpati, hati-hati, cermat, cerdas, rendah hati, sombong, taat, pembangkang, pendobrak, innovator, rajin menabung, suka bergosip, memfitnah, mencuri, suka belanja diskonan, penyayang binatang, gemar berkebun, senang berderma, menjaga pandangan, mengurangi makan, pendiam, lugu, manis, mencukur alis, mencabuti ketiak, me-laser bulu kaki, mewarnai rambut, memerbesar dada, mengkawat gigi, berjemur di pantai, mandiri, suka organisasi, pandai berdebat, suka memasak, jago di ranjang, apa lagi ya?”
“Bukan itu.”
“Lalu?”
“Aku melihat diriku ada padamu.”
“Bagian yang mana?” tanya wanita itu, masih tersipu.
Ia lantas mengecup bibir ranum tersebut.
/3/
Semua orang sudah tidur, hanya lampu jalanan masih menyala. Laki-laki itu menaruh tas dan membuka pintu kamar. Sesosok tubuh sedang berbaring menghadap jendela, dihujani sinar rembulan.
“Masih belum tidur?” tanyanya sambil mengerayangi wanita itu, namun ditampik.
“Wanita mana yang bisa terlelap, sementara lakinya bergentayangan di luar sana mencari wanita?”
“Jadi kau sudah tahu?”
Terdengar suara sesenggukan, hujan turun dari matanya.
“Kau boleh menikahi wanita itu, tapi. . .”
“Tapi?”
“Bunuh aku terlebih dahulu.” Ujarnya pelan.
“Kenapa kita tidak mati saja berdua?”
“Selingkuhanmu bakal menangis.”
“Lantas kamu tidak?”
“Air mataku sudah habis.”
“Tinggal isi ulang.” Candanya.
“Tidak lucu, kau pikir galon.” Ia berusaha menutup mulutnya, tak ingin suaminya tahu.
“Kalau garing harusnya kamu diam, bukan malah tertawa.”
“Kau tahu, perempuan suka pria humoris, pantas saja banyak pelawak punya istri cantik.”
“Tapi aku bukan pelawak.”
“Belum sepenuhnya, tapi selama ini kau selalu berbuat hal-hal konyol.”
“Yah, dan aku pikir aku sudah gila karena hal itu.”
“Semua pasienmu gila dan kau ketularan mereka.”
“Lantas, kenapa kamu tidak meminta cerai?”
“Karena aku sama gilanya denganmu!”
Keduanya pun tertawa.
“Andai saja aku bisa seperti Drupadi, dikelilingi para pandawa.” Ungkapnya.
“Kau tahu apa yang membuat Drupadi masuk neraka terlebih dahulu sebelum mencapai nirwana?”
“Apa?”
“Ia lebih mencintai Arjuna ketimbang anggota pandawa lain.”
“Iyah, kau tahu wanita tidak bisa mencintai dua orang sekaligus. Beda dengan lelaki mudah jatuh cinta.”
“Aku kerap membayangkan diriku adalah Arjuna. Sering aku ingin menahan diri untuk tidak punya istri lagi.”
“Sedang aku adalah Sinta yang terjun ke dalam api, karena kelakuan suaminya.” Tukasnya.
/4/
Hari itu, ia mengajukan cuti sementara dari tempat kerja. Ia ingin rehat sejenak dari segala permasalahan hidup. Ia membuang ponsel ke dalam sampah, bangun pagi-pagi setelah mandi juga gosok gigi. Para tetangga tengah bersenam kebugaran jasmani diiringi lagu juga arahan instruktur. Anjing-anjing berlarian dengan tali kekang di leher. Ia menaiki sepeda dan menghindari lalu lintas yang kian macet. Pengamen, pengemis, penjual makanan-minuman, anak kecil, becak, ojek online, mobil tinja, ambulance, mobil tentara, dokar, bemo, bus juga mobil pejabat masuk daftar itu. Ia sampai di klinik setelah mengadakan janji jauh-jauh hari. Wanita itu sedang membaca sebuah novel, novel yang tak terkenal siapa pengarang juga judulnya. Ia memakai baju bermotif bunga-bunga, bak guru taman kanak.
“Jadi apa masalah anda?”

 Jeruk Macan, 21 Januari 2018

No comments:

Post a Comment