Kawanan
Sapi
Saya
melihat hewan bertanduk itu memamah rumput di bawah pohon apel. Ia makan lahap
buah. Saya sudah mengklakson sampai kesal, namun sapi tak bergerak malah anteng
menikmati makanan. Saya tak tahu pemilik mereka siapa, ia musti disalahkan atas
keterlambatan menjemput Mae. Kotoran bertebaran, membuat jijik juga mual
pengguna jalan. Dulu, saya pikir warna di badan mereka ulah si pemilik berbekal
kuas juga cat kaleng. Pendapat lain, punggung itu dibakar agar timbul warna gosong
mirip jelaga pantat panci. Saat teman-teman mendengar pendapat saya, mereka
tertawa terpingkal-pingkal, seolah sedang mendengar lelucon. Saya merasa
sebagai orang paling bodoh di dunia, tak mengerti apa yang sudah terjadi. Sapi
itu menyingkir dari aspal sambil mengais sampah, memasukannya ke mulut lalu
memuntahkannya kembali untuk ditelan. Saya menginjak gas lebih dalam, kabur
dari kemacetan. Taman sudah dijangkiti pasangan kekasih juga para pedangang
menawarkan panganan. Bianglala raksasa berputar, di sana saya menghabiskan
malam bersama Mae. Ia mencium saya dan hidup jadi lebih membingungkan. Pasar
malam memang membawa hal-hal ajaib. Sampai kantor, wanita itu masih belum
muncul dari pintu. Mendung mulai merayap, langit berubah gelap. Mobil parkir
dekat musola kecil tersembunyi juga toilet. Baunya tak karuan, kalau bukan
karena terpaksa orang takkan masuk. Saya pikir semua wc mencerminkan manusia
itu sendiri. Tempat ibadah itu memiliki rak kecil untuk menaruh kitab, sarung
juga mukenah. Jam sudah masuk waktu magrib, tak seorang pun membangunkan saya
yang ketiduran. Kami, saya dan Mae sudah menjalin hubungan selama enam tahun.
Orang tua telah saling kenal juga bertemu. Mereka mendesak untuk menikah. Menikah adalah perkara
gampang-gampang susah. Menjalani hidup bersama satu orang sampai mati. Ibarat
kata punya satu kue besar dan jatah tinggal separuh, separuhnya untuk orang
lain. Satu kue itu akan terus berkurang bila ada penghuni lain. Mae sependapat,
ia belum siap terutama karena karirnya masih cemerlang. Ia wanita yang keras
kepala juga mandiri dalam waktu bersamaan. Kaca matanya tebal, seperti ugly betty dengan kawat gigi, saya sudah
menyuruhnya memakai kontak lensa terutama agar lebih enak dipandang. Seorang
sekretaris tentu jauh lebih menarik ketika pandai bersolek. Mae keluar dari lift dengan wajah lelah dan tak
bergairah. Saya membukakan pintu layaknya pria dalam drama negeri Gingseng. Mae
senang menontonnya sampai larut malam. Sampai lupa mematikan lampu, sampai lupa
pacarnya adalah saya. Sepanjang jalan ia bercerita banyak tentang harinya yang
buruk. Rapat yang kacau, klien tak puas dengan kesepakatan dan ditambah
direktur menyuntingnya sebagai istri simpanan. Yang terakhir membuatnya pusing
dan ingin keluar dari tempat kerja. Saya selalu mendukung apa yang terbaik
baginya, meski tak semua bisa diterima akal sehat.
Kemarin,
tiba-tiba Mae ingin operai plastik, mungkin terinspirasi aktris Korea. Sebagai
pacar saya tak langsung memberi tuduhan macam-macam juga berlebihan.
“Kenapa
kamu ingin operasi? Aku tak pernah mengeluhkan wajahmu. Apa yang membuatmu
berpikiran seperti itu?” tanya saya, Mae menggeleng cepat.
“Bukan
buat wajah.”
“Operasi
kelamin.” Goda saya. Dibalas dengan tinjuan kecil di lengan.
“Aku
ingin memerbesar ini.” telunjuknya menunjuk perkakas yang ia bawa ke mana-mana.
Saya tertawa bercampur bingung mendengar alasan Mae.
“Malah
ketawa, aku serius.” Ujarnya ketus.
“Maaf.
Kenapa memang?”
“Di
keluargaku semua wanita kebanyakan punya dada kecil.”
Saya
menghela napas, sambil menutup jendela dan memasang sabuk pengaman.
“Kemarin
ada sebuah berita di internet. Seorang wanita membunuh pacarnya ketika asyik
bercinta. Kamu tahu dengan apa? Dengan payudara untuk membekap lelaki itu.
Terang saja ia tak bisa bernapas dan polisi datang esok hari.”
Mae
diam, seolah tak percaya dengan cerita saya barusan, tampaknya ia mengurungkan
niatnya.
“Kalau
kamu berani selingkuh, aku akan memerlakukanmu begitu.” Ucapnya singkat dengan
senyum sinis.
Mobil
melewati kampus, di sana saya pertama kali bertemu Mae. Ia masih lugu dengan
dandanan cupu. Mahasiswa baru pulang kuliah, siap memenuhi warung kopi
sepanjang jalan. Hewan itu masih betah melintasi jalan yang mulai lengang.
Cahaya lampu redup, beberapa warung semi permanen berdiri, para pekerja tengah
menjual diri. Kawanan sapi berjalan dengan langkah pelan sesekali memamah apa
yang tercecer. Tak ada pengembala hendak menggeret tunggangan Dewa Siwa itu.
Saya curiga orang-orang tak peduli. Mae kelihatan gopoh, mendapati mobil mandek. Ia menekan klakson guna mengusir
hewan pemalas itu.
“Ayolah,
cuk. Tidak jalan lain apa!” umpatnya.
Senja
habis ditelan malam, tidak dicuri untuk alasan apapun, bahkan untuk pacar. Kami
sampai kosan Mae, penghuninya seolah
punya mata tajam siap untuk menusuk kapan saja. Kos campuran itu didominasi
mahasiswa juga keluarga kecil tanpa masa depan. Selain tiap hari ribut hanya
untuk perkara sepele. Mae sendiri mengaku mendengar cek-cok dan bunyi perkakas
rumah tangga dibanting. Tangisan anak kecil jadi ending dari itu semua. Saya duduk di kursi sambil menunggu Mae
mandi. Saya keluarkan buku dari dalam tas cangklong, sebuah kumpulan cerpen
dari penulis produktif. Ia seorang laki-laki cerewet—mungkin terlalu lama
sendiri, memutuskan jadi pacar dari kesunyian. Penulis itu memiliki nama
samaran untuk semua bukunya. Saya tak punya dendam tertentu padanya, selain
penulis X memberikan bacaan menggerikan bagi otak. Jika diumpamakan, kalian
takkan mau membaca untuk kedua kalinya. Tulisannya mirip iklan dalam televisi,
penonton ingin itu berlalu tanpa pernah ingat sama sekali. Saya membeli bukunya
di toko buku dengan potongan harga 99%. Diobral. Tak laku barang kali. Saking
bagusnya stok masih lengkap, debu tebal hinggap pada sampulnya. Ada beberapa
sudah diperkosa—plastiknya dibuka dengan paksa. Saya membaca buku itu bukan
karena terinspirasi atau memuja sampah hasil pikirannya. Saya bahkan tak ingat
judul cerpen penulis X yang membuat terkesan. Hambar, tawar, itu yang diperoleh
setelah membaca. Saya rasa akan membakar buku itu setibanya di rumah. Selagi memedam
kesal pada penulis X, Mae keluar dengan handuk membalut kepala. Bau Mae wangi,
habis keramas sepertinya. Aroma melati menguar dari tubuh langsing nan semampai
tersebut. Aku beranjak dari kursi, melompat ke kasur. Sambil menunggu apa yang
terjadi selanjutnya. Mae tersenyuum sembari memencet tombol lampu. Saya tak
bisa melihat apa-apa. Gelap gulita. Lenguh wanita itu laksana lembu betina
ingin kawin.
***
Sungai
mengering, hanya tersisa kubangan air dan beberapa ikan melompat. Dari sana
muncul tujuh sapi gemuk juga sapi kurus. Mereka berjalan beriringan sebelum
akhirnya tanpa diduga sama sekali. Kawanan sapi kurus menyerang sapi-sapi
gemuk, mereka bergelut diantara padang berdebu. Kawanan sapi krus berhasil
menelan sapi gemuk diakhir pertarungan. Saya bangun, menceritakan mimpi buruk
itu pada Mae. Ia tak peduli dan menarik selimut. Rambutnya terurai, mirip surai
singa. Acak-acakan tak terurus. Saya tak bisa tidur dan terus terjaga sampai
pagi hari. Mae bangun melihat saya seperti seekor panda dengan lingkaran hitam
di mata.
“Itu
hanya mimpi, tak usah dipikir serius, Ham.” Hiburnya, ia menyerahkan segelas
susu cokelat. Susu
sapi asli, bukan seperti semalam, ia menyodorkan miliknya.
“Andai
aku bisa menganggapnya seperti itu.”
“Kau
sudah gila apa?”
Saya
diam tak menjawab, Mae geleng-geleng kepala. “Apa ini ada sangkut-pautnya
dengan keputusanmu menjadi vegetarian?”
“Aku
bukan tokoh bikinan Han Kang! Aku suka makan ayam goreng sesekali dan steak.”
“Lalu?”
“Mungkin
di masa lalu, aku seekor sapi yang disembah dan dipuja karena berhasil memecah
satu masalah. Bisa juga, aku tunggangan dewa di kahyangan!” cetus saya.
Saya
tak pernah berpikir hanya makan sayuran atau rumput layaknya herbivora. Gaya hidup masa kini menuntut
seperti itu, dulu perut tak semakmur ini.
Olahraga di pagi hari, seperti berkeliling komplek dengan sepeda atau
lari tak cocok. Banyak anjing berkeliaran juga susah bangun pagi. Pergi ke
tempat kebugaran tubuh beresiko, banyak laki-laki kekar berteriak seolah akan
mengamuk. Dan, saya curiga mereka terlibat cinta lokasi. Akhirnya saya
menjalankan diet, makan dua kali sehari memerbanyak sayuran juga buah. Awalnya
memang berat, tapi hasilnya bisa dirasakan walau kawan di kantor sangsi.
Matahari di barat akan tenggelam digantikan malam, gerombolan sapi berjalan
beriringan memenuhi jalan. Pemandangan seperti ini membuat kesal para mahasiswa
yang baru pulang. Saya ingin mengusir hewan keparat itu tapi secara tiba-tiba
mereka memandang heran. Ajaibnya saya paham perkataan mereka.
“Siapa
itu?”
“Entah.
Dia bukan dari kelompok kita. Mungkin sapi yang terpisah dari kawanannya.”
“Biarkan
saja jangan cari masalah!” Ucap sapi yang lebih besar.
Pohon-pohon
apel berbuah dengan lebat, beberapa buahnya jatuh diseruduk sapi. Dari ujung
jalan sebuah sedan menghalangi jalan, klaksonnya berbunyi berkali-kali. Si
pengemudi memaki dan keluar sambil membawa sebatang kayu. Ia kemudian masuk
mobil. bercakap dengan temannya. Mae bahagia, melempar senyum pada bosnya,
sebuah cincin berlian melingkar manis di jemari. Saya ingin menanduk lelaki
gendut itu, tapi apalah daya, saya memilih mengikuti kawanan yang jauh di
depan.
Jeruk
Macan, 11 Januari 2018

No comments:
Post a Comment