Melayang
Entah
sudah berapa lama keberangkatan ditunda. Calon penumpang sudah kehilangan
kesabaran, berdiri depan loket sambil menuntut uang dikembalikan. Yang punya
rejeki lebih tampak santai memegang gawai, menelpon bahwa rapat diundur, mereka
kebanyakan memakai setelan jas. Aku mungkin terlalu sok tahu dengan
menceritakan ihwal itu, sesungguhnya aku juga bagian dari pelanggan yang
kecewa. Aku selalu menggunakan maskapai ini, karena terkenal murah dan selalu
memberi kepuasan. Sebelum ada kejadian pesawat jatuh lalu tidak diketemukan. Penjual
tiket meyakinkan ada masalah teknis sehingga jadwal kocar-kacir. Ia terlihat
berkeringat juga cemas, takut sewaktu-waktu massa berubah pikiran dan membakar
seisi bandara. Bosnya tentu tenang di pucuk kepemimpinan, tanpa takut dipukuli
penumpang, tinggal terbang ke luar negeri. Meninggalkan segala masalah juga
pesangon yang belum dibayar. Sementara orang-orang menggelar tikar, menyantap
makan siang atau tidur dengan keluarga.
Aku duduk sambil mendengarkan lagu dan membaca buku. Buku dari penulis X
sungguh luar biasa membosankan. Ditulis dengan terburu-buru juga diburu waktu.
Editornya begitu kejam, demi meraup untung menerbitkan naskah mentah menjadi
buku dan terpampang di etalase. Beberapa kata juga informasi di dalamnya
simpang siur, mungkin penulisnya lebih suka menggunakan Google ketimbang pergi ke perpustakaan kota. Perpustakaan yang
selalu sepi pengunjung karena keberadaan mall dekat stasiun. Penulis X aktif di
sosial media membagikan pendapatnya dalam bentuk tulisan, kebanyakan hanya
pendapat pribadi yang menyudutkan dan tak ingin dibantah. Pengikutnya ratusan,
tak satupun dari mereka menolak pendapat penulis X bagai semua kata-katanya
adalah firman Tuhan. Aku terkadang heran, masih banyak orang percaya bualan
juga ucapannya. Aku hampir tidak bisa membedakan beda antara penulis X dengan
motivator selain dia menulis cerita sedangkan motivator tidak. Waktu sudah beranjak sore, orang-orang beberapa
memilih pulang ketimbang jadi gelandangan. Mereka akan kembali esok hari
menuntut hak juga ganti rugi. Terdengar umpatan dari kerumunan itu sebelum
keluar dari pintu bandara. Beberapa yang tak punya uang untuk menyewa hotel
tetap beratahan di lobi. Satpam sepertinya segan mengusir mereka, apalagi
pemimpinnya sudah memberi perintah hanya mengawasi bukan mengusir. Wartawan
sudah pergi sedari tadi setelah berhasil meliput warta. Tulisan itu masuk meja
editor lalu redaktur penanggung jawab sebelum naik cetak malam nanti. Koran-koran
akan penuh dengan sindiran terhadap pemerintah dan maskapai penerbangan. Aku
yang mengantuk terbangun, mendengar bunyi pengumuman dari pengeras suara yang
menyatakan bahwa penerbangan menuju Jakarta segera berangkat. Sontak aku lekas
meraih tas dan mencari pintu keberangkatan. Namun, orang-orang sudah
berkerumun, tak ingin ketinggalan pesawat. Sementara aku menarik napas dalam-dalam
juga mengumpulkan tenaga. Dari
dalam pesawat kupandangi langit malam yang gelap, gumpalan kapas tebal
menyelimuti angkasa. Aku pikir bintang sudah teramat dekat dengan penglihatan
tapi itu hanya ilusi saja. Bunyi mesin pesawat terdengar bising, seperti mixer untuk mengocok kue, namun
ukurannya raksasa. Pramugari cantik jelita menyuruh kami memasang sabuk pengaman,
ia memberi intruksi jelas. Mata laki-laki sibuk menelanjangi tubuh sintal nan
jenjang itu, berharap saat mendarat di tanah, bisa membawa ke diskotek atau
hotel melati. Berada di udara membuat perasaan was-was, terutama tak satu pun
yang bisa menolong bila ada kerusakan mesin. Dan, seluruh penumpang jatuh
menubruk gunung atau tenggelam di laut. Tim sar yang mencari puing bangkai
pesawat beserta Black Box, belum
mesti ketemu dengan jasad penumpang yang tak jelas nasibnya, dimakan hiu atau
membusuk dipatuki gagak. Meski namanya kotak hitam, kotak itu bukan berwarna
hitam, malahan jingga. Aku tak tahu siapa penemu teknologi tersebut, kurasa ia
menderita buta warna. Oleh sebab itu Ayah-Ibu sedikit khawatir terutama berita
akhir-akhir ini mengenai kecelakaan terbang. Mereka membujuk untuk ganti
tranportasi lain saja. Sebenarnya pesawat bukan pilihan utamaku untuk
bepergian, ia jadi opsi terakhir ditilik dari biaya juga keterdesakan. Aku
sudah memesan tiket kereta jauh-jauh hari, berkaca dari perjalanan jogja untuk
menghadiri acara kepenulisan. Kereta cukup nyaman untuk jarak jauh, bebas macet
dan jarang terlambat jadwalnya. Tapi panitia menghubungi bahwa acara dimajukan,
aku jadi kalang kabut hendak menukar tiket sayang tak ada jadwal yang sesuai.
Kuputuskan naik bis dari terminal Bungurasih. Memang merepotkan, harus oper bus,
setidaknya biayanya lumayan murah ketimbang naik pesawat. Belum keluar dari
terminal, kendaraan berhenti karena beberapa supir bus menyetop. Ada demo
menuntut kelayakan gaji dan tunjangan kesehatan bagi karyawan bus. Penumpang diturunkan
paksa, aku merutuki kesialan yang datang beruntun. Begitulah hingga aku di sini
melayang di atas awan, berharap selamat sampai tujuan. Di keluargaku yang
pernah menaiki burung besi adalah paman dari Ayah, ia laki-laki jenius sampai
perusahaan mengirimnya ke negeri Sakura. Paman bertugas mengelas bagian-bagian
kapal untuk disatukan utuh. Gajinya memang cukup besar, namun hawa panas juga
bau asap las membuat sesak napas dan badan terasa dipanggang dalam oven.
Terakhir, Kakek-Nenek demi mengunjungi tanah nabi. Mereka sudah mengumpulkan
uang juga waktu, menunggu keberangkatan yang semakin lama. Kami sampai khawatir
keduanya tak punya umur panjang dan batal menjalankan ibadah haji. Aku pun
sempat kagok ketika pertama kali terbang, seperti malam pertama saja. Meski
faktanya aku belum menikah. Lepas landas tubuh seolah tertarik ke belakang
karena dorongan pesawat. Peristiwa itu membuatku menderita jetlag beberapa saat. Mata rasanya tak ingin terbuka, tubuh seolah
ditumpuki karung berkilo-kilo.
***
Nampaknya,
satu-satunya keberuntunganku hari ini adalah bertemu Sinta. Ia salah satu
tumpuan maskapai dalam pelayanan penumpang. Wanita itu ramah, senyumnya memikat
dengan alis tajam mirip semut berbaris. Dari beberapa pramugari pesawat Sinta
yang paling muda, masih kalah jam terbang dibanding Dona, pramugari dengan wajah
ditekuk dan pandangan menusuk. Mungkin ia belum pernah pacaran atau tak ada
seorang pria yang mau. Kalaupun ada laki-laki itu berkeluarga dan tak segarang
waktu muda. Aku duduk di kursi sebelum toilet, Sinta datang membawa troli
berisi beberapa hidangan juga minuman. Sayangnya aku makan sedikit sedari tadi.
Perut mual, mungkin tak cocok dengan kondisi di atas. Kursi di sebelahku
kosong, ia duduk mengembuskan napas panjang. Sinta terlihat tak nyaman dengan
pekerjaannya. Bagaimana aku bisa
menikmati jika dipelototi om-om mata keranjang? Ungkapnya. Aku hanya
tertawa kecil melihatnya mengeluh, ia mengganti topik pembicaraan, bertanya ada
urusan apa aku ke Jakarta. Kujawab saja, aku seorang penulis, penerbit
memanggil untuk urusan kontrak buku juga ada sebuah festival sastra yang ingin
kuhadiri. Sinta mengangguk pelan, demi kesopanan meski terlihat tidak mengerti.
Ia pun kembali bertanya, kalau penulis
sudah pasti digilai banyak wanita apalagi penyair. Aku tersenyum kecut,
kukatakan terus terang ke padanya, bahwa aku masih melajang dan belum punya
pasangan. Ia tak percaya sambil tertawa mengejek peryataanku. Aku tiba-tiba
ingin ke kamar kecil. Di sana kulihat Dona masuk ke dalam, sayangnya itu toilet
laki-laki. Aku tak percaya dia mahluk jadi-jadian. Karena penasaran kudekatkan
telinga ke pintu. Ada suara laki-laki dan perempuan tengah mendesah. Sepertinya
pertarungan seru terjadi di dalam. Kuputuskan kembali ke tempat duduk,
ketimbang mengurusi urusan orang. Sinta yang melihatku seolah paham apa yang
terjadi. Ia duduk sambil memainkan pemutar musik di ponsel. Dona sering melakukannya ketika tak punya
uang, celetuknya. Hal serupa juga muncul di pikiranku, apa Sinta juga
melakukan hal yang sama? Aku
bangun dengan kepala pusing, tampak dunia beputar di mataku. Aku seperti bayi
yang baru lahir ke dunia tanpa sehelai kain. Kulit rasanya sejuk, juga tubuh
lemah tanpa memiliki daya. Di sampingku, Sinta masih terlelap dengan mulut
terbuka. Perempuan cantik juga bisa begitu ternyata. Aku mencoba mengingat apa
yang terjadi semalam. Seusai landing di
bandara, mataku berkunang dan Sinta menawarkan bantuan. Kami sampai di hotel,
memesan kamar lumayan murah. Dan,
mungkin ini pengaruh minuman semalam. Aku tak pernah minum anggur sebelumnya,
kebanyakan makan anggur. Awalnya kami masih waras dan bicara normal. Namun,
pada akhirnya terjadi hal itu. Nasi sudah jadi nasi goreng, tidak bisa menjadi
beras atau bubur. Aku mungkin harus membuka tabungan di ATM. Sinta bangun
dengan gelagat malas, ia berdiri membiarkan tubuh itu disinari matahari pagi. Kemudian
menuju kamar mandi, suara wanita itu seolah membangkitkan sesuatu di balik
selimut. Sinta keluar dengan handuk melilit lalu memakai seragam pramugari. Aku
melihat pemandangan itu dengan mata tak berkedip. Ia menatapku dengan kepala
geleng-geleng juga senyuman mengejek. Aku
pergi dulu, katanya. Aku segera sadar berusaha mencegah. Kalau kamu mau bertanggung jawab. Ada dua
pilihan : mendatangi orang tuaku atau membayarku dengan uang layaknya Dona?
Tapi satu yang kamu harus tahu wanita tak
bisa menyerahkan sesuatu tanpa adanya cinta. Cinta terhadap materi misalnya. Sinta
melenggang pergi dan menutup pintu.
Jeruk
Macan, 14 Februari 2018

No comments:
Post a Comment