Api
Berwarna Hitam
Segalanya
musnah, menyisakan asap hitam jua jelaga menempel puing-puing bangunan.
Kerangka manusia telungkup, bau anyir darah di tanah. Sepertinya kemarin malam
dewa kematian hadir. Tempat semua hal buruk bermuara. Bisa ditemui beberapa
wanita berpakaian ketat berdiri depan pintu, menegur para tamu. Mereka tak
sungkan terutama jika hari sudah gelap dan para lelaki berbadan tegap duduk di
mulut gang. Orang-orang itu bermain kartu ditemani arak Jawa, gambar yang
dirajah pada kulit bagai suatu imbauan untuk tidak cari mati. Kadang jika anak
kampung lain berbuat onar, semua pemuda kompak membawa apa saja untuk membela
kehormatan. Meski tak satupun dari gerombolan itu pernah ikut berperang. Tak
jauh dari sana, sebuah tempat ibadah tegak berdiri di ujung kampung, ada guru
ngaji juga anak kecil belajar kitab suci. Semua warga tahu bahwa perekonomian
masih bergantung dari ramainya warung juga hiburan malam. Penjual makanan,
usaha laundry sampai unit paling
kecil tukang parkir mengais rezeki. Tiada niatan untuk mengusik, semua saling
melengkapi bagai yin dan yang. Memang ada kalanya petugas
berwajib datang, tapi di dunia ini tidak ada yang bisa dicegah kalau tahu
caranya. Sebelum razia dilakukan, oknum memberi kabar untuk tak beroperasi
sementara waktu. Selama itu para kupu-kupu beristirahat sambil merawat tubuh
yang mulai rapuh. Sedang Mami mereka berusaha memerkecil kerugian ketika mereka
tidak melayani pelanggan. Aku melihat ada yang berbeda dari pria itu, meski
sering aku hanya berbasa-basi pada setiap tamu yang datang. Kadang bila
beruntung informasi mengenai keburukan pejabat bisa kudapat dengan gratis dari
mulut si ajudan. Pria itu tidak banyak bicara ketika pertama kali datang.
Matanya memandang sekeliling ruangan seolah menelanjangi setiap sisi juga
kolong rumah. Ia mengenakan jaket kulit hitam legam dengan sepatu boot berwarna serupa. Dari caranya
berpakaian mengingatkanku akan anggota klub motor jalanan, ditambah kaca mata
hitam. Ah, bukan. Pria itu lebih mirip Arnold Schweisneger dalam Franchise film Terminator. Ia berbicara singkat juga padat seolah sedang menghemat
tenaga.
“Siapa
namamu?” Tanyaku sambil meraih batang tembakau sebelum akhirnya dirampas
olehnya.
“Aku
memiliki banyak nama Nona, bergantung di mana aku singgah.” Ia membuang sigaret
ke lantai lantas meratakannya dengan sepatu. Aku sempat sebal.
“Kamu
benci rokok?”
Ia
menggeleng.
“Aku
tidak suka dengan asap, karena di sanalah tempat api hidup.”
“Baiklah,
aku mengerti. Lantas bagaimana aku bisa memanggilmu?”
“Izrail.”
“Apa?
Jadi itu berhubungan dengan pekerjaanmu?”
“Bisa
dikatakan begitu, aku selalu penasaran dengan bagaimana ekspresi manusia ketika
menemui ajal.”
Aku
membuka pintu kamar baunya menguarkan wangi semerbak, meski akhirnya jadi tidak
keruan. Lampu berwarna redup dengan kipas angin tua soak kerap bersuara mirip
tikus tergencet dipan. Di luar jendela bisa terdengar dengan jelas suara kereta
melintas juga teriakan anak-anak muda bernyanyi juga minum miras. Umpatan
sesekali terdengar dan selalu berkakhir keributan, barang-barang berserakan,
jendela pecah juga darah tumpah di tanah. Izrail duduk, mengeluarkan sebuah
tongkat panjang yang akhirnya kutahu adalah sebuah pedang.
“Ada
seseorang yang harus kubunuh malam ini.” ucapnya tanpa kutanya terlebih dahulu.
“Apakah
orang itu aku?”
Izrail
terdiam lantas menyarungkan pedang.
“Bukan,
tanpa kubunuh sekalipun kau tahu ajalmu sudah dekat.”
Aku
menutup mulut, mengingat peristiwa kemarin saat dokter memvonis umurku tidak
panjang. Tidak ada obat untuk penyakitku. Hanya mencegah agar tidak semakin
parah.
“Dari
mana kamu tahu?”
“Sudah
kubilang aku Dewa Kematian.”
“Kamu
terlalu banyak melihat film kartun.” Protesku.
“Kau
percaya hantu, setan, iblis, malaikat juga Tuhan?”
Aku
mengangguk, “Tapi aku belum pernah melihat mereka.”
“Mereka
bukan dilihat dengan mata telanjang, tapi dirasakan.” Izrail menekankan
telunjuknya ke dadaku.
***
Pekerjaan
ini masih tetap membosankan. Tak pernah berubah. Hanya orang-orang yang harus
dieksekusi makin busuk dari masa ke masa. Rupa mereka tidak pernah menyenangkan
untuk dilihat. Dari seribu cara yang kulakukan, untuk mengakali agar tidak
jengah. Dari yang paling lembut sampai yang paling brutal tetap saja tidak
membuatku bahagia atau menikmatinya. Seumur hidup hal ini terjadi sampai hari
perhitungan tiba. Sebelum akhirnya aku pun mati seperti halnya mereka. Jika
sudah masanya memisahkan jiwa sendiri seperti halnya apa yang kuperbuat selama
ini. Biar kurasakan erangan, rintihan juga permohonan ampun yang kerap kali
kudengar. Aku sampai ke tempat ini seusai dengan petunjuk yang ia berikan juga
perintah-Nya. Bau pesing di tembok tericum entah bekas anjing atau manusia
barbar. Semoga mereka masih bisa melakukan “itu” di kakus, sebelum berkalang
tanah dan disantap para cacing. Tampaknya akan memakan waktu lama guna
menghabisi seluruh nyawa. Semalam? Seminggu? Tiap kuliat pemuka agama melintasi
rumah penuh tawa gadis, ia berjalan tergesa dengan sorban melilit mulut.
Berusaha menghindari ajakan juga sahutan suara dari dalam. Namun, matanya tak
pernah lepas dari pintu seolah ada hal yang ingin dituntaskan sejak lama. Wak
Amin lantas masuk musola, membelah jamaah dan jadi pemimpin salat sore
itu. Tiada yang sudi menyambutku saat
tiba, mungkin takut dengan apa yang kupakai. Padahal, biasanya jauh lebih
sangar, kimono ala samurai jaman dahulu lengkap dengan pedang.
Siti, ia menyebutkan namanya setelah seorang wanita paruh baya dengan wujud
gentong ditelan kegelapan menyuruhnya. Perempuan itu menjelaskan beberapa hal
layaknya pemandu wisata dan menanyakan semua tentangku—kuanggap sebagai suatu
basa-basi. Kami sampai kamar bercahaya remang, kukatakan maksud datang hanya
untuk beristirahat. Siti terlihat bingung dengan pernyataanku, alisnya bertemu
dan wajahnya bersemu. Aku dapat melihat bagaimana cara ia mati, tak sanggup
kukatakan pantang seorang algojo melakukan hal itu. Ia masih muda namun harus
meninggalkan kehidupan yang kacau-balau. Ketika duduk ada sesuatu yang
mengganjal, ternyata sebuah songkok tergeletak di sofa.
“Maaf,
kemarin lelaki tua itu lupa membawa barang miliknya. Istri pertamanya menelpon,
si anak diperiksa polisi sedang istri muda mengeluhkan kandungan di perut.”
Aku
selipkan songkok di pinggang.
“Jadi
kapan kau akan melakukan pekerjaanmu?”
“Tepat
tengah malam, ketika semua orang tengah terlelap.”
“Hanya
dengan sebilah pedang?” tanyanya tak percaya.
“Sebilah
pedang sudah cukup untuk itu semua.”
Siti
duduk bersila sambil memandangi pedang yang kugenggam, matanya memancarkan
ketakutan luar biasa. Seakan ada kepala berpisah dengan badannya.
“Kau harus pergi dari sini!” imbauku.
“Ke mana? Sejak kecil ini rumahku, mami
menemukanku di depan pintu ketika hujan mengguyur. Bersama sebuah kardus dan
sepucuk surat.”
“Kau
tak pantas mati di sini, semuanya akan habis dilahap kobaran api!”
***
Sangatlah
gampang menghabisi anjing-anjing peliharaan. Sang majikan bersembunyi di balik
bayangan. Tingkahnya mirip tikus, hanya saja berdasi juga setelan jas. Katana milikku bermandikan darah segar,
namun cairan merah kental tersebut sirna. Jadi minuman bagi dirinya. Cukup
kutinggalkan beberapa mayat di pinggir selokan, ada yang masih bernapas namun
dengan susah payah. Mirip ikan paus terdampar. Selanjutnya suara tembakan,
teriakan serta obor menyala menghadang langkah. Sudah kuduga mereka tidak
pernah berani untuk datang sendiri.
“Apa
yang kalian takutkan? Ia sendirian!” Ucap pemimpin kelompok itu, ia gendut dan
hanya mengenakan kaus kutang putih. Gambar naga melilit lengannya. Satu
persatu dari para pria itu melayangkan serangan, pukulan, tendangan tak mereka
tahan. Beberapa percuma dan dapat dilumpuhkan dengan mudah. Ganti berondongan
peluru menghujani dengan umpatan kesal dari si penembak. Pedang menangkis biji
timah panas tersebut, membelahnya jadi dua. Orang-orang bengong mendapati
kejadian itu, sebelum akhirnya terpisah dari batang leher. Kepala menggelinding
dengan mudahnya menuju tepi sungai. Tinggal pria gendut bertato naga. Ia
kelihatan gugup, melihat semua anak buahnya melayang sia-sia. Matanya seolah
ingin menangis, celana pendeknya basah oleh pipis.
“Kau
pasti akan mati, sialan!” ia mengambil sesuatu di saku. “Sampai jumpa di
neraka.”
Benda
berukuran kepalan orang dewasa itu melayang sebelum kubelah dengan pedang. Ledakannya
membuat suara keras juga beberapa saat telinga tak dapat mendengar. Api
membara, membakar apa yang ada. Warna merah kekuningan menjalar. Namun, aku
lebih suka menggunakan kekuatan sendiri. Tapi kali ini api tidak muncul dari
telapak tanganku, Melainkan dari dua mata bulat perempuan itu. Siti berjalan
dengan tubuh gontai melewati jalanan yang penuh mayat bergelimpangan. Setiap
kali melihat sesuatu yang ia benci, api berwarna hitam muncul dan membakar apa
saja.
Mojokerto,
28 November 2017

No comments:
Post a Comment