Wednesday, March 21, 2018

Cerpen


Kawanan Sapi
Saya melihat hewan bertanduk itu memamah rumput di bawah pohon apel. Ia makan lahap buah. Saya sudah mengklakson sampai kesal, namun sapi tak bergerak malah anteng menikmati makanan. Saya tak tahu pemilik mereka siapa, ia musti disalahkan atas keterlambatan menjemput Mae. Kotoran bertebaran, membuat jijik juga mual pengguna jalan. Dulu, saya pikir warna di badan mereka ulah si pemilik berbekal kuas juga cat kaleng. Pendapat lain, punggung itu dibakar agar timbul warna gosong mirip jelaga pantat panci. Saat teman-teman mendengar pendapat saya, mereka tertawa terpingkal-pingkal, seolah sedang mendengar lelucon. Saya merasa sebagai orang paling bodoh di dunia, tak mengerti apa yang sudah terjadi. Sapi itu menyingkir dari aspal sambil mengais sampah, memasukannya ke mulut lalu memuntahkannya kembali untuk ditelan. Saya menginjak gas lebih dalam, kabur dari kemacetan. Taman sudah dijangkiti pasangan kekasih juga para pedangang menawarkan panganan. Bianglala raksasa berputar, di sana saya menghabiskan malam bersama Mae. Ia mencium saya dan hidup jadi lebih membingungkan. Pasar malam memang membawa hal-hal ajaib. Sampai kantor, wanita itu masih belum muncul dari pintu. Mendung mulai merayap, langit berubah gelap. Mobil parkir dekat musola kecil tersembunyi juga toilet. Baunya tak karuan, kalau bukan karena terpaksa orang takkan masuk. Saya pikir semua wc mencerminkan manusia itu sendiri. Tempat ibadah itu memiliki rak kecil untuk menaruh kitab, sarung juga mukenah. Jam sudah masuk waktu magrib, tak seorang pun membangunkan saya yang ketiduran. Kami, saya dan Mae sudah menjalin hubungan selama enam tahun. Orang tua telah saling kenal juga bertemu. Mereka mendesak untuk  menikah. Menikah adalah perkara gampang-gampang susah. Menjalani hidup bersama satu orang sampai mati. Ibarat kata punya satu kue besar dan jatah tinggal separuh, separuhnya untuk orang lain. Satu kue itu akan terus berkurang bila ada penghuni lain. Mae sependapat, ia belum siap terutama karena karirnya masih cemerlang. Ia wanita yang keras kepala juga mandiri dalam waktu bersamaan. Kaca matanya tebal, seperti ugly betty dengan kawat gigi, saya sudah menyuruhnya memakai kontak lensa terutama agar lebih enak dipandang. Seorang sekretaris tentu jauh lebih menarik ketika pandai bersolek. Mae keluar dari lift dengan wajah lelah dan tak bergairah. Saya membukakan pintu layaknya pria dalam drama negeri Gingseng. Mae senang menontonnya sampai larut malam. Sampai lupa mematikan lampu, sampai lupa pacarnya adalah saya. Sepanjang jalan ia bercerita banyak tentang harinya yang buruk. Rapat yang kacau, klien tak puas dengan kesepakatan dan ditambah direktur menyuntingnya sebagai istri simpanan. Yang terakhir membuatnya pusing dan ingin keluar dari tempat kerja. Saya selalu mendukung apa yang terbaik baginya, meski tak semua bisa diterima akal sehat. 
Kemarin, tiba-tiba Mae ingin operai plastik, mungkin terinspirasi aktris Korea. Sebagai pacar saya tak langsung memberi tuduhan macam-macam juga berlebihan.
“Kenapa kamu ingin operasi? Aku tak pernah mengeluhkan wajahmu. Apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?” tanya saya, Mae menggeleng cepat.
“Bukan buat wajah.”                                                                                       
“Operasi kelamin.” Goda saya. Dibalas dengan tinjuan kecil di lengan.
“Aku ingin memerbesar ini.” telunjuknya menunjuk perkakas yang ia bawa ke mana-mana. Saya tertawa bercampur bingung mendengar alasan Mae.
“Malah ketawa, aku serius.” Ujarnya ketus.
“Maaf. Kenapa memang?”
“Di keluargaku semua wanita kebanyakan punya dada kecil.”
Saya menghela napas, sambil menutup jendela dan memasang sabuk pengaman.
“Kemarin ada sebuah berita di internet. Seorang wanita membunuh pacarnya ketika asyik bercinta. Kamu tahu dengan apa? Dengan payudara untuk membekap lelaki itu. Terang saja ia tak bisa bernapas dan polisi datang esok hari.”
Mae diam, seolah tak percaya dengan cerita saya barusan, tampaknya ia mengurungkan niatnya.
“Kalau kamu berani selingkuh, aku akan memerlakukanmu begitu.” Ucapnya singkat dengan senyum sinis.
Mobil melewati kampus, di sana saya pertama kali bertemu Mae. Ia masih lugu dengan dandanan cupu. Mahasiswa baru pulang kuliah, siap memenuhi warung kopi sepanjang jalan. Hewan itu masih betah melintasi jalan yang mulai lengang. Cahaya lampu redup, beberapa warung semi permanen berdiri, para pekerja tengah menjual diri. Kawanan sapi berjalan dengan langkah pelan sesekali memamah apa yang tercecer. Tak ada pengembala hendak menggeret tunggangan Dewa Siwa itu. Saya curiga orang-orang tak peduli. Mae kelihatan gopoh, mendapati mobil mandek. Ia menekan klakson guna mengusir hewan pemalas itu.
“Ayolah, cuk. Tidak jalan lain apa!” umpatnya.
Senja habis ditelan malam, tidak dicuri untuk alasan apapun, bahkan untuk pacar. Kami sampai  kosan Mae, penghuninya seolah punya mata tajam siap untuk menusuk kapan saja. Kos campuran itu didominasi mahasiswa juga keluarga kecil tanpa masa depan. Selain tiap hari ribut hanya untuk perkara sepele. Mae sendiri mengaku mendengar cek-cok dan bunyi perkakas rumah tangga dibanting. Tangisan anak kecil jadi ending dari itu semua. Saya duduk di kursi sambil menunggu Mae mandi. Saya keluarkan buku dari dalam tas cangklong, sebuah kumpulan cerpen dari penulis produktif. Ia seorang laki-laki cerewet—mungkin terlalu lama sendiri, memutuskan jadi pacar dari kesunyian. Penulis itu memiliki nama samaran untuk semua bukunya. Saya tak punya dendam tertentu padanya, selain penulis X memberikan bacaan menggerikan bagi otak. Jika diumpamakan, kalian takkan mau membaca untuk kedua kalinya. Tulisannya mirip iklan dalam televisi, penonton ingin itu berlalu tanpa pernah ingat sama sekali. Saya membeli bukunya di toko buku dengan potongan harga 99%. Diobral. Tak laku barang kali. Saking bagusnya stok masih lengkap, debu tebal hinggap pada sampulnya. Ada beberapa sudah diperkosa—plastiknya dibuka dengan paksa. Saya membaca buku itu bukan karena terinspirasi atau memuja sampah hasil pikirannya. Saya bahkan tak ingat judul cerpen penulis X yang membuat terkesan. Hambar, tawar, itu yang diperoleh setelah membaca. Saya rasa akan membakar buku itu setibanya di rumah. Selagi memedam kesal pada penulis X, Mae keluar dengan handuk membalut kepala. Bau Mae wangi, habis keramas sepertinya. Aroma melati menguar dari tubuh langsing nan semampai tersebut. Aku beranjak dari kursi, melompat ke kasur. Sambil menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Mae tersenyuum sembari memencet tombol lampu. Saya tak bisa melihat apa-apa. Gelap gulita. Lenguh wanita itu laksana lembu betina ingin kawin.
***
Sungai mengering, hanya tersisa kubangan air dan beberapa ikan melompat. Dari sana muncul tujuh sapi gemuk juga sapi kurus. Mereka berjalan beriringan sebelum akhirnya tanpa diduga sama sekali. Kawanan sapi kurus menyerang sapi-sapi gemuk, mereka bergelut diantara padang berdebu. Kawanan sapi krus berhasil menelan sapi gemuk diakhir pertarungan. Saya bangun, menceritakan mimpi buruk itu pada Mae. Ia tak peduli dan menarik selimut. Rambutnya terurai, mirip surai singa. Acak-acakan tak terurus. Saya tak bisa tidur dan terus terjaga sampai pagi hari. Mae bangun melihat saya seperti seekor panda dengan lingkaran hitam di mata.
“Itu hanya mimpi, tak usah dipikir serius, Ham.” Hiburnya, ia menyerahkan segelas susu cokelat. Susu sapi asli, bukan seperti semalam, ia menyodorkan miliknya.
“Andai aku bisa menganggapnya seperti itu.”
“Kau sudah gila apa?”
Saya diam tak menjawab, Mae geleng-geleng kepala. “Apa ini ada sangkut-pautnya dengan keputusanmu menjadi vegetarian?”
“Aku bukan tokoh bikinan Han Kang! Aku suka makan ayam goreng sesekali dan steak.”
“Lalu?”
“Mungkin di masa lalu, aku seekor sapi yang disembah dan dipuja karena berhasil memecah satu masalah. Bisa juga, aku tunggangan dewa di kahyangan!” cetus saya.
Saya tak pernah berpikir hanya makan sayuran atau rumput layaknya herbivora. Gaya hidup masa kini menuntut seperti itu, dulu perut tak semakmur ini.  Olahraga di pagi hari, seperti berkeliling komplek dengan sepeda atau lari tak cocok. Banyak anjing berkeliaran juga susah bangun pagi. Pergi ke tempat kebugaran tubuh beresiko, banyak laki-laki kekar berteriak seolah akan mengamuk. Dan, saya curiga mereka terlibat cinta lokasi. Akhirnya saya menjalankan diet, makan dua kali sehari memerbanyak sayuran juga buah. Awalnya memang berat, tapi hasilnya bisa dirasakan walau kawan di kantor sangsi. Matahari di barat akan tenggelam digantikan malam, gerombolan sapi berjalan beriringan memenuhi jalan. Pemandangan seperti ini membuat kesal para mahasiswa yang baru pulang. Saya ingin mengusir hewan keparat itu tapi secara tiba-tiba mereka memandang heran. Ajaibnya saya paham perkataan mereka.
“Siapa itu?”
“Entah. Dia bukan dari kelompok kita. Mungkin sapi yang terpisah dari kawanannya.”
“Biarkan saja jangan cari masalah!” Ucap sapi yang lebih besar.
Pohon-pohon apel berbuah dengan lebat, beberapa buahnya jatuh diseruduk sapi. Dari ujung jalan sebuah sedan menghalangi jalan, klaksonnya berbunyi berkali-kali. Si pengemudi memaki dan keluar sambil membawa sebatang kayu. Ia kemudian masuk mobil. bercakap dengan temannya. Mae bahagia, melempar senyum pada bosnya, sebuah cincin berlian melingkar manis di jemari. Saya ingin menanduk lelaki gendut itu, tapi apalah daya, saya memilih mengikuti kawanan yang jauh di depan.  


Jeruk Macan, 11 Januari 2018

No comments:

Post a Comment