Monday, March 13, 2017

Esai

Esensi dari Menulis
Sebagian orang menganggap remeh pekerjaan kuli tinta sebagai kegiatan sia-sia tak menghasilkan materi. Sebagian lagi menganggap menulis adalah hal yang sering dikerjakan para perempuan. Dunia kepengarangan, dunia sunyi yang banyak dijauhi—jauh dari ingar-bingar suara gelak tawa manusia. Bagai seorang pertapa yang menunggu datangnya ilham. Filosof yang mencoba memahami kehidupan dari kejauhan, memandangi alam semesta yang fana penuh ilusi. Pemikir ulung yang merangkai suatu konsep untuk diterapkan dalam kehidupan nyata. Itulah gambaran penulis yang mencuat di dalam tempurung kepala saya. Lalu, apakah tujuan dari menulis sendiri? Sastrawan kondang Seno Gumira Ajidarma pernah berkoar: “Ketika jurnalisme dibungkam sastra harus bicara.” Itu adalah salah satu dari sekian banyak maksud dalam menulis. Para kiai menulis sebuah kitab bagi muridnya agar senantiasa dapat dinikmati. Kitab tersebut mengajarkan ilmu yang bermanfaat, mengalirkan pahala menerus pada si empunya ilmu hingga liang lahat. Menulis juga dapat memberikan informasi bagi orang lain, entah itu berita baik atau buruk. Terakhir, menulis cerita atau sastra untuk dibaca banyak orang. Kalau dikaji lebih jauh tujuan dari menulis ada berbagai macam, namun kali ini saya menekankan pembahasan pada esensi dari menulis. Dalam hal ini bagaimana membuat cerita yang menarik. Cerita dalam bahas Jawa, Crita, memiliki kepanjangan Sacrit tapi nyata. Yang artinya sedikit tapi nyata. Tidak menutup kemungkinan suatu cerita berdasarkan kejadian yang pernah terjadi atau akan berlangsung di masa mendatang. Apa yang membuat sebuah cerita menjadi menarik? Judul yang membuat pembaca penasaran dan kalimat pembuka yang dapat menggiring sampai akhir cerita. Sementara faktor lain dapat dipelajari sendiri secara mendalam. Ada dua gaya menulis yang cukup dikenal: surealis dan realis. Surealis menekankan pada keindahan kalimat atau kata puitis bermakna ambigu dan imajinasi tanpa batas. Sedangkan realis berkebalikan dengan surealis, berfokus pada kata atau kalimat jelas dan mudah dimengerti. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan.  Surealis lebih banyak dipuji dan dikritik kritikus sastra sebagai karya yang bermutu dan berkualitas. Contoh: prosa yang memakai judul surealis; Dongeng Hitam karya Yetii a.ka dll. Karya realis lebih mudah dimengerti pembaca dan melekat dalam ingatan contoh prosa karangan Seno Gumira Ajidarma berjudul Pelajaran Mengarang. Menceritakan seorang anak kecil diminta gurunya menulis karangan tentang ibunya yang berprofesi sebagai pelacur. Selain novel ada karya sastra yang memiliki peminatnya sendiri, cerpen. Kalau boleh saya katakan sastra koran, cerpen biasanya muncul di surat kabar saban hari minggu. Banyak penulis pemula juga kawakan berlomba-lomba mengirim karya untuk dimuat dan mendapat honor. Persaingannya ketat apalagi untuk surat kabar nasional dan sudah mempunyai nama mentereng. Sebagian yang menyerah karena tulisan tak kunjung dimuat memilih koran lokal. Dan, jika sudeah dimuat dan namanya muncul di koran dapat berbangga diri dengan pencapaian. Sebagian penulis pemula berkeyakinan bahwa kalau tulisan sering dimuat di koran boleh dikata hebat. Bisa membuat atologi cerpen nantinya. Apakah mereka tidak sadar atau terlena? Karya mereka seperti barang kodian atau saking banyaknya bisa diloakkan. Penulis pemula sering berfokus pada kuantitas bukan kualitas. Saya juga tergolong penulis pemula, tulisan jauh dari kata bagus—masih terus belajar dan mengasah diri. Bila penulis pemula menghadapi masalah kuantitas dan kualitas. Penulis senior mengalami hal yang lebih sukar lagi, dirasa atau tidak kualitas seseorang akan menurun dari waktu ke waktu. Para penulis harus tentu membaca agar menambah amunisi untuk menulis. Berusaha untuk mempertahankan kualitas atau meningkatkannya. Singkatnya, menulis itu tentang cara pola pikir sesorang. Semakin tulisan sederhana dan mudah dipahami begitulah representasi penulisnya.
Jeruk Macan, 17 Januari 2016
Radar Mojokerto, 13 Maret 2017


No comments:

Post a Comment