Sunday, July 17, 2016

Esai



Warung Kopi dan Sastra

Kami sepakat bertemu di sebuah warung kopi dekat kampus. Malam itu amat cerah dan tak ada tanda-tanda akan hujan. Sejujurnya badan telah letih berkendara di jalan, meski jarak dari rumah tak teramat jauh. Butuh lima belas menit kiranya untuk sampai tujuan. Tempat itu lengang saja, hanya ada dua laki-laki tengah bergelut dengan laptop. Kenalan memesan es the untuk kami berdua. Ia menawarkan sebatang sigaret pada saya, namun saya tampik dengan halus. Obrolan diawalinya dengan bertanya, bagaimana proses kreatif saya dalam menulis cerita. Ia bukan orang pertama yang mengajukan pertanyaan itu. Saya jawab, mudah saja dengan menulis sesuatu hal biasa namun harus mengambil bagian menarik darinya. Contoh gampangnya, dalam cerpen “Terompet” yang saya tulis dan dimuat Koran ini pada tanggal 11 Oktober 2015. Cerita pendek itu mengulas seorang laki-laki yang amat muak dengan pesta tahun baru, ia seorang karyawan dengan problema hidup yang mendera. Cerita itu amat umum dan mungkin sering dialami banyak orang. Universal. Apa yang membuatnya menarik? Saya menyisipkan konflik juga alur campuran dalam penggarapannya. Dan, pada akhir cerita ada twist ending yang mungkin dapat diterka sebagian pembaca. Kenalan saya hanya manggut-mangut. Ia berkata tahun ini akan membuat sebuah antologi cerpen berduet dengan seorang teman penulis naskah drama. Tentu rencana yang sangat ambisius kiranya, terlebih kenalan saya mahasiswa jurusan sastra Indonesia. Saya belajar banyak darinya tentang teori-teori sastra. Ia mengaku kesulitan dalam membuat karya tulis, katanya takut jelek atau kurang bermutu. Saya tergelak tak menyangka sama sekali. Butuh waktu, inspirasi dan mood untuk menulis, ungkapnya.  Menulis memang suatu kebiasaan, kalau belum terbiasa akan mandek jadinya. Baru-baru ini ia mengajak saya mengikuti workshop menulis cerpen yang diadakan Wina Bojonegoro sabanSelasa sore di kedai kreasi. Kedai itu sangat unik karena pelbagai acara seperti bedah buku dan pembacaan puisi cukup rutin diadakan. Ia bagai oase di tengah masyarakat yang “haus dan lapar” oleh sastra. Obrolan pun beralih pada nama mana yang cerpennya bakal jadi terbaik Kompas tahun ini. Deretan nama-nama lama kerap muncul tiap tahun juga kami perhitungkan: Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, Ahmad Tohari, Triwiyanto Triwikromo. Juga dari golongan  muda seperti Anggun Prameswari, Faisal Oddang dan Guntur Alam. Tahun lalu, Faisal Oddang menjadi kampiun di antara banyaknya pesohor lain. Ia juga menjadi Juara 4 sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, lewat novelnya “Puya ke Puya”. Ngomong-ngomong soal sayembara novel DKJ yang rutin diadakan dua tahun sekali, saya menantangnya menulis naskah novel untuk lomba itu. Ia hanya menyeringai, dan bilang diusahakan. Tantangan itu sebetulnya ditujukan untuk kami berdua demi mengukur sejauh mana kemajuan dalam mengarang cerita. Cerita menarik bias kita nikmati secara mudah lewat film, bila malas membaca halaman novel yang cukup tebal dan membuat mata lelah. Ia mempromosikan karya-karya Cristopher Nolan sebagai unggulan. Terutama film “The Dark Knight” yang menurutnya memiliki pemeran Joker yang takkan terganti dan menjiwai. Banyak film Nolan dipuji kritikus memiliki penggarapan bagus dengan ide cemerlang bahkan mengangkat tema fiksi ilmiah, seperti: Inception juga Interstellar. Dia juga tak lupa menyuruh saya menonton “Memento” karya Nolan yang alurnya tidak kami kira bias dibuat untuk menulis cerita. Obrolan malam itu berakhir, ketika warung kopi hendak tutup dan kami pulang dengan berbagai macam rencana berputar di pikiran.
Surabaya, 20 Juni 2016
Radar Mojokerto, 17 Juli 2016

2 comments:

  1. bagus tulisannya ^-^
    bahasanya agak kaku, atau memang gaya tulisan kamu kaya gini? hehe.
    Tapi suka kok :)

    ada typo es the, seharusnya es teh kan? :)
    ini aku tarii

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas masukannya Mbak Tari. Gaya tulisan saya sejauh ini memang seperti itu. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi :)

    ReplyDelete