Wednesday, March 21, 2018

Cerpen

Melayang
Entah sudah berapa lama keberangkatan ditunda. Calon penumpang sudah kehilangan kesabaran, berdiri depan loket sambil menuntut uang dikembalikan. Yang punya rejeki lebih tampak santai memegang gawai, menelpon bahwa rapat diundur, mereka kebanyakan memakai setelan jas. Aku mungkin terlalu sok tahu dengan menceritakan ihwal itu, sesungguhnya aku juga bagian dari pelanggan yang kecewa. Aku selalu menggunakan maskapai ini, karena terkenal murah dan selalu memberi kepuasan. Sebelum ada kejadian pesawat jatuh lalu tidak diketemukan. Penjual tiket meyakinkan ada masalah teknis sehingga jadwal kocar-kacir. Ia terlihat berkeringat juga cemas, takut sewaktu-waktu massa berubah pikiran dan membakar seisi bandara. Bosnya tentu tenang di pucuk kepemimpinan, tanpa takut dipukuli penumpang, tinggal terbang ke luar negeri. Meninggalkan segala masalah juga pesangon yang belum dibayar. Sementara orang-orang menggelar tikar, menyantap makan siang atau tidur dengan  keluarga. Aku duduk sambil mendengarkan lagu dan membaca buku. Buku dari penulis X sungguh luar biasa membosankan. Ditulis dengan terburu-buru juga diburu waktu. Editornya begitu kejam, demi meraup untung menerbitkan naskah mentah menjadi buku dan terpampang di etalase. Beberapa kata juga informasi di dalamnya simpang siur, mungkin penulisnya lebih suka menggunakan Google ketimbang pergi ke perpustakaan kota. Perpustakaan yang selalu sepi pengunjung karena keberadaan mall dekat stasiun. Penulis X aktif di sosial media membagikan pendapatnya dalam bentuk tulisan, kebanyakan hanya pendapat pribadi yang menyudutkan dan tak ingin dibantah. Pengikutnya ratusan, tak satupun dari mereka menolak pendapat penulis X bagai semua kata-katanya adalah firman Tuhan. Aku terkadang heran, masih banyak orang percaya bualan juga ucapannya. Aku hampir tidak bisa membedakan beda antara penulis X dengan motivator selain dia menulis cerita sedangkan motivator tidak. Waktu   sudah beranjak sore, orang-orang beberapa memilih pulang ketimbang jadi gelandangan. Mereka akan kembali esok hari menuntut hak juga ganti rugi. Terdengar umpatan dari kerumunan itu sebelum keluar dari pintu bandara. Beberapa yang tak punya uang untuk menyewa hotel tetap beratahan di lobi. Satpam sepertinya segan mengusir mereka, apalagi pemimpinnya sudah memberi perintah hanya mengawasi bukan mengusir. Wartawan sudah pergi sedari tadi setelah berhasil meliput warta. Tulisan itu masuk meja editor lalu redaktur penanggung jawab sebelum naik cetak malam nanti. Koran-koran akan penuh dengan sindiran terhadap pemerintah dan maskapai penerbangan. Aku yang mengantuk terbangun, mendengar bunyi pengumuman dari pengeras suara yang menyatakan bahwa penerbangan menuju Jakarta segera berangkat. Sontak aku lekas meraih tas dan mencari pintu keberangkatan. Namun, orang-orang sudah berkerumun, tak ingin ketinggalan pesawat. Sementara aku menarik napas dalam-dalam juga mengumpulkan tenaga. Dari dalam pesawat kupandangi langit malam yang gelap, gumpalan kapas tebal menyelimuti angkasa. Aku pikir bintang sudah teramat dekat dengan penglihatan tapi itu hanya ilusi saja. Bunyi mesin pesawat terdengar bising, seperti mixer untuk mengocok kue, namun ukurannya raksasa. Pramugari cantik jelita menyuruh kami memasang sabuk pengaman, ia memberi intruksi jelas. Mata laki-laki sibuk menelanjangi tubuh sintal nan jenjang itu, berharap saat mendarat di tanah, bisa membawa ke diskotek atau hotel melati. Berada di udara membuat perasaan was-was, terutama tak satu pun yang bisa menolong bila ada kerusakan mesin. Dan, seluruh penumpang jatuh menubruk gunung atau tenggelam di laut. Tim sar yang mencari puing bangkai pesawat beserta Black Box, belum mesti ketemu dengan jasad penumpang yang tak jelas nasibnya, dimakan hiu atau membusuk dipatuki gagak. Meski namanya kotak hitam, kotak itu bukan berwarna hitam, malahan jingga. Aku tak tahu siapa penemu teknologi tersebut, kurasa ia menderita buta warna. Oleh sebab itu Ayah-Ibu sedikit khawatir terutama berita akhir-akhir ini mengenai kecelakaan terbang. Mereka membujuk untuk ganti tranportasi lain saja. Sebenarnya pesawat bukan pilihan utamaku untuk bepergian, ia jadi opsi terakhir ditilik dari biaya juga keterdesakan. Aku sudah memesan tiket kereta jauh-jauh hari, berkaca dari perjalanan jogja untuk menghadiri acara kepenulisan. Kereta cukup nyaman untuk jarak jauh, bebas macet dan jarang terlambat jadwalnya. Tapi panitia menghubungi bahwa acara dimajukan, aku jadi kalang kabut hendak menukar tiket sayang tak ada jadwal yang sesuai. Kuputuskan naik bis dari terminal Bungurasih. Memang merepotkan, harus oper bus, setidaknya biayanya lumayan murah ketimbang naik pesawat. Belum keluar dari terminal, kendaraan berhenti karena beberapa supir bus menyetop. Ada demo menuntut kelayakan gaji dan tunjangan kesehatan bagi karyawan bus. Penumpang diturunkan paksa, aku merutuki kesialan yang datang beruntun. Begitulah hingga aku di sini melayang di atas awan, berharap selamat sampai tujuan. Di keluargaku yang pernah menaiki burung besi adalah paman dari Ayah, ia laki-laki jenius sampai perusahaan mengirimnya ke negeri Sakura. Paman bertugas mengelas bagian-bagian kapal untuk disatukan utuh. Gajinya memang cukup besar, namun hawa panas juga bau asap las membuat sesak napas dan badan terasa dipanggang dalam oven. Terakhir, Kakek-Nenek demi mengunjungi tanah nabi. Mereka sudah mengumpulkan uang juga waktu, menunggu keberangkatan yang semakin lama. Kami sampai khawatir keduanya tak punya umur panjang dan batal menjalankan ibadah haji. Aku pun sempat kagok ketika pertama kali terbang, seperti malam pertama saja. Meski faktanya aku belum menikah. Lepas landas tubuh seolah tertarik ke belakang karena dorongan pesawat. Peristiwa itu membuatku menderita jetlag beberapa saat. Mata rasanya tak ingin terbuka, tubuh seolah ditumpuki karung berkilo-kilo.
***
Nampaknya, satu-satunya keberuntunganku hari ini adalah bertemu Sinta. Ia salah satu tumpuan maskapai dalam pelayanan penumpang. Wanita itu ramah, senyumnya memikat dengan alis tajam mirip semut berbaris. Dari beberapa pramugari pesawat Sinta yang paling muda, masih kalah jam terbang dibanding Dona, pramugari dengan wajah ditekuk dan pandangan menusuk. Mungkin ia belum pernah pacaran atau tak ada seorang pria yang mau. Kalaupun ada laki-laki itu berkeluarga dan tak segarang waktu muda. Aku duduk di kursi sebelum toilet, Sinta datang membawa troli berisi beberapa hidangan juga minuman. Sayangnya aku makan sedikit sedari tadi. Perut mual, mungkin tak cocok dengan kondisi di atas. Kursi di sebelahku kosong, ia duduk mengembuskan napas panjang. Sinta terlihat tak nyaman dengan pekerjaannya. Bagaimana aku bisa menikmati jika dipelototi om-om mata keranjang? Ungkapnya. Aku hanya tertawa kecil melihatnya mengeluh, ia mengganti topik pembicaraan, bertanya ada urusan apa aku ke Jakarta. Kujawab saja, aku seorang penulis, penerbit memanggil untuk urusan kontrak buku juga ada sebuah festival sastra yang ingin kuhadiri. Sinta mengangguk pelan, demi kesopanan meski terlihat tidak mengerti. Ia pun kembali bertanya, kalau penulis sudah pasti digilai banyak wanita apalagi penyair. Aku tersenyum kecut, kukatakan terus terang ke padanya, bahwa aku masih melajang dan belum punya pasangan. Ia tak percaya sambil tertawa mengejek peryataanku. Aku tiba-tiba ingin ke kamar kecil. Di sana kulihat Dona masuk ke dalam, sayangnya itu toilet laki-laki. Aku tak percaya dia mahluk jadi-jadian. Karena penasaran kudekatkan telinga ke pintu. Ada suara laki-laki dan perempuan tengah mendesah. Sepertinya pertarungan seru terjadi di dalam. Kuputuskan kembali ke tempat duduk, ketimbang mengurusi urusan orang. Sinta yang melihatku seolah paham apa yang terjadi. Ia duduk sambil memainkan pemutar musik di ponsel. Dona sering melakukannya ketika tak punya uang, celetuknya. Hal serupa juga muncul di pikiranku, apa Sinta juga melakukan hal yang sama? Aku bangun dengan kepala pusing, tampak dunia beputar di mataku. Aku seperti bayi yang baru lahir ke dunia tanpa sehelai kain. Kulit rasanya sejuk, juga tubuh lemah tanpa memiliki daya. Di sampingku, Sinta masih terlelap dengan mulut terbuka. Perempuan cantik juga bisa begitu ternyata. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Seusai landing di bandara, mataku berkunang dan Sinta menawarkan bantuan. Kami sampai di hotel, memesan kamar lumayan murah. Dan, mungkin ini pengaruh minuman semalam. Aku tak pernah minum anggur sebelumnya, kebanyakan makan anggur. Awalnya kami masih waras dan bicara normal. Namun, pada akhirnya terjadi hal itu. Nasi sudah jadi nasi goreng, tidak bisa menjadi beras atau bubur. Aku mungkin harus membuka tabungan di ATM. Sinta bangun dengan gelagat malas, ia berdiri membiarkan tubuh itu disinari matahari pagi. Kemudian menuju kamar mandi, suara wanita itu seolah membangkitkan sesuatu di balik selimut. Sinta keluar dengan handuk melilit lalu memakai seragam pramugari. Aku melihat pemandangan itu dengan mata tak berkedip. Ia menatapku dengan kepala geleng-geleng juga senyuman mengejek. Aku pergi dulu, katanya. Aku segera sadar berusaha mencegah. Kalau kamu mau bertanggung jawab. Ada dua pilihan : mendatangi orang tuaku atau membayarku dengan uang layaknya Dona? Tapi satu yang kamu harus tahu wanita tak bisa menyerahkan sesuatu tanpa adanya cinta. Cinta terhadap materi misalnya. Sinta melenggang pergi dan menutup pintu.
Jeruk Macan, 14 Februari 2018 

No comments:

Post a Comment