Monday, March 12, 2018

Cerpen

Api Berwarna Hitam
Segalanya musnah, menyisakan asap hitam jua jelaga menempel puing-puing bangunan. Kerangka manusia telungkup, bau anyir darah di tanah. Sepertinya kemarin malam dewa kematian hadir. Tempat semua hal buruk bermuara. Bisa ditemui beberapa wanita berpakaian ketat berdiri depan pintu, menegur para tamu. Mereka tak sungkan terutama jika hari sudah gelap dan para lelaki berbadan tegap duduk di mulut gang. Orang-orang itu bermain kartu ditemani arak Jawa, gambar yang dirajah pada kulit bagai suatu imbauan untuk tidak cari mati. Kadang jika anak kampung lain berbuat onar, semua pemuda kompak membawa apa saja untuk membela kehormatan. Meski tak satupun dari gerombolan itu pernah ikut berperang. Tak jauh dari sana, sebuah tempat ibadah tegak berdiri di ujung kampung, ada guru ngaji juga anak kecil belajar kitab suci. Semua warga tahu bahwa perekonomian masih bergantung dari ramainya warung juga hiburan malam. Penjual makanan, usaha laundry sampai unit paling kecil tukang parkir mengais rezeki. Tiada niatan untuk mengusik, semua saling melengkapi bagai yin dan yang. Memang ada kalanya petugas berwajib datang, tapi di dunia ini tidak ada yang bisa dicegah kalau tahu caranya. Sebelum razia dilakukan, oknum memberi kabar untuk tak beroperasi sementara waktu. Selama itu para kupu-kupu beristirahat sambil merawat tubuh yang mulai rapuh. Sedang Mami mereka berusaha memerkecil kerugian ketika mereka tidak melayani pelanggan. Aku melihat ada yang berbeda dari pria itu, meski sering aku hanya berbasa-basi pada setiap tamu yang datang. Kadang bila beruntung informasi mengenai keburukan pejabat bisa kudapat dengan gratis dari mulut si ajudan. Pria itu tidak banyak bicara ketika pertama kali datang. Matanya memandang sekeliling ruangan seolah menelanjangi setiap sisi juga kolong rumah. Ia mengenakan jaket kulit hitam legam dengan sepatu boot berwarna serupa. Dari caranya berpakaian mengingatkanku akan anggota klub motor jalanan, ditambah kaca mata hitam. Ah, bukan. Pria itu lebih mirip Arnold Schweisneger dalam Franchise film Terminator. Ia berbicara singkat juga padat seolah sedang menghemat tenaga.
“Siapa namamu?” Tanyaku sambil meraih batang tembakau sebelum akhirnya dirampas olehnya.
“Aku memiliki banyak nama Nona, bergantung di mana aku singgah.” Ia membuang sigaret ke lantai lantas meratakannya dengan sepatu. Aku sempat sebal.
“Kamu benci rokok?”
Ia menggeleng.
“Aku tidak suka dengan asap, karena di sanalah tempat api hidup.”
“Baiklah, aku mengerti. Lantas bagaimana aku bisa memanggilmu?”
“Izrail.”
“Apa? Jadi itu berhubungan dengan pekerjaanmu?”
“Bisa dikatakan begitu, aku selalu penasaran dengan bagaimana ekspresi manusia ketika menemui ajal.”
Aku membuka pintu kamar baunya menguarkan wangi semerbak, meski akhirnya jadi tidak keruan. Lampu berwarna redup dengan kipas angin tua soak kerap bersuara mirip tikus tergencet dipan. Di luar jendela bisa terdengar dengan jelas suara kereta melintas juga teriakan anak-anak muda bernyanyi juga minum miras. Umpatan sesekali terdengar dan selalu berkakhir keributan, barang-barang berserakan, jendela pecah juga darah tumpah di tanah. Izrail duduk, mengeluarkan sebuah tongkat panjang yang akhirnya kutahu adalah sebuah pedang. 
“Ada seseorang yang harus kubunuh malam ini.” ucapnya tanpa kutanya terlebih dahulu.
“Apakah orang itu aku?”
Izrail terdiam lantas menyarungkan pedang.
“Bukan, tanpa kubunuh sekalipun kau tahu ajalmu sudah dekat.”
Aku menutup mulut, mengingat peristiwa kemarin saat dokter memvonis umurku tidak panjang. Tidak ada obat untuk penyakitku. Hanya mencegah agar tidak semakin parah.
“Dari mana kamu tahu?”
“Sudah kubilang aku Dewa Kematian.”
“Kamu terlalu banyak melihat film kartun.” Protesku.
“Kau percaya hantu, setan, iblis, malaikat juga Tuhan?”
Aku mengangguk, “Tapi aku belum pernah melihat mereka.”
“Mereka bukan dilihat dengan mata telanjang, tapi dirasakan.” Izrail menekankan telunjuknya ke dadaku.
***
Pekerjaan ini masih tetap membosankan. Tak pernah berubah. Hanya orang-orang yang harus dieksekusi makin busuk dari masa ke masa. Rupa mereka tidak pernah menyenangkan untuk dilihat. Dari seribu cara yang kulakukan, untuk mengakali agar tidak jengah. Dari yang paling lembut sampai yang paling brutal tetap saja tidak membuatku bahagia atau menikmatinya. Seumur hidup hal ini terjadi sampai hari perhitungan tiba. Sebelum akhirnya aku pun mati seperti halnya mereka. Jika sudah masanya memisahkan jiwa sendiri seperti halnya apa yang kuperbuat selama ini. Biar kurasakan erangan, rintihan juga permohonan ampun yang kerap kali kudengar. Aku sampai ke tempat ini seusai dengan petunjuk yang ia berikan juga perintah-Nya. Bau pesing di tembok tericum entah bekas anjing atau manusia barbar. Semoga mereka masih bisa melakukan “itu” di kakus, sebelum berkalang tanah dan disantap para cacing. Tampaknya akan memakan waktu lama guna menghabisi seluruh nyawa. Semalam? Seminggu? Tiap kuliat pemuka agama melintasi rumah penuh tawa gadis, ia berjalan tergesa dengan sorban melilit mulut. Berusaha menghindari ajakan juga sahutan suara dari dalam. Namun, matanya tak pernah lepas dari pintu seolah ada hal yang ingin dituntaskan sejak lama. Wak Amin lantas masuk musola, membelah jamaah dan jadi pemimpin salat sore itu.  Tiada yang sudi menyambutku saat tiba, mungkin takut dengan apa yang kupakai. Padahal, biasanya jauh lebih sangar, kimono ala samurai jaman dahulu lengkap dengan pedang. Siti, ia menyebutkan namanya setelah seorang wanita paruh baya dengan wujud gentong ditelan kegelapan menyuruhnya. Perempuan itu menjelaskan beberapa hal layaknya pemandu wisata dan menanyakan semua tentangku—kuanggap sebagai suatu basa-basi. Kami sampai kamar bercahaya remang, kukatakan maksud datang hanya untuk beristirahat. Siti terlihat bingung dengan pernyataanku, alisnya bertemu dan wajahnya bersemu. Aku dapat melihat bagaimana cara ia mati, tak sanggup kukatakan pantang seorang algojo melakukan hal itu. Ia masih muda namun harus meninggalkan kehidupan yang kacau-balau. Ketika duduk ada sesuatu yang mengganjal, ternyata sebuah songkok tergeletak di sofa.
“Maaf, kemarin lelaki tua itu lupa membawa barang miliknya. Istri pertamanya menelpon, si anak diperiksa polisi sedang istri muda mengeluhkan kandungan di perut.”
Aku selipkan songkok di pinggang.
“Jadi kapan kau akan melakukan pekerjaanmu?”
“Tepat tengah malam, ketika semua orang tengah terlelap.”
“Hanya dengan sebilah pedang?” tanyanya tak percaya.
“Sebilah pedang sudah cukup untuk itu semua.”
 Siti duduk bersila sambil memandangi pedang yang kugenggam, matanya memancarkan ketakutan luar biasa. Seakan ada kepala berpisah dengan badannya. 
 “Kau harus pergi dari sini!” imbauku.
 “Ke mana? Sejak kecil ini rumahku, mami menemukanku di depan pintu ketika hujan mengguyur. Bersama sebuah kardus dan sepucuk surat.”
“Kau tak pantas mati di sini, semuanya akan habis dilahap kobaran api!”
***
Sangatlah gampang menghabisi anjing-anjing peliharaan. Sang majikan bersembunyi di balik bayangan. Tingkahnya mirip tikus, hanya saja berdasi juga setelan jas. Katana milikku bermandikan darah segar, namun cairan merah kental tersebut sirna. Jadi minuman bagi dirinya. Cukup kutinggalkan beberapa mayat di pinggir selokan, ada yang masih bernapas namun dengan susah payah. Mirip ikan paus terdampar. Selanjutnya suara tembakan, teriakan serta obor menyala menghadang langkah. Sudah kuduga mereka tidak pernah berani untuk datang sendiri.
“Apa yang kalian takutkan? Ia sendirian!” Ucap pemimpin kelompok itu, ia gendut dan hanya mengenakan kaus kutang putih. Gambar naga melilit lengannya. Satu persatu dari para pria itu melayangkan serangan, pukulan, tendangan tak mereka tahan. Beberapa percuma dan dapat dilumpuhkan dengan mudah. Ganti berondongan peluru menghujani dengan umpatan kesal dari si penembak. Pedang menangkis biji timah panas tersebut, membelahnya jadi dua. Orang-orang bengong mendapati kejadian itu, sebelum akhirnya terpisah dari batang leher. Kepala menggelinding dengan mudahnya menuju tepi sungai. Tinggal pria gendut bertato naga. Ia kelihatan gugup, melihat semua anak buahnya melayang sia-sia. Matanya seolah ingin menangis, celana pendeknya basah oleh pipis.
“Kau pasti akan mati, sialan!” ia mengambil sesuatu di saku. “Sampai jumpa di neraka.”
Benda berukuran kepalan orang dewasa itu melayang sebelum kubelah dengan pedang. Ledakannya membuat suara keras juga beberapa saat telinga tak dapat mendengar. Api membara, membakar apa yang ada. Warna merah kekuningan menjalar. Namun, aku lebih suka menggunakan kekuatan sendiri. Tapi kali ini api tidak muncul dari telapak tanganku, Melainkan dari dua mata bulat perempuan itu. Siti berjalan dengan tubuh gontai melewati jalanan yang penuh mayat bergelimpangan. Setiap kali melihat sesuatu yang ia benci, api berwarna hitam muncul dan membakar apa saja.


Mojokerto, 28 November 2017

No comments:

Post a Comment